RADARSEMARANG.ID - Jika kini burung hantu lebih kita identikkan dengan dunia pendidikan, berkat logo-logo yang digunakan oleh berbagai institusi atau perusahaan pendidikan.
Sosoknya yang terlihat bijaksana dan pintar memang cocok dengan bentuk fisik dari binatang nokturnal yang satu ini.
Jika ditelusuri lebih lanjut, penggambaran tentang kebijaksanaan burung hantu sudah diamini oleh masyarakat Yunani dan Roma lewat mitologi Dewi Athena/Minerva yakni seorang dewi kebijaksanaan.
Namun di belahan dunia lain, yakni di Inggris ratusan tahun silam burung ini tidak dianggap semulia itu, bahkan masyarakat Inggris kebanyakan membencinya.
Lewat berbagai karya seni kuno dari para penyair Era Medieval di Inggris, burung hantu adalah epitome simbolisasi dari keburukan, kegelapan dan kekotoran.
Mereka mengambil referensi Alkitab yang juga menyebutkan bahwa binatang ini buruk. Di Leviticus contohnya menyebutkan bahwa burung hantu adalah satwa yang tidak suci.
Salah satu cerita rakyat yang populer berjudul "Buruk Merak dan Burung Hantu" karya Saint Nabor menceritakan tentang bagaimana jahat dan kejinya spesies burung ini.
Dalam cerita tersebut, merak putih yang digambarkan sebagai makhluk suci bagai dewi dibunuh dengan keji oleh burung hantu yang pencemburu dan tidak punya rasa ampun.
Selain digambarkan lewat cerita-cerita rakyat di masa lalu, simbolisasi jahat tentang burung hantu berlanjut saat Inggris dilanda masa dimana rasisme makin merebak di wilayah tersebut.
Orang-orang Inggris menyatakan bahwa burung hantu lekat dengan kepribadian para imigran Yahudi yang mulai banyak menetap disana. Mereka menganggap orang-orang Yahudi ini seperti burung hantu yang menolak cahaya (diartikan sebagai tuhan).
Mereka (orang Yahudi) juga hidup dalam cara yang "tidak bersih" karena sesat dan murtad menurut keyakinan para orang-orang Inggris tersebut.
Shakespeare, seorang penyair paling terkenal sepanjang masa juga kerap mengasosiasikan binatang ini sebagai sosok jahat dalam karya sastra yang ia ciptakan.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Keberadaan Gajah Endemik yang Raib dari Peradaban Jawa Modern
Setelah Era Medieval di Inggris, konotasi permusuhan terhadap burung hantu masih berlanjut. Burung pemakan daging ini juga dikaitkan tengan orang-orang Katolik lalu orang Puritan saat masa Reformasi Gereja.
Meskipun kini burung hantu lebih dikenali sebagai burung yang membawa kebijaksanaan dan pendidikan. Namun, di masa lalu umum beredar narasi-narasi negatif yang digunakan terhadap burung hantu terhadap kalangan yang terpinggirkan maupun konflik berdarah yang sempat terjadi.
Source: Archeo Histories (X), University of Notre Dame
Editor : Baskoro Septiadi