RADARSEMARANG.ID - Dari segi ekonomi, golongan kaum muda kerapkali dicap sebagai generasi yang boros karena gaya hidup modernnya.
Tak jarang gaya hidup dan stigma negatif seperti hedonisme membuat generasi muda kesulitan untuk mengatur keuangannya.
Namun, lewat perspektif berikut, mulai banyak anak-anak muda di Indonesia yang mempraktikkan gaya hidup frugal untuk menyimpan pendapatan.
Apa sih gaya hidup frugal? dan mengapa banyak orang di negara ini yang mulai mengadopsinya dalam hidup? begini ulasannya.
Gaya Hidup Frugal Living
Sebelum lebih jauh ke penjelasannya, kata Frugal sendiri secara harafiah adalah hal yang berbeda untuk orang yang berbeda pula.
Menurut Kementerian Keuangan, frugal living adalah gaya hidup mengirit terhadap pengeluaran uang dan menabung lebih banyak uang.
Secara lebih kompleks frugal living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan dana yang dimiliki dengan kesadaran penuh (mindfull), dengan pertimbangan dan analisis yang baik disertai dengan strategi pencapaian tujuan keuangan masa depan yang jelas.
Sebagai contoh, seseorang yang mengamini gaya hidup ini lebih memilih untuk memasak di rumah/tempat tinggal daripada membeli makan di luar.
Hal lainnya seperti mereka tidak mementingkan produk bermerk populer dan tidak memusingkan fashion ataupun gadget yang terus berkembang seiring waktu.
Namun, para penganut frugal living ini memiliki pemikiran untuk menikmati apa yang menjadi standar mereka dalam hidup berkualitas tanpa goyah oleh pendapat orang lain.
Hal ini mereka lakukan demi tercapainya tujuan keuangan jangka panjang yang sebelumnya sudah mereka rencanakan dengan matang.
Baca Juga: Investor Senior ini Bagikan Strategi Agar Gen-Z Bisa Membeli Rumah Pertama
Baca Juga: Viral Istilah Jam Koma di Kalangan Gen Z, Apa sih Artinya?
Frugal living juga menjadi berkembang menjadi paham yang berhubungan dengan keberlangsungan kehidupan manusia maupun makhluk hidup lain di bumi.
Paska Covid 19, Profesor John White dari London menyatakan bahwa hal ini harus diadopsi dan diajarkan kepada generasi mendatang.
Dengan berbagai ancaman seperti perubahan iklim, overpopulasi dan konflik kemanusiaan menjadikan manusia kedepannya harus bisa memprioritaskan kebutuhan dan tidak menghamburkan sumber daya alam.
Kedepannya manusia dituntut untuk mengurangi presentase sampah yang dihasilkan untuk keamanan lingkungan agar bisa bertahan hidup saat jumlah manusia jauh lebih banyak dibandingkan sekarang.
Beberapa pesohor dunia diketahui juga mengadopsi gaya hidup ini sebagai cara mereka memulai kebiasaan baik seperti Leonardo D. Caprio, Mark Zuckerberg, Steve Jobs dan sebagainya.
Source: Positively Frugal, Kemenkeu Id
Editor : Baskoro Septiadi