RADARSEMARANG.ID, Sumanto, sosok yang dulunya menakutkan, kini mengejutkan publik dengan transformasinya.
Dengan konten ringan di Instagram, ia menarik 13.800 pengikut dan membuktikan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Baca Juga: Viral! Jubir Kepresidenan Adita Irawati Tuai Kontroversi Usai Sebut Orang Kecil Rakyat Jelata
Kisah Awal dan Kontroversi Hukum Kasus Sumanto
Sumanto, seorang pria yang lahir pada 3 Maret 1972 di Desa Majatengah, Purbalingga, sempat menggemparkan Indonesia pada awal 2003.
Kejadian yang mencoreng namanya dimulai pada 11 Januari 2003, ketika jenazah seorang nenek berusia 81 tahun bernama Mbok Rinah, yang baru dikubur selama 16 jam, ditemukan hilang secara misterius.
Peristiwa ini mengejutkan warga sekitar, yang segera melaporkan kasus pembongkaran makam tersebut kepada pihak berwenang.
Penelusuran pihak kepolisian mengarahkan mereka ke rumah Sumanto.
Jejak tanah kuburan yang masih basah menunjukkan bukti kuat, dan di rumah Sumanto ditemukan tulang serta sisa daging Mbok Rinah yang berserakan.
Penemuan tersebut mengungkapkan tindakan mengerikan yang dilakukan Sumanto, yakni memakan jenazah manusia.
Polisi menangkapnya dua hari setelah kejadian dan menuduhnya berdasarkan Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.
Namun, proses hukum Sumanto memunculkan kontroversi. Tim pembelanya berargumen bahwa penerapan Pasal 363 KUHP tidak tepat karena jenazah bukanlah barang yang dapat dicuri.
Mereka menyatakan bahwa mayat adalah "kotoran manusia" yang telah dibuang oleh pemiliknya melalui prosesi pemakaman.
Perdebatan hukum ini menarik perhatian masyarakat dan media, menyoroti celah dalam interpretasi hukum pidana Indonesia terkait kasus semacam ini.
Pada akhirnya, Sumanto dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun.
Kasus ini menjadi perbincangan nasional, baik karena aksi kanibalismenya yang mengerikan maupun perdebatan hukum yang menyertainya. Nama Sumanto pun tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kasus kriminal paling kontroversial di Indonesia.
Perjalanan Sumanto di Panti Rehabilitasi dan Vaksinasi Massal
Setelah menjalani hukuman penjara, Sumanto dipindahkan ke panti rehabilitasi milik H Supono Mustajab untuk mendapat pengawasan dan perawatan lebih lanjut.
Di panti rehabilitasi tersebut, ia menjalani hari-hari sebagai bagian dari kelompok orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Sumanto, yang dulunya dikenal karena tindakan kontroversialnya, perlahan menunjukkan perubahan sikap yang lebih tenang.
Pada tahun 2021, Sumanto kembali menjadi sorotan ketika ia ikut serta dalam program vaksinasi massal untuk kelompok ODGJ di panti rehabilitasi tersebut.
Dengan mengenakan blangkon khas Purbalingga, Sumanto menunjukkan wajah ceria saat menerima suntikan vaksin Sinopharm.
Meski ia keliru menganggap vaksin sebagai bentuk pengobatan penyakit fisik, proses vaksinasi berjalan lancar tanpa kendala.
Dari 45 penghuni panti, 26 di antaranya termasuk Sumanto berhasil divaksin untuk mendukung program herd immunity melawan Covid-19.
Kegiatan ini mendapat perhatian publik karena menunjukkan sisi lain dari Sumanto yang lebih humanis.
Keikutsertaannya dalam vaksinasi massal memberikan pesan penting bahwa setiap orang, termasuk mereka yang memiliki masa lalu kelam, tetap berhak mendapatkan perlindungan kesehatan dan kesempatan untuk berkontribusi dalam masyarakat.
Transformasi Sumanto dan Kehidupan Barunya di Media Sosial
Setelah menjalani masa rehabilitasi, Sumanto menunjukkan transformasi yang mengejutkan.
Ia kini dikenal melalui aktivitasnya di media sosial, khususnya akun Instagram @/sumantoofficial_, di mana ia berbagi konten ringan dan menghibur.
Sumanto yang dulu dianggap sebagai sosok menakutkan kini tampil lebih santai dengan kegiatan seperti mukbang makan sate kambing, bernyanyi, dan berpose untuk pengikutnya.
Dengan bantuan admin, Sumanto berhasil menarik perhatian lebih dari 13.800 pengikut per 1 Januari 2025.
Akun tersebut menampilkan sisi Sumanto yang lebih natural, meskipun ia masih tampak malu-malu.
Transformasi ini mendapat respons positif dari warganet. Banyak yang memberikan dukungan moral dan melihat Sumanto sebagai contoh bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, meskipun sebagian masih mengingat masa lalunya.
Tak hanya aktif di media sosial, Sumanto juga sempat bertemu dengan tokoh publik seperti Panji Petualang dan ikut dalam kampanye Pilkada 2024, menandakan partisipasinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Sumanto, dengan segala kontroversi masa lalunya, mampu bangkit dan menemukan cara baru untuk berinteraksi dengan dunia.
Transformasi Sumanto menjadi pelajaran penting tentang perjalanan hidup manusia.
Dari kisah tragis dan kontroversial, ia kini mencoba menjalani kehidupan yang lebih bermakna, menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin bagi siapa saja. (tas)
Editor : Tasropi