RADARSEMARANG.ID - Dalam masa yang sudah modern seperti sekarang, diskriminasi kepada kaum perempuan tentunya dalam berbagai aspek sudah menurun drastis.
Pergerakan emansipasi kesetaraan sejak masa post-kolonial dengan masif digencarkan ke seluruh penjuru dunia, terlebih pula pemikiran-pemikiran feminisme yang makin berkembang.
Di Indonesia, tentunya kita mengenal tentang sosok R.A Kartini, sosok ibu dari perjuangan emansipasi perempuan di Nusantara yang terlahir di Jepara, Jawa Tengah.
Namun berbicara tentang perempuan tangguh yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ada pula sebuah nama yang kurang populer di masyarakat namun kiprahnya tak main-main dalam memerangi penjajah yang masuk ke Tanah Jawa.
Ialah Raden Ayu Yudokusumo, sebuah nama yang terlibat langsung dengan peristiwa Perang Jawa dibawah komando Pangeran Diponegoro, kelak nama ini pula yang ditengarai memimpin peristiwa Pembantaian Bengawan Solo.
Raden Ayu Yudokusumo, seorang putri kerajaan dari pasangan Hamengkubuwuno I dengan Raden Ayu Srenggono. Yang kemudian dipersunting oleh Raden Tumenggung Wirosari, seorang Bupati di Ngawi, Jawa Timur.
Ia juga merupakan seorang bibi dari Pangeran Diponegoro. Kendati demikian, umur keduanya tak terpaut jauh sehingga bisa disebut sepantaran.
Lalu, bersama dengan Nyi Ageng Serang, kedua wanita ini merupakan prajurit wanita yang tercatat dalam sejarah Perang Jawa yang pecah pada tahun 1825.
Di Yogyakarta sendiri, meskipun banyak dari wilayah-wilayah sekitarnya yang masih memegang teguh pendirian patriarki (tidak menghendaki perempuan dalam berbagai sektor pekerjaan).
Namun, terdapat progresivitas di era Mangkunegoro I dan Hamengkubuwono I yang mulai membentuk prajurit perempuan untuk bertugas ikut serta melindungi keraton dari marabahaya yang mengancam (disebut prajurit estri).
Kembali ke Raden Ayu Yudokusumo, putri ini diketahui merupakan seseorang sosok perempuan yang amat mandiri, berbekal dengan kecerdasan yang ia miliki serta pengalamannya memimpin wilayah Grobogan, sebelum akhirnya dipindah ke Ngawi atas dasar perjanjian Giyanti.
Ia memiliki kepribadian yang cukup keras dan tanggap dalam mengambil keputusan, hal tersebut dikarenakan kurang cakapnya sang suami, Raden Tumenggung Wirosari dalam menjalankan pemerintahan.
Baca Juga: Bubur Blendrang, Menu Makanan Favorit Pasukan Pangeran Diponegoro yang Khas di Magelang
Oleh karena itu, berbagai siasat dan keterampilannya sangat membantu pasukan Diponegoro sehingga menjadikan dirinya prajurit dengan pangkat yang cukup tinggi dan disegani, yaitu Panglima Kavaleri Senior yang bertugas di medan tempur bagian timur.
Kelak, seiring berjalannya waktu ia akhirnya ditugaskan untuk bergabung dengan pasukan Raden Tumenggung Sosrodulogo di daerah Jipang, Cepu, Blora hingga Rajegwesi.
Kedua tokoh ini berkolaborasi menghalau serangan VOC dan militer Belanda yang mencoba menduduki wilayah utara Jawa pada tahun 1827 hingga 1828.
Source: Keraton Yogyakarta (X), Universitas Stekom, Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX (Buku)
Sumber : Berbagai Sumber