RADARSEMARANG.ID - Akhir-akhir ini masyarakat terutama warganet pasti sering mendengar atau sekedar tahu tentang sebuah istilah yang viral di jagad maya.
Yakni, 'Kenapa Bandung?' frasa ini dipopulerkan oleh berbagai akun yang berawal dari video pendek oleh @ardan_achsya, seorang konten kreator yang terkenal pandai merangkai kata.
Ia berpendapat bahwa Bandung adalah kota yang santai, Bandung berjalan dengan lambat, tidak seperti Jakarta yang menuntut apa-apa harus cepat.
Ardan bahkan mengutip pernyataan Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, yang mengatakan " Aku kembali ke Bandung, kepada cintaku yang sesungguhnya".
Bandung menjadi tempat Soekarno muda memulai pendidikannya untuk kelak memimpin bangsa ini, di tempat ini pula Soekarno berjuang bersama salah satu istrinya, Inggrit Ginarsih.
Ardan melanjutkan bahwa Bandung selalu menjadi tempat yang romantis, bahkan sebelum ia lahir, tanpa perlu ia romantisasi.
Ungkapan 'Kenapa Bandung?' menjadi populer dan diperbincangkan oleh banyak orang, banyak yang menganggap perkataan Ardan terlalu meromantisasi kota ini.
Sebelum Bandung, romantisasi kota selalu menjadi hal menarik bagi masyarakat Indonesia. Kita selalu menyukai hal-hal cantik yang dipublikasikan dan diagungkan, seperti halnya Jogja.
Jogja dan Bandung sama-sama menjadi kota yang diromantisasi oleh masyarakat, memang tak ada yang salah.
Romantisasi ini biasanya tak lahir dari masyarakat asli daerah tersebut, karena mereka tahu betul bagaimana kondisi riil di lapangan.
Romantisasi tak jauh dari memori, kedua kota, Bandung dan Jogja merupakan kota tujuan untuk mengenyam bangku perkuliahan.
Setelah pulang, kesan baik terhadap kota ini menjadi hal penggerak untuk meromantisasi kota tersebut, entah lewat kisah cinta ataupun perasaan kagum terhadap daerah yang baru mereka datangi.
Baca Juga: Lentari Van Lorraine, Selebram Artificial Intelligence Pertama di Indonesia
Tapi romantisasi ini akan menutup sudut pandang lain tentang sebuah kota, tentunya tak semua hal adalah baik, dan dengan romantisasi yang sedemikian rupa, kita melupakan sisi yang perlu diperbaiki dari kota ini.
Seperti Jogjakarta, ia menyimpan kecantikan yang tak pernah pudar, ia memang istimewa di setiap sudutnya tapi Jogja juga punya urusan yang belum rampung.
Menurut BNSP, romantisasi ini melupakan fakta bahwa Jogja merupakan salah satu kota dengan UMR terendah dan budaya kriminal klitih yang cukup mengkhawatirkan.
Penggunaan filosofi-filosofi hidup ala Jawa dan kecantikan yang Jogja tawarkan mengaburkan fakta bahwa pekerja di kota ini juga sengsara dengan pendapatan yang kecil, ia justru menghilangkan hasrat semangat pekerja di Yogyakarta.
Dan Bandung, yang kini tengah diromantisasi habis-habisan oleh warganet juga mendapat kritikan karena Bandung pada kenyataannya masih memiliki banyak permasalahan seperti banjir, korupsi dan kemacetan.
Slow pace yang diutarakan oleh orang-orang yang meromantisasi Bandung juga dikritik sebagai budaya untuk mewajarkan pengangguran.
" Memilih kota yang pergerakannya lambat adalah hal paling 'pengangguran' yang pernah aku dengar, tapi aku tetap respect" ujar @mahdinosaur di X.
Bagaimanapun opini orang, Bandung dan Jogja tetap indah dengan cara dan permasalahannya masing-masing, ia tetap istimewa dengan seluruh kebudayaan dan masyarakatnya.
Editor : Baskoro Septiadi