RADARSEMARANG.ID - Saat musim penghujan seperti saat ini, rata-rata durasi waktu hujan yang mengguyur di wilayah Indonesia menghabiskan paling tidak hitungan jam.
Jika kapasitas hujan turun dengan deras dan volume debit air yang masuk ke permukaan bumi tidak mampu masuk kedalam tanah, beberapa kota pesisir menjadi langganan banjir tahunan yang sudah berjalan selama belasan tahun kebelakang.
Kondisi ini dialami oleh kota-kota pesisir seperti Semarang dan Jakarta yang memang terkenal dengan banjirnya. Namun di sisi lainnya semakin banyak wilayah yang tergenang membanjir ini juga imbas dari perubahan iklim yang makin terlihat.
Namun taukah bila di masa lalu, bumi juga pernah kebanjiran debit air dalam skala besar karena mengalami hujan abadi yang menghabiskan waktu selama kurang lebih satu juta tahun!.
Di kondisi bumi yang serba basah tersebut, banyak daratan yang kemudian berubah menjadi rawa-rawa dan sungai. Tentunya kehidupan juga berubah secara drastis memaksa seluruh makhluk didalamnya beradaptasi untuk kondisi ini.
Bumi yang sebelumnya di periode Trias Akhir terlihat kering dan tandus, akibat hujan abadi ini menjadi basah dan lembab.
Fenomena hujan tanpa henti ini terjadi di masa Trias Akhir. Para ilmuwan juga menyebut peristiwa ini dengan nama Peristiwa Pluvial Karnia. Kondisi ini menjadi titik balik bagi evolusi kehidupan membuka jalannya.
Peristiwa ini terjadi sekitar 232 juta tahun yang lalu dan merupakan akibat dari kegiatan aktivitas vulkanik dari pegunungan yang kini berada di wilayah Wrangellia, Kanada dengan skala luar biasa.
Secara singkat, saat bumi yang saat itu masih merupakan super benua bernama Pangea mengalami global warming atau pemanasan iklim akibat letusan super yang kita singgung sebelumnya.
Letusan ini melepaskan volume besar dari gas rumah kaca, karbon dioksida dan metana menuju atmosfer menutupi langit dan memicu pemanasan global. Meningkatnya suhu global memicu penguapan besar di laut yang menyebabkan kelembapan atmosfir.
Penguapan inilah yang kemudian menjadikan pola cuaca sangat mendukung untuk hujan dalam waktu yang sangat lama. Ditambah awan vulkanik yang memperparah siklus hujan menjadi lebih deras.
Era baru yang basah ini setidaknya membunuh banyak sekali spesies amfibi, tetrapods, reptil generasi awal dan juga tumbuhan-tumbuhan purba yang tidak bisa beradaptasi. Masa ini bahkan disebut juga debagai masa kepunahan Triasic.
Baca Juga: Harimau Ngandong, Spesies Harimau Raksasa yang Keberadaan Fosilnya Ditemukan di Blora Jawa Tengah
'Kiamat Trias' ini juga bertanggungjawab atas menghilangnya sepertiga dari keseluruhan spesies binatang yang hidup di laut.
Namun, kepunahan mayoritas binatang-binatang yang sebelumnya menghuni Bumi ini membuka jalan baru bagi kehidupan yang lebih modern. Seperti Dinosaurus, Mamalia, reptil laut dan tanaman Conifer.
Source: Paleontology World, Science Direct, Mongabay