Flakes merupakan adonan sereal yang berawal dari tepung digunakan untuk makanan siap saji yang selanjutnya dibuat dalam bentuk serpihan. Sereal berbentuk flakes pada umumnya berbahan dasar jagung dan gandum. Namun tiga mahasiswa Upgris ini membuatnya dari umbi-umbian. Ketiga mahasiswa inovatif itu adalah Rizki Bhakti Pertiwi, Ria Ulfiasari, dan Anita Kurniawati. Mereka membuat produk bernama U’Flakes yang berasal dari umbi.
“Produk ini kami pilih karena adanya pengolahan produk yang kekinian, serta dengan bahan olahan lokal yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat,” kata ketua tim Rizki Bhakti Pertiwi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (21/12/2021).
Dijelaskan, untuk pembuatannya, flakes dari umbi dapat dibuat melalui tiga tahapan utama. Masing-masing tahapan berpengaruh pada rendemen flakes. Proses yang dilakukan kali pertama adalah pencucian dan pengupasan. Proses selanjutnya adalah pengupasan kulit umbi, kemudian pengukusan.
“Pengukusan diperlukan sebagai proses gelatinisasi. Proses gelatinisasi terjadi karena kerusakan ikatan hidrogen yang berfungsi mempertahankan struktur dan integritas granula pati,”jelasnya.
Pemanggangan merupakan proses terakhir dari tahapan pembuatan flakes umbi. Pemanggangan menggunakan panas bertujuan untuk mengeluarkan kandungan air dari bahan pangan. “Tujuannya, produk yang dihasilkan renyah dengan kadar air yang rendah,”ujarnya.
Menurutnya, pemilihan pengolahan menjadi flakes atau camilan kering, seperti keripik dapat menjadi alternatif olahan umbi. Di mana keunggulannya memiliki kesan modern dan dapat dikonsumsi oleh semua kalangan. Apalagi, lanjutnya, flakes memiliki banyak kelebihan dikarenakan produknya yang tahan lama.
“Kami melihat potensi dan peluang produk ini masih terbuka. Bagaimanapun, pengembangan usaha produk agroindustri komoditas umbi-umbian merupakan lahan investasi yang mempunyai prospek yang cukup baik untuk mendorong minat investasi yang lebih besar lagi pada usaha agroindustri,”jelasnya.
Selain itu, katanya, flakes merupakan produk yang memiliki kadar air yang cukup rendah, sehingga tidak mudah diserang oleh mikroorganisme pembusuk. Kemudian, jika dilihat dari aspek kepraktisannya, flakes sangat menguntungkan dan memudahkan konsumen. Karena dapat disajikan dengan mudah tanpa proses pemasakan yang lama.
Ketua Program Studi Teknologi Pangan Upgris Fafa Nurdyansyah menambahkan, prestasi mahasiswanya itu tak lain berkat usaha bersama dan pendampingan yang intensif. Karena secara berkala, dari jurusan membimbing tim proyek kecil kelompok mahasiswa yang memiliki riset sederhana.
“Selain itu, mahasiswa juga kami fasilitasi untuk diikutsertakan di berbagai perlombaan dan kegiatan yang ada di dalam maupun luar kampus,” katanya.
Fafa berharap, pihaknya bisa terus berupaya mendorong mahasiswa lebih aktif dan inovatif dalam menghasilkan produk. Baik berupa karya ilmiah, penelitian mahasiswa yang lebih inovatif, serta menghasilkan berbagai inovasi produk yang bisa memanfaatkan bahan lokal dan memiliki nilai jual tinggi.
Karya ketiga mahasiswa ini berhasil meraih juara tiga dalam ajang “Business Plan Competition” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, pada 5 Desember 2020 lalu. (jks/aro) Editor : Agus AP