RADARSEMARANG.ID - Mendapat sebutan 'Timnas Pusat' yang disematkan oleh warganet Indonesia pada Timnas sepakbola Belanda berkat masifnya rekruitmen pemain keturunan diaspora yang membela Timnas indonesia.
Tim ini merupakan salah satu raksasa sepakbola internasional yang kerap malang melintang di kejuaraan sepakbola dunia serta menghasilkan banyak bintang di persepakbolaan Eropa.
Timnas Belanda sangat digemari oleh warga Indonesia, khususnya sejak dahulu selalu mendapat perhatian istimewa bagi orang-orang di wilayah Indonesia Timur berkat kaitan sejarah maupun sosio-politis.
Di Ambon misalnya, supporter dari Timnas Belanda dengan antusias selalu merayakan setiap kemenangan dari De Oranje, sebutan timnas negara kincir angin tersebut.
Jalanan akan penuh dengan bendera berwarna oranye, berbagai ornamen tim yang berwarna oranye serta lautan manusia yang konvoi mengenakan jersey timnas Belanda yang berwarna oranye.
Dari sini muncul lah pertanyaan kenapa Timnas Belanda selalu identik dengan warna oranye, seperti kita ketahui bahwa negara ini tidak memiliki unsur warna oranye di dalam benderanya.
Sejarah Identitas Oranye Sebagai Warna Kebanggaan Belanda
Dalam sejarah Belanda, warna orange memainkan peranan penting dalam masyarakat dan keluarga kerajaan. Semboyan Oranje boven, oranje boven, leve de koning! (Orange above all, orange above all, long live the king!) bergema setiap Timnas Belanda bertanding.
Mereka kerap meneriakan semboyan tersebut di hari-hari besar yang bersejarah bagi Belanda, seperti King's Day yang dirayakan oleh seluruh rakyat Belanda.
Kecintaan mereka pada warna oranye ini dapat ditarik jawabannya dari para bangsawan, Royal Family -The House of Oranje Nassau. Yang pada awalnya bermula dari William of Orange yang berkuasa dari tahun 1554.
William of Orange/ William the Silent, yang kemudian menjadi sosok pendiri kerajaan Belanda, ia diberi nama Orange dari nama wilayah kekuasaannya ; Oranje yang kini berada di sebagian kecil Prancis, nama ini diberikan dari Rene of Chalon.
Baca Juga: PSSI Jalin Kerjasama dengan KNVB, Timnas Belanda Diagendakan Datang Kembali ke Indonesia
Dari nama wilayah inilah, Belanda memiliki ikatan yang kuat dan melekat terhadap warna oranye yang seperti kita kenal saat ini. Bahkan awalnya diketahui bendera Belanda juga memiliki warna Oranye-Putih-Biru. Namun ada tiga teori bagaimana warna oranye bisa berganti menjadi warna merah.
Teori pertama, bendera memudar seiring berjalannya waktu menjadi merah, dan untuk menghindari kebingungan massal, warna merah kemudian digunakan secara resmi menggantikan oranye.
Teori kedua yakni adalah hasil dari perjanjian pertahanan Inggris-Belanda yang melarang para anggota keluarga House of Oranye untuk menjadi pemimpin negara Belanda.
Dan yang terakhir adalah bendera Merah-Putih-Biru terlahir dari warna House of Wittelsbach yang berkuasa pada tahun 1354 hingga 1433, warna ini mengacu pada bendera perang Bavaria di tahun yang sama.
Jadi, warna oranye ini di Belanda sudah menjadi warna ikonik yang digunakan setiap orang disana untuk menunjukkan rasa nasionalismenya. Tentunya juga berkat William of Orange yang berhasil membentuk kerajaan Belanda hingga seperti yang kita kenal sekarang.
Oleh karena itu, timnas yang merupakan wadah nasional bagi persepakbolaan juga pastinya turut menggunakan warna oranye sebagai warna kebanggaan yang mereka kenakan dalam mendukung De Oranje.
Oranje Legioen, para pendukung tim sepakbola Belanda terkenal berkat fanatismenya juga terhadap warna oranye. Mereka dengan jumlah yang masif selalu bisa merubah tempat apapun yang mereka datangi penuh sesak dengan lautan manusia berbaju oranye. Fenomena ini dikenal para supporter dengan sebutan Orange Fever.
Trivia
William of Orange sendiri merupakan pemimpin yang bertanggungjawab memimpin Revolusi Belanda dari Penjajahan Spanyol saat Eighty Years War dari tahun 1568 hingga 1648.
Revolusi ini berdampak besar, ia berhasil memerdekakan wilayah ini sehingga terlahirlah Provinsi Belanda cikal-bakal dari Kerajaan Belanda yang ada saat ini. Ia bahkan juga dijuluki sebagai Bapak Negara Belanda.
Source: Dutch Review, Dutch Amsterdam, Royal House of Netherland