Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kenapa Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier yang Keturunan Austria dan Prancis Menggunakan Paes? Ini Alasannya

Falakhudin • Kamis, 15 Mei 2025 | 12:53 WIB
Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier
Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Pasangan selebriti, Luna Maya dan Maxime Bouttier resmi menikah.

Pernikahan adat Jawa yang yang sangat sakral ini digelar secara tertutup, hanya dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.

 

Artis cantik Luna Maya resmi melangsungkan pernikahan dengan Maxime Bouttier di Resor COMO Shambhala Estate, Gianyar, Bali,pada Rabu, 7 Mei 2025.

Pada Kamis, pengantin ini mengadakan resepsi dua kali, sore dan malam hari, masih di tempat yang sama dengan saat akad nikah, yakni Como Shambala, Gianyar, Bali.

Luna mengenakan gaun putih polos lengan panjang yang terurai panjang, sedangkan Maxime mengenakan jas putih dan dasi kupu-kupu serta celana hitam. 

Artis Luna Maya lega karena akhirnya ia menikah dengan aktor Maxime Bouttier pada Rabu (7/5/2025).

Sejak prosesi siraman yang di gelar sehari sebelum pernikahan, pasangan ini memang memilih adat Jawa sebagai tema utama dalam momen perayaan hari bahagianya.

 

Ketika membicarakan tentang pernikahan adat Jawa, umumnya identik dengan riasan paes pengantin.

Paes adalah riasan pengantin wanita yang berbentuk lekukan yang dimulai dari area dahi hingga ujung rambut. 

Jenis paes Jawa sendiri beragam, setidaknya ada 5 macam paes yang bisa kamu pilih sesuai pakem adat di daerahmu.

Dalam artikel ini, kami akan membahas tuntas mengenai perbedaan kelima paes pengantin Jawa tersebut. Simak ulasan selengkapnya, ya.

Sebelum membahas berbagai macam jenis paes Jawa, ada baiknya kamu mengetahui pengertian dari paes itu sendiri.

 

Seperti yang sudah disinggung sedikit di atas, paes adalah riasan berbentuk lengkungan pada area dahi wanita.

Bentuk lekukan pada paes ini tidak hanya sebuah coretan, tetapi juga memiliki makna, doa, dan tuntunan untuk calon mempelai wanita.

Paes sendiri dilukis dengan menggunakan pidih, yaitu campuran malam atau sejenis lilin.

Lilin pidih adalah krim pewarna yang dibuat dari ramuan jelaga yang dicampur dengan kulit jeruk purut, lilin kote, asem, dan daun pandan sehingga menghasilkan warna hitam yang pekat.

Namun tidak sedikit juga perias yang memilih menggunakan cairan celak untuk melukis paes karena lebih aman untuk kulit sensitif dan tidak menimbulkan iritasi.

 

Paes tidak hanya digunakan pada pernikahan adat Jawa, namun provinsi lain juga menggunakan riasan paes bagi mempelai wanitanya.

Seperti paes Makassar dan Banjar yang memiliki bentuk dan makna yang berbeda dengan paes Jawa.

Paes Jawa yang paling terkenal adalah paes Yogya dan Paes Solo.

Ada juga paes Madura yang memiliki pesonanya sendiri.

Untuk itu, kami akan membahas perbedaan 5 ragam paes Jawa dari Yogya, Solo, dan Madura secara lengkap.

1. Yogya Paes Ageng

 

Di Yogyakarta, ada 6 jenis paes yang masih sering digunakan, yaitu Paes Ageng, Yogya Putri, Ageng Kanigaran, Ageng Jangan Menir, Kasatriyan Ageng, dan Pura Pakualam.

Yogya Paes Ageng merupakan paes yang paling populer di Jawa, khususnya di daerah Yogyakarta.

Banyak pengantin yang memilih riasan paes ini karena mampu memancarkan keanggunan khas wanita Jawa yang sarat akan makna.

Bentuk paesnya sendiri lebih runcing dengan pidih berwarna hitam.

Lengkungan pidih ini dibingkai dengan payet emas atau prada, yang mewah dan elegan.

 

Lekukan Yogya Paes Ageng berbentuk seperti daun sirih yang merupakan pengharapan agar sang istri dihormati dan ditinggikan derajatnya oleh suami.

Lekukan  ini juga menyimbolkan agar istri menjaga nama baik suami.

Yogya Paes Ageng ini juga terkenal dengan riasan aliasnya yang berbentuk tanduk rusa.

Bentuk alis ini disebut dengan menjangan ranggah yang merupakan sebuah pengharapan agar mempelai wanita bisa cerdas dan bijaksana dalam menghadapi berbagai permasalahan rumah tangga.

Riasan Yogya Paes Ageng dilengkapi dengan cunduk mentul atau kembang goyang berjumlah 5 buah yang diletakkan di atas sanggul.

5 cunduk mentul ini melambangkan rukun Islam.

 

Pada zaman dahulu, Yogya Paes Ageng hanya digunakan oleh keluarga keraton.

Hal ini karena pemakaian prada atau emas yang dinilai mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat biasa.

Oleh karena itu, diciptakan Yogya Paes Putri yang lebih sederhana dan ekonomis.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Yogya Paes Ageng dapat digunakan oleh berbagai kalangan untuk membantu melestarikan budaya.

 

 Baca Juga: Hasil Grand Final Indonesian Idol 2025 Berjalan Sengit, Siapa Juaranya Fajar atau Shabrina?

 

2. Yogya Paes Putri

Seperti yang sudah dibahas sedikit di atas, Yogya Paes Putri adalah versi sederhana dari Yogya Paes Ageng.

Paes Jawa ini menggunakan pidih hitam atau coklat tanpa tambahan prada (serbuk emas).

Bentuknya sendiri berbeda dengan Yogya Paes Ageng.

Yogya Paes Putri berbentuk cengkorongan daun sirih berbentuk belah ketupat di dahi antara dua alis.

Aksesoris untuk rambutnya sendiri lebih sederhana, yaitu hanya menggunakan sisir gunungan, sebuah cunduk mentul, dan sepasang subang cepli.

 

Cunduk mentul ini melambangkan keesaan Tuhan.

Kemudian bagian kiri dan kanan sanggul dihias dengan sepasang rangkaian melati, mawar, atau ceplok dari beludru merah pelik.

 

3. Solo Puteri

Paes Jawa yang tidak kalah populer selanjutnya adalah Paes Solo yang terbagi dalam 3 jenis, yaitu Solo Puteri, Solo Basahan, dan Solo Takwo.

Namun yang paling sering digunakan dalam pernikahan Jawa Solo atau Surakarta adalah jenis Solo Puteri dan Solo Basahan.

 

Jika Paes Yogyakarta memiliki bentuk yang meruncing, maka Paes Solo Puteri ini memiliki bentuk yang lebih bulat. Dilukis dengan pidih hitam pekat tanpa hiasan prada.

Sanggul bagian belakang dilengkapi dengan rangkaian kuncup bunga melati, atau yang biasa disebut dengan tibo dodo.

Rangkaian ini menjuntai dari kepala, melewati dada, berakhir di pinggang bagian depan tubuh wanita.

Aksesoris lainnya pada sanggul adalah adanya cunduk jungkat dan cunduk mentul atau kembang goyang berjumlah 7 buah yang ditancapkan secara merata di atas sanggul.

Cunduk mentul ini melambangkan pitulungan atau pertolongan.

 

4. Solo Basahan

Solo Basahan hampir sama dengan Solo Puteri.

Hal yang unik dan membuat Paes Solo Basahan berbeda dengan paes Jawa lainnya adalah pemakaian pidih yang berwarna hijau gelap.

Sanggul pada paes Solo Basahan juga dihiasi oleh cunduk mentul sebanyak 9 buah yang melambangkan jumlah walisongo.

Cunduk mentul ini juga memiliki bentuk yang berbeda-beda, yaitu sepasang berbentuk menjangan atau rusa, kupu-kupu kecil, dan matahari.

 

Di bagian tengan dihias dengan cunduk mentul berbentuk kupu-kupu besar yang ditemani dengan cunduk jungkat.

Selain itu, tata rias paes Solo Basahan juga identik dengan cithak, yaitu bentuk belah ketupat memanjang di dahi di antara alis.

Cithak berarti bahwa perempuan harus fokus dan setia dalam menjaga rumah tangga.

 5. Paes Tretep

Ketika membicarakan mengenai paes Jawa, sebagian besar orang hanya berfokus pada paes Solo dan Yogyakarta saja.

Padahal ada Paes Tretep ala pengantin Madura yang cantik ini, loh.

 

Paes Tretep atau Kacok memiliki bentuk yang unik dibandingkan paes Yogya dan paes Solo.

Jika paes Yogya dan Solo memiliki bentuk yang menjorok ke bawah dan berbentuk seperti daun, maka Paes Tretep ini berbentuk melengkung ke dalam seperti bunga.

Paes ini juga biasanya akan dihiasi payet mengikuti bentuk paes.

Sanggul pada Paes Tretep juga dihiasi oleh rangkaian kuncup bunga melati sebagaimana paes Jawa pada umumnya.

Rangkaian bunga ini berbentuk seperti lilin yang menyimbolkan istri harus bisa menjadi penerang jalan untuk suami.

 

 

Ternyata jika dilihat kembali filosofinya, ayah Luna Uut Bambang Sugeng berasal dari Jawa dan Ibunda Maxime (Siti Purwanti) berasal dari suku Jawa.

Karena rasa bangganya, Luna dan Maxime pun memilih adat Jawa untuk pernikahannya. 

Sosok Profil Uut Bambang Sugeng merupakan pria keturunan Jawa yang berasal dari Bojonegoro dan Cirebon.

Desa Maya Waltraud Maiyer bukan sekadar ibu Luna Maya , tapi juga sosok inspiratif yang perjalanan hidupnya mencerminkan kekuatan, keberanian, dan kasih sayang tanpa batas.

Profil lengkap Desa Maya menggambarkan potret perempuan luar biasa yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh dedikasi di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya, dirangkum dari berbagai sumber.

 

Dari pernikahan ini, lahirlah tiga anak yakni Ismael Dully, Tipi Jabrik, dan Luna Maya.

Sosok Tipi Jabrik memiliki nama lengkap Tipi Jabrik Noventin ialah putra kedua mendiang Uut Bambang Sugeng dan Desa Maya Waltaurd Maiyer.

Sosok Siti Purwanti kembali diingat seiring dengan perjalanan cinta sang putra, Maxime Bouttier, yang kini telah melangkah ke jenjang pernikahan.

Maxime Bouttier resmi mempersunting kekasihnya, Luna Maya, pada Rabu (7/5/2025).

Pernikahan tersebut digelar di Bali, dengan dihadiri keluarga dan juga orang terdekat Luna dan Max.

 

Ada sosok yang kembali diingat di hari sakral tersebut, yaitu Siti Purwanti, ibunda Maxime Bouttier.

Siti Purwanti diketahui telah meninggal dunia satu tahun lalu, tepatnya pada Januari 2024 silam.

Sosok Siti Purwanti merupakan ibu kandung Maxime Bouttier.

Siti Purwanti memiliki akun Instagram bernama @sitipurwanti15 dengan 16,7 ribu pengikut.

Akun itu kini sudah tak pernah lagi membuat unggahan setelah pemiliknya meninggal dunia.

Namun sebelum meninggal, Siti Purwanti sosok yang aktif bermain media sosial.

 

Ia kerap mengunggah berbagai foto bersama keluarganya.

Kehidupan keluarga Siti Purwanti harmonis dengan sang suami hingga ia meninggal dunia.

Siti Purwanti juga sudah akrab dengan Luna Maya yang kala itu menjadi calon menantunya.

Sebelum meninggal dunia, ia telah memberikan restunya pada Luna Maya untuk menikahi Maxime.

Maxime Bouttier kenang sosok sang ibunda di hari pernikahannya.

Diketahui, Max dan Luna Maya melangsungkan pernikahan dengan konsep adat Jawa. 

Baca Juga: Prilly Latuconsina Pilih Menyelam di Laut Bersama Omara Disaat Pernikahan Luna Maya dengan Maxime Bouttier

 

Ternyata jika dilihat kembali filosofinya, Uut Bambang Sugeng Ayah Luna Maya berasal dari Jawa dan Siti Purwanti Ibu Maxime Bouttier berasal dari suku Jawa. 

“Untuk paes, aku melihat foto mamaku dengan foto weddingnya kan Jawa sekali, aku udah bilang ke Luna, kalau misal kita married ‘kamu harus pakai paes ya’,” ungkap Maxime saat resepsi pernikahan.

“Aku udah deg-degan banget tadi lihat (Luna) pakai paes well this such a gorgeous (indah),” ucap Maxime.

Momen manis Luna Maya dan Maxime di atas panggung tersebut sukses membuat tamu undangan terharu dan spontan meneriaki “so sweet”.

Sementara itu, perasaan haru dan bahagia itu diluapkan Luna Maya di depan para tamu undangan saat menggelar acara resepsi pernikahannya di malam hari.

 

Sedangkan Luna Maya terlihat anggun dalam balutan gaun putih dengan desain backless dan tali spaghetti.

Kedua pengantin juga memamerkan kemesraannya dengan berdansa bersama. 

Diiringi oleh lagu ‘Perfect’ dari Ed Sheeran yang dinyanyikan oleh Anang dan Ashanty.

Dalam prosesi akad nikah, Luna terlihat anggun dalam balutan kebaya modern berwarna putih dengan potongan leher semi v-neck. 

Kebaya tersebut memiliki siluet lurus panjang hingga menyentuh lantai dengan bordir bermotif bunga dan daun yang sangat indah. 

 

Baca Juga: Uut Bambang Sugeng Pernah Membuat Grup Band, Berkisah Cintanya dengan Desa Maya Waltraud Maiyer dan Ini Sosok Kakek Luna Maya

 

Wanita berusia 42 tahun itu memadukan kebaya dengan kain batik khas Yogyakarta berwarna coklat-putih, sehingga membuat dirinya terlihat bak pengantin Keraton Yogyakarta.

Penampilan Luna pun semakin menawan dengan hiasan Paes dan konde berhias ronce melati yang dipadukan dengan cunduk mentul serta veil panjang menyapu lantai. 

Perempuan yang mengawali karier sebagai model di tahun 1999 ini memilih Paes berbentuk runcing dengan aksesori emas di atasnya.

Sebelumnya, upacara ijab kabul dipandu langsung oleh Kepala KUA Sukawati.

Adapun mas kawin berupa logam mulia 7,5 gram dan uang 2025 US Dolar.

Saat prosesi ijab kabul, Luna Maya dan Maxime kompak mengenakan busana adat Jawa.

 

 

Artis berusia 42 tahun itu tampil cantik mempesona memakai kebaya pengantin warna putih.

Maxime Bouttier mengucapkan ijab kabul dengan lancar di hadapan Irwan Mussry dan Raffi Ahmad yang bertindak sebagai saksi.

Luna Maya terlihat menangis haru setelah melihat Maxime lancar dalam melafalkan ijab kabul.

Irwan menjadi saksi perwakilan mempelai pria, Raffi menjadi saksi perwakilan mempelai perempuan.

 

Saksi dan juga tamu yang hadir menyatakan pernikahan tersebut sah. 

Beberapa tamu terlihat meneteskan air mata saat Luna dan Maxime dinyatakan sah sebagai suami istri.

Momen sakral ini turut disaksikan oleh keluarga dan sejumlah sahabat dekat dari kedua mempelai.

Sebelum menjalani akad pernikahan, keduanya melakukan berbagai prosesi.

Kenapa Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier yang Keturunan Bule Austria Serta Perancis Menggunakan Paes? Ini Alasannya
Kenapa Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier yang Keturunan Bule Austria Serta Perancis Menggunakan Paes? Ini Alasannya

Termasuk, acara siraman dan sungkeman beradat Jawa yang digelar pada Selasa (6/5/2025). 

Proses jelang pernikahan tersebut ditayangkan di akun media sosial resmi TS Media, yang ditayangkan secara langsung (live). (fal)

Editor : Baskoro Septiadi
#riasan paes pengantin #Profesi Patrice #maxime bouttier jadi model video klip Ariel Noah #Siti Purwanti Ibu Maxime Bouttier #Luna Maya dan Maxime Bouttier #Patrice Bouttier #Profil lengkap Desa Maya #paes Jawa #ibu Luna Maya #luna maya #Hanasuri Jabrik #Tipi Jabrik #ibunda maxime bouttier meninggal dunia #Sosok Profil Patrice Bouttier #Desa Maya Waltraud Maiyer #raffi ahmad #Sosok Tipi Jabrik #Desa Maya Waltaurd Maiyer #Pernikahan Al Ghazali #Ismael Dully #Paes Tretep #Profil Desa Maya #luna maya akan menikah #Patrice Bouttier adalah #luna maya akan nikah di bali #Suri Jabrik adalah #Solo Puteri #haico Van der Veken #Profil Desa Maya Waltraud Maiyer #adat jawa #ayah Maxime Bouttier #Uut Bambang Sugeng dan Desa Maya Waltraud Maiyer #Sosok Siti Purwanti #Siti Purwanti #Uut Bambang Sugeng #Suri Jabrik #ayah Luna Maya Uut Bambang Sugeng #paes Madura #paes Makassar #Tipi Jabrik Noventin #Ibunda Maxime Bouttier #Elodie Bouttier #keluarga Keraton #Paes adalah #Profil Ismael Dully #Uut Bambang Sugeng Ayah Luna Maya #irwan mussry #Sosok Patrice Bouttier #Luna Maya dan Maxime Bouttier Menikah #Suku Jawa #Feby Jabrik #Yogya Paes Putri #maxime bouttier aktor #maxime bouttier #Resor COMO Shambhala Estate #Siti Purwanti ibunda Maxime Bouttier #maxime #Maxime Andre Selam Bouttier #Lilin pidih adalah #Feby Jabrik adalah #luna dan maxime nikah di bali #Yogya Paes Ageng #baby tsabina #Kepala KUA Sukawati #Desa Maya Waltraud Maiyer adalah #Patrice Pattisserie Indonesia #Maxime Bouttier adalah #paes Yogya #Paes Solo #luna dan maxime #maxime bouttier agama #ayah Luna Maya #luna maya banjir pujian #Solo Basahan #Pernikahan Al Ghazali dan Alyssa Daguise #Sosok Profil Uut Bambang Sugeng #Uut Bambang Sugeng dan Desa Maya Waltaurd Maiyer