Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Terganggu Bau Busuk, Pasang Pengharum di Setiap Ruang

Agus AP • Selasa, 21 Juli 2020 | 16:45 WIB
BAU SAMPAH: Sampah di TPA Pasuruhan, Magelang yang menebarkan bau busuk. (kanan) Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Deyangan yang terdampak bau busuk sampah TPA. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAU SAMPAH: Sampah di TPA Pasuruhan, Magelang yang menebarkan bau busuk. (kanan) Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Deyangan yang terdampak bau busuk sampah TPA. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Tiga sekolah ini, Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Deyangan, MTs Al-Huda dan SMK Ma’arif Kota Mungkid berada dalam radius 2 Km dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasuruhan. Namun bau busuk sampah menjadi sarapan sehari-hari warga sekolah. Apalagi ketika musim hujan atau saat sampah dibongkar dari truk pengangkutnya.
AGUS HADIANTO, Magelang, Radar Semarang

GENAP lima tahun, keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah (MI) An-Nur Deyangan berjibaku dengan bau sampah. Jarak sekolah ini hanya 1 Km dari TPA Pasuruhan, Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Selama pandemi Covid-19 sekarang ini, pembelajaran tatap muka siswa memang ditiadakan. Namun demikian, para guru tetap masuk seperti biasa. Nah, saat pagi atau siang hari, para guru mencium bau busuk sampah dari TPA. Bahkan, saat sebelum pandemi, tak sedikit siswa yang langsung batuk-batuk dan hampir muntah.

Sekolah hanya bisa membentengi diri dengan menambahkan kipas angin dan pengharum ruangan di setiap kelas, termasuk di ruang guru. Selain itu, sekolah menambahi beberapa pohon di lingkungan sekolah sebagai kantong oksigen. Selebihnya, jika bau sangat kuat, para guru dan siswa kompak menutup hidung.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Deyangan Muhammad Syahrofi kepada Jawa Pos Radar Semarang membenarkan adanya bau sampah dari TPA Pasuruhan yang sangat mengganggu. Terlebih, kata Syahrofi, ketika jam-jam di pagi hari sekitar pukul 08.30 atau 09.00, banyak truk sampah yang melewati depan sekolah.

“Untuk jarak antara MI An-Nur ke TPA Pasuruhan sendiri kurang lebih 1 Km. Tapi bau sampah dari TPA Pasuruhan sangat menyengat,” katanya.
Syahrofi mengungkapkan, jika bau sangat menyengat, kadang harus tanggap dan cepat-cepat mendekati siswa. “Kadang ada yang muntah juga. Selain bau, kadang banyak lalat yang sampai di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Bau sampah yang sama juga diakui Kepala MTs Al-Huda Ihwan Kaharudin. Ihwan mengakui pada saat jam-jam tertentu, bau sampah sangat kuat. Termasuk saat masih ada kegiatan belajar dan mengajar sebelum pandemi, menjadi sedikit terganggu. Untuk jarak antara MTs Al-Huda ke TPA Pasuruhan, kata Ihwan, kurang lebih 1,5 Km.

“Sekarang memang tidak ada pembelajaran tatap muka. Untuk bau sampah sendiri merebak ketika matahari mulai menyengat, sekitar pukul 09.00. Baunya terasa sekali,” ucapnya.

Ihwan mengaku, pihaknya mengantisipasi bau sampah itu dengan mengusahakan di setiap ruangan ada pengharum ruangan yang digantung maupun disemprot. Selain itu, kata Ihwan, juga ada kipas angin di setiap kelas guna menambah sirkulasi udara di dalam kelas.
Untuk komplain kepada pemerintah, lanjut dia, pihak MTs Al-Huda sejauh ini belum pernah komplain secara langsung. Namun dari anggota Paguyuban Wali Murid sendiri pernah komplain dan ditulis di media, tapi belum direspon.

“Kalau bisa sekalipun itu tempat sudah terlokasikan di situ, bagaimana cara untuk mengurangi bau sampah, tolong untuk diusahakan,” tandasnya.
Bau menyengat juga tercium dari sekolah yang berjarak 2 Km dari TPA Pasuruhan, yakni SMK Ma’arif Kota Mungkid.
Kepala SMK Ma’arif Kota Mungkid Surais mengaku kegiatan sekolah sedikit terganggu ketika tercium bau menyengat dari TPA Pasuruhan.

“Sekarang siswa setiap minggu sekali datang ke sekolah mengambil tugas. Sedangkan guru masuk seperti biasa. Saat itulah, kami sangat terganggu bau sampah dari TPA,” ucap kepala sekolah asli Sleman ini.

Waka Sarpras SMK Ma’arif Kota Mungkid Dewi Setiya Rini mengatakan, sebelum adanya TPA Pasuruhan semua kegiatan di sekolah berjalan dengan maksimal. Menurutnya, setelah adanya TPA Pasuruhan sejak 5 tahun lalu hingga saat ini membuat KBM sedikit berbeda.
“Setiap guru dan siswa harus berdampingan dengan bau tidak sedap dari TPA Pasuruhan. Mempengaruhi minat orangtua dan calon siswa untuk mendaftar kesini juga, imbas bau sampah,” tuturnya.

Salah satu siswa SMK Ma’arif Kota Mungkid Hendra Maulana mengakui kegiatan sekolah selama ini memang terganggu karena bau tersebut. Ia berharap ada perhatian serius dari pengelola TPA Pasuruhan.

“Semoga ke depannya usai pandemi korona, bisa segera diatasi oleh pemerintah setempat agar bau dari TPA tidak menganggu kegiatan belajar mengajar di sini,” harapnya. (dilengkapi yasinta zhavira/singgih adi/dyah ekasari/aro) Editor : Agus AP
#SAMPAH