RADARSEMARANG.ID - Jagad dunia sosial media tengah ramai dengan sebuah berita tentang pernikahan dua publik figur asal Indonesia.
Rizky Fabian, anak dari komedian Sule dikabarkan akan menikah dengan Mahalini, seorang penyanyi multitalenta asal Bali berusia 24 tahun.
Keduanya memang sebelumnya sudah diketahui sedang menjalin hubungan asmara dan sering memamerkan kebersamaannya di sosial media.
Namun, yang jadi perhatian netizen adalah perbedaan agama keduanya yang dinilai menghalangi kedua pasangan ini untuk bersama.
Di Indonesia sendiri, pernikahan beda agama menjadi hal kontroversial yang masih diperdebatkan, masih ada pro-kontra terkait masalah ini.
Menurut hukum, dilansir Kemenag, Mahkamah Agung telah memberikan penjelasan, perkawinan beda agama tidak diakui oleh negara dan tidak dapat dicatatkan.
Apabila perkawinan tersebut dilaksanakan berdasarkan agama salah satu pasangan dan pasangan yang lain menundukkan diri kepada agama pasangannya, maka perkawinan tersebut dapat dicatatkan (Surat Mahkamah Agung Nomor 231/PAN/HK.05/1/2019 tanggal 30 Januari 2019).
Baca Juga: Potret Shin Tae Yong Muda Saat Bertanding Melawan Persib Bandung Era 90-an
Hal tersebut menarik opini berbagai pihak, khususnya netizen yang kerap mengomentari kehidupan pribadi artis, namun karena sudah menjadi konsumsi publik, berita ini menjadi salah satu topik yang hangat akhir-akhir ini.
Melalui postingan Facebook pribadinya, I Gede Pasek Suardika, salah seorang mantan senator Republik Indonesia yang terpilih menjadi anggota DPD-RI Periode 2014-2019 memberikan pandangannya terkait pernikahan viral ini.
Ada 7 poin yang dibahas oleh politikus asal partai Demokrat yang juga merupakan tokoh beragama Hindu tersebut, diantaranya adalah:
1. Semua orang berhak mencari jalan kebahagiaan masing masing dan diyakini itu adalah pilihannya yang tepat. Serta tidak pantas pihak lain harus mengkontestasikan agama mana yang menang dalam tarik menarik tersebut.
2. Dalam Islam ada istilah Mualaf bagi yang masuk mengikuti agama Islam dan dalam Hindu ada istilah Dharmika bagi yang kembali ke ajaran Sanatana Dharma yaitu Hindu. Itu adalah label ketika terjadi hijrah keyakinan secara formal tetapi tetap saja itu hak pribadi masing masing.
3. Dalam Hindu tidak ada doktrin harus berlabelkan formal agama Hindu untuk meyakini dan menjalani Tata Etika dan Rituil Hindu. Sehingga jangan kaget jika Yoga bisa didalami oleh siapapun tanpa pindah agama, melukat menjadi tradisi healing kelas satu bagi wisatawan nusantara dan mancanegara. Belum lagi mebayuh oton, meaben dan upacara upacara lainnya tanpa harus pindah agama. Karena yang disentuh adalah jiwanya bukan KTP nya. Mau percaya Karmaphala, Reinkarnasi tidak mesti ber KTP Hindu.
4. Jika setelah menjalani, meyakini relegiusitas Hindu tanpa pindah agama asal, tidak akan pernah ada yang memasalahkan, santai saja. Jika ingin totalitas bisa dengan Upacara Sudi Wadani sehingga lahir bathin serta label berada dalam satu frekwensi Sanatana Dharma. Jadi murni itu pilihan hati nurani masing masing.
5. Saya orang yang tidak percaya dengan istilah upacara mepamit sebagai bentuk, putusnya hubungan keyakinan dengan leluhurnya. Sebab tidak ada kekuatan apapun termasuk puja Sulinggih manapun yang mampu memutus hubungan seseorang dengan leluhurnya.
Jadi jika pindah keyakinan itu hanya matur piuning saja dan hubungan keleluhuran tetap akan terikat. Tentu hanya manusia yang rusak struktur kejiwaannya dengan sengaja akan memutuskan hubungan dengan leluhurnya.
Jika melupakan leluhur, maka percaya atau tidak pasti kehancuran akan terjadi. Sebab akarnya sudah tercerabut maka setinggi dan sebesar apapun pohon kehidupan yang telah direngkuh akan roboh oleh hembusan angin.
6. Perkawinan hanyalah salah satu tahapan kehidupan Grehasta Asrama. Dimana didalamnya ada suka duka lara dan ujungnya pati. Maka saling mendoakan yang terbaik adalah yang tepat dilakukan dibandingkan harus menghakimi pilihan seseorang.
7. Mari doakan, siapapun yang menikah dengan pilihan agama apapun bisa berbahagia. Hanya satu pesan, setelah memilih meninggalkan yang lama tidak, perlu menjelekkan agama asalnya. Tidak ada untungnya juga.
Nah, itu adalah beberapa poin yang diungkapkan oleh politisi beragama Hindu ini, bagaimanapun kita doakan yang terbaik untuk kedua pasangan yang akan melangsungkan pernikahannya ini.
Source : @GLHindu, FB : Gede Pasek Suardika
Editor : Baskoro Septiadi