RADARSEMARANG.ID - Indonesia merupakan salah satu negara yang juga berfungsi sebagai rumah bagi banyak spesies fauna yang beragam dan bervariasi jenisnya.
Persebaran para satwa ini dipengaruhi oleh iklim dan cuaca di Indonesia yang hangat, jadi lebih banyak memungkinkan spesies-spesies ini menetap dan menjadi penghuni hutan hujan di Indonesia.
Setiap daerah tentunya memiliki fauna yang mewakili identitas mereka karena persebaran yang begitu masif di lingkungan alamiahnya.
Ibukota Jawa Tengah, Semarang memiliki satwa endemik dari spesies unggas yang bernama Kuntul Perak atau Egretta Intermedia.
Kuntul Perak merupakan jenis burung berkaki jenjang yang kerap ditemui di wilayah yang kaya akan perairan.
Hal ini dikarenakan makanan utama yang menjadi sumber kehidupan burung ini adalah binatang-binatang kecil yang menghuni wilayah tersebut. Seperti ikan kecil, katak, serangga, kepiting dan sebagainya.
Burung ini termasuk dalam jenis burung berukuran sedang dalam keluarga Egretta atau Ardea. Diketahui asalnya dari Afrika Barat yang berhasil melakukan migrasi jauh ke Selatan hingga ke Indonesia.
Dari peta persebarannya, unggas berkaki panjang ini dapat kita temukan mulai dari dataran India hingga Indonesia, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Riau, Sumatera Selatan dan Pulau Jawa.
Burung ini dikenal dengan daya tahan tubuh dan stamina yang kuat. Mereka dapat terbang sejauh 4.000 km dan berpindah dari satu benua ke benua lainnya di dunia.
Keberadaan burung ini sangat menguntungkan hasil panen dari para petani lokal. Karena menu makanan burung ini merupakan hama yang kerap merugikan para petani seperti keong dan tikus sawah.
Karena hal tersebut, Burung Kuntul Perak disebut juga sebagai pengontrol hama, Kuntul Perak menjadi predator bagi hewan-hewan dengan tingkat reproduksi tinggi yang kerap menjadi musuh pertanian.
Sekitar kurang lebih satu dekade silam, satwa ini terkenal di Semarang sebagai burung-burung yang menjadi ikon di daeral Srondol.
Mereka bermukim di pepohonan yang berada di depan Markas Yonif Riders 400 Srondol. Karena banyaknya populasi Kuntul Perak menyebabkan masyarakat telah terbiasa dengan kehadiran mereka.
Masyarakat Semarang menganggap burung-burung ini sebagai bagian dari keunikan yang dapat disaksikan secara langsung saat melewati sepanjang Jalan Srondol-Banyumanik.
Namun dikarenakan keberadaan mereka yang bertengger di atas pepohonan, mengakibatkan 'kejutan' berupa kotoran yang kerap mengenai para pengendara yang melintas.
Jalanan aspal pun kerap berubah warna menjadi putih imbas dari burung-burung ini yang rutin membuang kotorannya dari atas pepohonan tersebut.
Sayangnya, kini kita sudah tak menemukan lagi gerombolan burung berwarna putih eyang mendiami wilayah ini, karena hampir seluruhnya telah pindah ke tempat lain.
Burung putih yang menetap dan bersarang di pohon Asam di wilayah Srondol pada sekitar tahun 1980 hingga 2010-an tersebut kini berpindah ke sekitar TPI Mangunharjo, Jerakah, sampai Sayung, Demak.
Namun, tenang saja. Berkurangnya intensitas kita menjumpai spesies ini bukan karena indikasi kepunahan. Hanya saja mereka menemukan rumah yang lebih mengakomodasi kebutuhan akan pangan mereka di pesisir.
Source: Greeners, Thai National Parks, JawaPos
Editor : Baskoro Septiadi