Kisahkan Perjuangan Dua Garis dan Kanker, Film Baby Udon Bikin Banjir Air Mata Penonton Semarang 

Ida Fadilah • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:24 WIB

 

Pemain film Baby Udon, Denny Sumargo (kiri), Fanny Kondoh (tengah), Caitlin Halderman (kanan) menyapa penonton di XXI Mall Ciputra Semarang, Minggu (16/8/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pemain film Baby Udon, Denny Sumargo (kiri), Fanny Kondoh (tengah), Caitlin Halderman (kanan) menyapa penonton di XXI Mall Ciputra Semarang, Minggu (16/8/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Film Baby Udon menyapa penonton Kota Semarang melalui pemutaran di Mall Ciputra XXI Semarang.

Film yang dibintangi Caitlin Halderman dan Denny Sumargo itu mengangkat kisah cinta pasangan Indonesia-Jepang yang dihadapkan pada persoalan keluarga, perjuangan mendapatkan keturunan, hingga ujian ketika sang suami didiagnosis kanker.

Dalam film tersebut, Caitlin Halderman memerankan Fanny Kondoh, perempuan Indonesia yang menikah dengan pria asal Jepang, Hajime Kondoh.

Sementara Denny Sumargo berperan sebagai Hajime, pria Jepang yang datang ke Indonesia untuk bekerja dan kemudian harus menghadapi penyakit kanker.

Baca Juga: Dandim Semarang Jadi Komandan Upacara HUT RI di Istana, Begini Respon Wali Kota Semarang Agustina

Kehadiran keduanya dalam film ini juga diwarnai pengalaman menarik selama proses produksi. 

Denny Sumargo yang hadir di tengah-tengah penonton mengungkapkan, dirinya awalnya tidak dipersiapkan untuk memerankan Hajime. Ia justru masuk ke jajaran pemain karena kesulitan menemukan aktor yang sesuai dengan karakter tersebut.

“Awalnya karena saya kejebak sebenarnya. Saya nyari pemain lakinya enggak nemu-nemu karena posisi saya kan produser. Akhirnya saya yang terjun ke dalam,” ujar Denny dalam sesi bincang bersama penonton di Semarang.

Menurut Denny, proses persiapan film yang semula ditargetkan sekitar tiga bulan akhirnya berlangsung hampir delapan bulan. Salah satu kendalanya adalah mencari pemeran yang tepat untuk karakter Hajime.

“Harusnya cuma tiga bulan, kenapa kok delapan bulan? Karena mencari pemeran Hajime-nya susah banget,” katanya.

Denny menyebut sejumlah aktor telah dihubungi, tetapi terbentur jadwal maupun persoalan lainnya. Hingga akhirnya ia memutuskan memerankan karakter tersebut.

Sementara itu, Caitlin Halderman menjadi pemeran terakhir yang mengikuti proses casting. Ia kemudian dipilih langsung oleh Fanny Kondoh, pemilik asli cerita ini.

Dalam proses pengambilan gambar, Denny dan Caitlin juga banyak melakukan improvisasi. Menurut Denny, naskah hanya menjadi acuan, sedangkan ekspresi dan emosi para pemain menjadi bagian penting untuk membuat cerita terasa natural.

Ia mencontohkan salah satu adegan di meja makan ketika karakter Hajime berusaha membuat Fanny tersenyum. Dialog dalam adegan tersebut kemudian berkembang melalui improvisasi.

“Banyak sebenarnya improvisasi dalam film ini karena naskah buat kita hanya acuan. Tapi ekspresi dan hati yang bermain itu jauh lebih penting,” ujar Denny.

Salah satu adegan yang paling membekas bagi Denny yang di sutradarai Fajar Bustomi ini

terjadi ketika karakter Hajime harus pergi. Setelah sutradara menyatakan adegan selesai, Caitlin disebut masih menangis selama sekitar lima hingga 10 menit. Hal ini diakui Caitlin yang juga hadir dalam gala premiere ini.

Menurut Denny, momen tersebut menunjukkan kuatnya keterlibatan emosional para pemain terhadap karakter yang mereka perankan.

Film Baby Udon sendiri tidak hanya menghadirkan kisah percintaan, tetapi juga membawa pesan tentang perjuangan, keluarga, harapan, dan bagaimana seseorang tetap bertahan ketika menghadapi situasi sulit.

Denny berharap pesan yang dibawa film tersebut dapat dirasakan penonton. Ia menyebut salah satu gagasan yang menurutnya kuat dalam film adalah tentang tetap memiliki harapan ketika berada dalam kondisi lelah maupun ragu.

“Semoga itu bisa dibawa pulang, ketika lelah maupun ketika dalam keraguan,” tuturnya.

Fanny Kondoh, tokoh asli dalam film ini mengaku terharu kisah hidupnya bisa dilihat banyak orang. Menurutnya, melalui film ini membuktikan cintanya yang besar. Juga ingin memperlihatkan pada sang anak Kansaz mengenai sosok sang ayah yang berjuang dengan keras. 

"Film ini adalah wasiat dari suami saya. Dari dulu Kondoh selalu bilang kalau saya wafat saya tidak mau hanya dikenang menjadi abu. 2 tahun setelah suami saya wafat dan inilah jawabannya. Semoga film ini bisa menjadi media untuk pejuang dua garis, pejuang kanker, pejuang kehidupan, suami istri. Allah gak mungkin dzalim sama kita, yang pasti Allah selalu bersama kita," tuturnya bangga.

Usai pemutaran film, para penonton banjir air mata. Mereka terharu dengan kisah film yang sangat menyentuh. Salah satunya dialami Rahma. Ia menuturkan kisah film ini membuatnya teringat dengan perjalanan hidupnya sendiri yang masih berjuang dua garis. "Ceritanya relate dengan saya yang sudah menikah 7 tahun tapi belum dikasih sama Allah, sudah pernah melahirkan namun berpulang. Saya merasakan kisab ini menginspirasi sekali," katanya masih menangis saat ditanya Denny.

Kehadiran Baby Udon di Mall Ciputra XXI Semarang pun mendapat sambutan dari penonton yang mengikuti sesi pemutaran dan bincang pbersama para pemain. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
XXI Semarang film