Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Kini Berusia 212 Tahun, Pernah Nyaris Dirobohkan

Agus AP • Kamis, 18 Juni 2020 | 16:51 WIB
DUA ABAD LEBIH: Tugu Mylpaal di Jalan Jetayu Kota Pekalongan tetap berdiri kokoh yang kini dihiasi letter sign bertuliskan
DUA ABAD LEBIH: Tugu Mylpaal di Jalan Jetayu Kota Pekalongan tetap berdiri kokoh yang kini dihiasi letter sign bertuliskan
RADARSEMARANG.ID, Selain erat hubungannya dengan batik, salah satu yang menarik dari Kota Pekalongan adalah adanya keberadaan Tugu Mylpaal. Tugu tersebut dibangun di era Kolonial Belanda oleh bawahan Gubernur Jenderal Daendels pada 1808.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Radar Semarang

Di sebelah selatan Lapangan Jetayu, tugu itu berdiri. Tugu Mylpaal yang dalam Bahasa Indonesia berarti titik awal tersebut dibangun sebagai penanda titik tengah dari pembangunan Jalan Daendels.

Dikatakan titik tengah karena menurut acuan jalur Daendels, dari Anyer hingga Panarukan, letak Kota Pekalongan berada tepat di tengah-tengahnya.

Dijelaskan oleh Arief Dirhamsyah, salah seorang sejarawan Pekalongan, dulu Daendels kerap mewanti-wanti kepada kepala daerah atau bupati supaya Tugu Mylpaal tetap dijaga. Karena Daendels memiliki perhitungan sendiri baik secara militer maupun ekonomi. Salah satunya yakni sebagai pusat pengiriman komoditas perdagangan.

Adapun Arief Dirhamsyah menerangkan, pada zaman bupati awal kemerdekaan, Tugu Mylpaal sempat akan dibongkar. Bupati kala itu menganggap bahwa Tugu Mylpaal adalah bangunan yang tidak ada artinya. Hal tersebut dikarenakan pada zaman tersebut tak banyak arsip sejarah yang bisa diketahui.

"Awal-awal zaman kemerdekaan sempat mau dibongkar. Karena zaman itu mengulik arsip sejarah lebih sulit dari zaman sekarang. Jadi banyak yang tidak paham. Tapi kemudian tidak jadi, karena beruntung ada salah seorang yang tahu asal muasal tugu itu," jelas Dirham kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dirham menambahkan, sebagai Titik 0 Kilometer, kawasan Mylpaal sudah sejak dulu menjadi pusat Kota Pekalongan. Salah satunya yakni berada dekat dengan benteng pertahanan yang saat ini telah berubah menjadi rutan.

Selain itu, pada zaman dulu di sana juga terdapat gudang gula terbesar se-Jawa. Terdapat pula Pos Ganti Kuda serta Pos Pesanggrahan atau tempat istirahat para kusir. Pos tersebut dibangun hanya di Pekalongan, karena dianggap sebagai tengah-tengah jalur Daendels sepanjang 1.100 km. Sehingga efektif digunakan sebagai tempat peristirahatan.

Tahun berganti, kini Tugu Mylpaal telah berubah menjadi salah satu destinasi wisata selfie di Kota Pekalongan. Menghabiskan dana hingga Rp 134 juta, kini Tugu Mylpaal juga dihiasi oleh letter sign atau lampu huruf bertuliskan "KM 0 Pekalongan". Tugu yang sudah berusia 212 tahun atau dua abad lebih itu juga masih terjaga.

Selain berwisata selfie di Tugu Mylpaal, tak jauh dari sana juga terdapat Museum Batik dan pabrik legendaris limun. Maka, di sepanjang Jetayu wisatawan dapat menjelajahi berbagai peninggalan sejarah. Karenanya, Jetayu kini disebut sebagai kawasan budaya. (*/aro) Editor : Agus AP
#TUGU #Kota Batik