Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pamerkan 13 Karya Lukisan, Isrol Medialegal Angkat Tiga Tema Penting, Apa Saja?

Khafifah Arini Putri • Rabu, 15 November 2023 | 03:23 WIB
Pengunjung menikmati karya lukisan Isrol Medialegal yang terpajang di Grobak Art Kos I Hysteria.
Pengunjung menikmati karya lukisan Isrol Medialegal yang terpajang di Grobak Art Kos I Hysteria.

RADARSEMARANG.ID, GAJAHMUNGKUR - Sebanyak 13 lukisan karya seniman Isrol Triono terpajang di Grobak Art Kos I Hysteria, Jalan Stonen No.29, Bendan Ngisor, Gajahmungkur, Semarang.

Isrol Medialegal sapaan akrabnya membawakan tiga tema, berkaitan dengan isu sosial, humanis, dan agraria.

Memasuki ruang pameran. Pengunjung akan dimanjakan dengan lukisan karya Isrol yang banyak menggambarkan tokoh anak-anak.

Baca Juga: Kejari Tahan Kades di Kendal yang Selewengkan Dana Desa Senilai Rp 235 Juta

Baca Juga: Tergiur Upah Rp 1 Juta, Wanita di Semarang Nekat Selundupkan Ratusan Pil Koplo ke Lapas Kedungpane

Menariknya lagi media lukisan yang digunakan berasal dari bekas rolling door, patahan besi, juga kayu dan kanvas.

Pameran ini untuk digelar untuk umum hingga 15 November 2023. Mahasiswa juga banyak yang berkunjung untuk melihat sekaligus juga belajar tentang seni.

Seniman Isrol Medialegal mengatakan pameran ini merupakan hasil kolaborasi bersama Kolektif Hysteria pada program Buah Tangan Edisi ke-28.

Menurutnya tiga tema yang diangkat ini lekat dengan kehidupan sehari-harinya. 

"Program buah tangan itu menceritakan pengalaman seniman dari aktivitas berkarya," ungkapnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang. 

Ia menambahkan digunakannya figur anak-anak pada kebanyakan karyanya memiliki makna tersendiri.

Di antaranya karena mereka memiliki kebebasan untuk berekspresi.

Menurutnya melalui peran anak-anak ini dia bisa mengungkapkan arti kebebasan di kehidupan.

Meski halang rintangan menerjang, anak-anak akan tetap tertawa dan maju terus.

Beda dengan orang dewasa, yang punya batasan tertentu dalam hal pikiran maupun kebebasan berekspresinya.

"Kehadiran anak-anak di tiap kali berproses itu bisa sepolos dan sebebas itu dalam mengutarakan sesuatu. Saya mengambil itu dari anak-anak," imbuhnya.

Salah satu contoh lukisannya adalah dua anak kecil yang memegang kuas.

Media gambarnya adalah rambu jalan dengan tanda S dicoret yang artinya dilarang untuk berhenti.

Dari karya ini Isrol ingin mengatakan bahwa lakukan apapun yang ingin dicapai tanpa takut adanya rintangan.

"Saya ingin ngomong lewat lukisan itu bahwa sesuatu apapun yang kamu lakuin dan itu kamu yakinin ya udah jalan terus, meski melewati banyak rintangan," ungkapnya.

Lalu ada pula lukisan Munir seorang aktivitas Hak Asasi Manusia yang sampai saat ini kasusnya belum terpecahkan. 

Salah satu pengunjung, Lukman tampak jeli memperhatikan lukisan satu per satu. Ia tertarik pada lukisan gravity seorang anak memegang globe.

Kata dia, lukisan tersebut menggambarkan seorang anak yang bebas mengembala ke seluruh dunia.

“Ini (sambil menunjuk lukisan) bagus, menggambarkan anak-anak yang bebas untuk berekspresi dan memegang dunia. Yang artinya mereka bebas pergi menimba ilmu ke berbagai benua,” akunya. (kap)

Editor : Agus AP
#Lukisan #PAMERAN #Isrol Medialegal #Hysteria Semarang