RADARSEMARANG.ID - Hubungan antara Verrell Bramasta dan Fujianti Utami, yang akrab disapa Fuji, telah menjadi sorotan publik.
Kedekatan mereka yang terekam dalam berbagai momen, mulai dari jalan bersama hingga panggilan sayang, memunculkan pertanyaan: apakah mereka resmi berpacaran?
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Verrell memanggil Fuji dengan sebutan "sayang" saat melakukan panggilan video.
Momen ini diabadikan oleh Zita Anjani, Wakil Ketua DPRD Jakarta, dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Verrell terlihat berbicara dengan Fuji dan Gala, keponakan Fuji, dan mengakhiri percakapan dengan ucapan, "Dadah sayang, aku kunjungan dulu ya."
Zita Anjani pun menambahkan keterangan, "Buat yang kepo sudah terjawab ya," seolah mengonfirmasi hubungan mereka.
Dalam unggahan Verrell Bramasta, ia membagikan momen seru saat dirinya bersama Fuji bermain gokart. Pada kesempatan itu, keduanya terlihat santai dan menikmati waktu kebersamaan mereka.
Melihat unggahan tersebut, tak sedikit netizen yang berharap hubungan mereka awet dan berujung di pelaminan.
"Aah postingan yang selalu ku tunggu, ikut bahagia semoga segera kepelaminan" tulis akun @ichaannisafaradila.
Baca Juga: Tidak Hadir di Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier, Ariel Noah Beri Ucapan Selamat ke Luna Maya
Namun, hingga saat ini, baik Verrell maupun Fuji belum memberikan pernyataan resmi mengenai status hubungan mereka.
Meskipun demikian, interaksi mereka yang semakin terbuka di hadapan publik menimbulkan spekulasi bahwa keduanya memang sedang menjalin hubungan asmara.
Menariknya, pendekatan yang dilakukan oleh Verrell dan Fuji dalam menunjukkan kedekatan mereka berbeda dari pasangan selebriti lainnya.
Alih-alih membuat pengumuman resmi, mereka memilih untuk membagikan momen-momen kebersamaan secara natural di media sosial, membiarkan publik menafsirkan sendiri hubungan mereka.
Pendekatan ini mencerminkan tren baru di kalangan selebriti, di mana keterbukaan dalam hubungan asmara tidak selalu harus diumumkan secara formal, tetapi dapat ditunjukkan melalui interaksi sehari-hari yang dibagikan kepada publik.
Editor : Baskoro Septiadi