Jeff Bezos Jual Saham Amazon Rp65 Triliun, Tapi Rencananya Sudah Dibuat Sejak 8 Bulan Lalu

Tasropi • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:40 WIB
Jasa Raharja bersama Amazon Web Services (AWS), melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama terkait pengembangan artificial intelligence (AI)/ML for safety campaign, dan Co Innovation Lab and culture of innovation, di Amazon JFK 14 Office, New York, pada Senin (7/11/2022)
Jasa Raharja bersama Amazon Web Services (AWS), melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama terkait pengembangan artificial intelligence (AI)/ML for safety campaign, dan Co Innovation Lab and culture of innovation, di Amazon JFK 14 Office, New York, pada Senin (7/11/2022)

 

RADARSEMARANG.ID, Pendiri Amazon, Jeff Bezos, kembali melepas sebagian sahamnya di perusahaan ritel terbesar dunia itu.

Totalnya 15 juta lembar saham senilai US$4,07 miliar atau sekitar Rp65 triliun dijual Bezos pekan ini.

Angka fantastis itu langsung jadi sorotan.

Baca Juga: Invasi Ikan Pbass Atau Peacock Bass Asli Amazon Kini Mulai Ditemukan Pemancing di Perairan Indonesia

Apalagi penjualannya terjadi tepat sehari setelah Amazon menembus kapitalisasi pasar US$3 triliun berkat laporan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi.

Tapi tunggu dulu. Ternyata penjualan ini bukan keputusan dadakan.

Sudah Direncanakan Sejak November 2025

Berdasarkan dokumen yang diajukan ke Komisi Sekuritas AS, SEC, aksi jual Bezos dilakukan lewat skema Rule 10b5-1.

Baca Juga: Ahmad Luthfi Akan Kawal Aspirasi Nelayan ke Pemerintah Pusat Agar Ada Skema Khusus BBM

Sederhananya, Rule 10b5-1 adalah "jadwal jual saham otomatis" untuk orang dalam perusahaan.

Begitu jadwalnya diset, mereka tidak bisa lagi mengubah tanggal, jumlah, atau harga jual berdasarkan kabar terbaru di pasar.

Tujuannya agar tidak ada tuduhan insider trading.Bezos menetapkan rencana ini sejak 14 November 2025.

Artinya, sekitar 8,5 bulan sebelum sahamnya benar-benar dijual. Di dokumen itu juga tertulis saham yang dijual merupakan saham pendiri yang ia dapatkan sejak 1994, jauh sebelum Amazon IPO pada 1997.

"Dengan skema ini, Bezos tidak bisa mengubah keputusan jualnya setelah laporan keuangan Amazon di Juli keluar," tulis laporan SEC.

Ini bukan pertama kalinya. Dalam beberapa tahun terakhir Bezos memang rutin melepas saham Amazon lewat rencana terjadwal yang sama.

Bahkan pada Mei lalu, ia juga mendonasikan 220.200 lembar saham ke organisasi nirlaba.

Baca Juga: Dukung Strategi Konsolidasi Pengelolaan Investasi Nasional, BRI Umumkan Pengalihan Saham BRI-MI dan PNM-IM kepada Danantara 

Timing yang Kebetulan, Tapi Bikin Pasar Bereaksi

Meski rencananya sudah lama, waktu eksekusinya pas banget. Amazon baru saja merilis laba kuartal II pada 31 Juli 2026.

Bisnis cloud AWS yang meledak membuat saham Amazon langsung terbang dan menutup di rekor tertinggi pada Senin.

Di hari yang sama, nilai pasar Amazon resmi tembus US$3 triliun.

Saham Bezos yang dijual via Morgan Stanley juga dieksekusi Senin, dengan harga rata-rata mendekati level rekor itu.

Giliran dokumen penjualan diumumkan ke publik pada Selasa, saham Amazon langsung turun lebih dari 2%.

Pasar seperti menganggap Bezos "kabur" di puncak.

Padahal jadwalnya sudah dikunci jauh-jauh hari.

Baca Juga: Investor Amerika Masuk Jateng, Garap Pengolahan 1.000 Ton Sampah Soloraya per Hari

Kenapa Investor Harus Lihat Tanggal Adopsinya

Kasus Bezos ini jadi pengingat penting buat investor. Dokumen Form 144 dari SEC memang wajib diisi saat orang dalam mau jual saham. Tapi jangan hanya lihat tanggal penjualannya.

Yang lebih penting adalah kapan rencana itu diadopsi. Karena itu bukti bahwa keputusan jual-beli sudah dibuat sebelum ada informasi penting dari perusahaan.

Jadi meski terlihat seperti Bezos mengambil untung dari reli US$3 triliun, faktanya semua sudah diatur sejak 8 bulan lalu.

Hingga berita ini ditulis, Bezos masih tetap menjadi salah satu pemegang saham terbesar Amazon.(tas)

Editor : Tasropi
jeff bezos jual saham amazon saham amazon US$3 triliun rule 10b5-1 berita amazon 2026