RADARSEMARANG.ID - Bagi warga Ambarawa dan sekitarnya pasti tidak asing dengan sebuah monumen yang bernama Monumen Palagan Ambarawa.
Berada di tengah kota Ambarawa, monumen ini didirikan sebagai pengingat atas sebuah kejadian perang besar yang terjadi di kota kecil ini.
Kejadian ini terjadi pada tahun 1945, semenjak tanggal 22 November hingga 15 Desember 1945 dikarenakan kedatangan pasukan sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Bethel, jenderal yang memerintahkan divisi 23 Artileri India mendarat di Semarang.
Kedatangan pasukan sekutu ini bertujuan untuk membebaskan para tahanan sekutu di penjara Benteng Willem yang terletak di Ambarawa, sekitar 1 jam dari ibukota Jawa Tengah, Semarang.
Awalnya kedatangan tentara sekutu ini disambut baik oleh Wongsonegoro, gubernur Jawa Tengah pada waktu itu. Sebagai negara yang baru saja merdeka, tentu Indonesia sedang mencoba berprasangka baik terhadap Inggris.
Ternyata setelah pendaratan, tak disangka tentara sekutu mencoba untuk mempersenjatai tawanan perang Belanda di Ambarawa, mereka mencoba merebut wilayah tersebut dari pihak Republik Indonesia.
Sempat terjadi bentrok antara pihak TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ) dengan tentara sekutu yang dibonceng NICA, sebuah pasukan militer milik Kerajaan Belanda, aalhasil Presiden Soekarno bersama dengan Jenderal Bethel mengundingkan gencatan senjata oleh kedua pihak.
Namun hal tersebut malah diingkari oleh tentara sekutu yang mendatangkan tambahan pasukan dari Magelang untuk menghadapi pihak Republik.
Akibat kondisi yang makin memanas, pihak TKR pun memanggil bala bantuan dari Jogjakarta, bantuan pun datang pada 21 November 1945.
Keesokan harinya perang pecah dan kedua pihak saling mengambil alih desa-desa dan wilayah administratif di kota Ambarawa. Para pejuang yang dipimpin Letkol Isdiman, terdiri dari TKR dan pemuda setempat membentuk garis pertahanan di sekitar rel kereta api yang membelah kota Ambarawa.
Merasa terdesak, pihak sekutu melancarkan serangan dari udara dan membombardir kota Ambarawa dari atas dengan pesawat-pesawat tempur yang lebih canggih dari persenjataan pihak republik.
Para pejuang tetap mencoba mempertahankan kota Ambarawa sembari sesekali mundur ke daerah Bedono, yang secara administratif masuk ke Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Bantuan untuk pihak republik terus berdatangan, dari front selatan beberapa divisi masuk dan membantu pejuang yang berada di Ambarawa. Salah satunya Batalyon 10 divisi X pimpinan Mayor Soeharto.
Baca Juga: Sejarah Motor Caferacer, Motor Custom yang Digandrungi Anak Muda Sekarang
Sedangkan dari Purwokerto, Divisi V yang dipimpin oleh Imam S berhasil memukul mundur pihak sekutu yang menduduki desa Pingit dan daerah lain di Magelang.
26 November 1945, Letnan Kolonel Isdiman harus gugur di sebuah pertempuran akibat serangan pesawat tempur musuh yang membombardir dengan senjata mitraliyur.
Gugurnya Letkol Isdiman mengakibatkan pergantian kepemimpinan peperangan front Ambarawa ini jatuh kepada Kolonel Soedirman, yang kelak akan kita kenal dengan sebutan Jenderal Soedirman.
Dilansir website resmi tniad.mil.id Kolonel Soedirman menggunakan strategi taktik supit urang, yakni sebuah taktik pengepungan dua sisi yang dilakukan secara cepat, serentak, senyap dan terkonsep dengan baik.
Taktik tersebut berhasil mengubah alur peperangan menjadi lebih menguntungkan bagi pihak republik. Sekutu terkepung dengan setiap serangan yang dilakukan dari berbagai sisi dan berhasil membuat mereka dipukul mundur hingga mencapai Semarang.
15 Desember 1945, perang berakhir dengan kemenangan diperoleh pihak republik Indonesia, tetapi meninggalkan Ambarawa menjadi kota lautan api, karena dengan mundurnya sekutu sembari membakar habis perkampungan di Ambarawa sebelum mereka mundur ke Semarang.
Menurut website Nusantara History, estimasi korban yang gugur di pihak republik jauh lebih banyak yakni diperkirakan 2000 pejuang dan rakyat Ambarawa yang gugur dalam pertempuran tersebut.
Sedangkan di pihak sekutu, korban jauh lebih sedikit dengan perkiraan kurang lebih 100 orang tewas, tetapi sekutu mengalami kerugian moral yang disebabkan kekalahan mereka dengan tentara yang secara statistik persenjataan dibawah mereka.
Untuk mengenang hal tersebut, pada 15 Desember 1974. Tanggal dimana pasukan TKR dibantu masyarakat Ambarawa mengusir sekutu yang dibonceng NICA keluar dari Ambarawa. Presiden Soeharto meresmikan Museum Palagan Ambarawa yang didedikasikan untuk peristiwa bersejarah tersebut. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi