RADARSEMARANG.ID - Kawasan Rawa Pening di Ambarawa memang menjadi primadona bagi para angler atau pemancing yang hendak membuktikan kelihaian tarikan senarnya.
Berduyun-duyun ratusan orang mampir dan mencoba peruntungan memancing di kawasan yang merupakan danau alami tersebut.
Para pemancing biasanya mengincar berbagai jenis ikan lokal yang berada di Rawa Pening seperti Nila, Sepat Rawa, ikan Gabus, Lele dan Wader.
Tapi tak jarang pula pemancing-pemancing ini malah mendapatkan ikan Red Devil, yang menurut pengakuan warga sekitar jarang diminati karena banyaknya duri didalam tubuh ikan jenis tersebut.
Red Devil atau bernama latin Amphilobus labiatus, merupakan ikan air tawar yang masih memiliki kekerabatan dengan ikan Lou Han yang sempat populer dipelihara oleh masyarakat Indonesia.
Ikan ini bukanlah ikan khas asli Indonesia, melainkan berasal dari Amerika Tengah, spesifiknya ia berasal dari perairan Nikaragua.
Red devil sendiri merupakan spesies ikan predator yang memangsa ikan lain yang lebih kecil darinya, serangga, siput atau katak.
Ikan ini disebut sebagai salah satu spesies yang rakus, bahkan keberadaannya dianggap hama dan spesies yang merugikan ekologi alam sekitar, pasalnya ikan ini seringkali memangsa ikan-ikan endemik lokal yang berada di tempat ia hidup, salah satunya danau Rawa Pening.
Baca Juga: Cek Website Ini Jika Ingin Dapat Banyak Ikan Saat Mancing di Muara Sungai Maupun Pantai
Persebaran spesies ikan ini awalnya diperkirakan akibat menjamurnya tren memelihara ikan Louhan beberapa tahun silam. Permintaan pasar yang tinggi juga membawa Red Devil ikut serta dikembangbiakan dan menjadi indukan untuk Louhan peliharaan.
Red Devil yang secara biologis masih berkerabat dengan Louhan dengan ciri-ciri spesifik yang hampir sama akhirnya juga di-hibrida-kan untuk mendapat anakan louhan dengan spesifikasi tertentu.
Nah, karena harga jual Red Devil yang cenderung lebih rendah sebagai ikan hias, juga minat pasar yang lebih sedikit mengakibatkan pembiaran terhadap spesies yang satu ini untuk waktu yang lama.
Menurut Rikho Jeriko, seorang pemerhati ikan, dilansir Radar Solo mengatakan "Dugaan saya jadi overflow, Red Devil dibiarkan saja karena tak ada harganya, lalu karena bosan terlepas, atau dilepaskan di perairan umum, kemungkinan jalur masuk pertama melalui jalur ikan hias".
Di Rawa Pening sendiri, sebagai tempat tersebarnya spesies ikan invasif ini cukup merugikan banyak pihak, ikan ini selain menjadi hama bagi spesies lokal, juga tidak banyak orang yang berminat untuk memanfaatkannya sebagai bahan konsumsi ataupun ikan peliharaan.
Keresahan para nelayan cukup besar terhadap ikan ini, dalam video yang diupload oleh akun Instagram @umkm.indonesia, dalam video yang beredar seorang nelayan menunjukkan hasil tangkapannya selama mencari ikan di Rawa Pening.
Tetapi, hampir seluruh ikan yang ia dapatkan merupakan ikan Red Devil yang persebarannya sudah sangat banyak di Rawa Pening, dengan kecewa ia mengangkat satu karung yang berisi ikan berwarna oranye ini.
Di akhir video, ia dengan kecewa menunjukkan ikan-ikan hasil tangkapannya sembari berkata bahwa ikan Red Devil saking tidak berharganya diberikan ke kucing saja, kucing menolak.
Editor : Baskoro Septiadi