RADARSEMARANG.ID - Dunia kerja kini tak lagi sekadar menuntut ijazah dan nilai akademik cemerlang. Generasi muda harus memiliki kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, kolaborasi, serta solusi atas tantangan yang terus berkembang.
Data dari Labor Market Brief LPEM FEB UI yang dipublikasikan Mei 2026 menunjukkan rata-rata lulusan di Indonesia memerlukan waktu 19,8 bulan untuk mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Studi itu juga menyoroti ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri, ekspektasi terhadap pekerjaan, serta belum optimalnya keterhubungan antara pendidikan tinggi dan dunia kerja.
Kondisi ini menegaskan bahwa kesiapan kerja tak lagi ditentukan semata oleh kemampuan akademik. Mahasiswa juga perlu mengembangkan karakter, kepemimpinan, pengalaman kolaboratif, dan keberanian menciptakan peluang serta memberi kontribusi bagi masyarakat.
Nilai-nilai itulah yang menjadi landasan program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation. Organisasi filantropi independen di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan kepemimpinan ini didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada 1981, mengembangkan TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan).
Program ini merupakan beasiswa dan pengembangan kepemimpinan terstruktur yang mendampingi mahasiswa sejak awal perkuliahan hingga lulus. Melalui dukungan finansial, pelatihan kepemimpinan, jejaring nasional, dan berbagai pengalaman pembelajaran langsung, TELADAN bertujuan mempersiapkan generasi muda menjadi pemimpin adaptif, berintegritas, dan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat.
Salah satu rangkaian utama dalam perjalanan pembelajaran penerima beasiswa TELADAN adalah Tanoto Scholars Gathering (TSG). Forum tahunan ini mempertemukan satu angkatan Tanoto Scholar dari sepuluh perguruan tinggi mitra.
TSG juga menjadi bagian transisi mereka dari fase Lead Self menuju Lead Others. Para Scholar mulai mengembangkan kepemimpinan yang tak hanya fokus pada pertumbuhan diri, tetapi juga kemampuan memimpin, berkolaborasi, dan menciptakan dampak bagi orang lain.
Melalui forum ini, mereka saling belajar, membangun jejaring, memperkuat kapasitas kepemimpinan, serta menghubungkan pembelajaran di kelas dengan tantangan nyata di dunia profesional dan masyarakat.
TSG 2026, Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact
Tahun ini, Tanoto Foundation kembali menggelar Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 di Riau Kompleks, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Riau, pada 23–25 Juli 2026.
Mengusung tema "Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact", TSG 2026 mengajak 240 Tanoto Scholar memperkuat kepemimpinan berlandaskan tujuan (purpose). Sekaligus membangun kapasitas menciptakan dampak lebih luas melalui kolaborasi, inovasi, dan aksi nyata.
Chief Operating Officer APRIL Eduward Ginting mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bekal penting bagi para mahasiswa untuk menghadapi tantangan masa depan.
"Kami mendukung kegiatan TSG 2026 agar Tanoto Scholar bisa memiliki modal yang kuat, semangat belajar yang kuat, kepedulian terhadap masyarakat, dan keberanian untuk menciptakan perubahan," jelasnya.
Sementara Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation Eddy Henry mengingatkan bahwa setiap pemimpin harus memiliki tujuan yang jelas dalam setiap langkahnya.
“Purpose mengingatkan mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, meneguhkan ketika harus mengambil keputusan sulit, dan tetap fokus ketika jalan di depan masih penuh ketidakpastian,” sebut Eddy.
Menurutnya, kepemimpinan tidak lahir secara instan. Karakter seorang pemimpin justru dibentuk dari kebiasaan dan keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Adik-adik Tanoto Scholar harus ingat, kepemimpinan yang bermakna tidak lahir secara instan. Kepemimpinan dibangun dari pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan secara konsisten: pilihan untuk mendengarkan, pilihan untuk belajar, dan pilihan untuk melakukan hal yang benar, bahkan ketika pilihan itu tidak mudah,” tutup Eddy.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli mengajak generasi muda memiliki growth mindset sebagai modal menghadapi perubahan dunia kerja. Menurutnya, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga menghadirkan nilai baru dari sesuatu yang sudah ada.
"Inovasi tidak selalu soal menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tapi bisa juga tentang memunculkan nilai atau dampak yang baru, pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Bahkan, inovasi bisa lahir dari sebuah masalah. Maka, mulailah dari masalah nyata dan dekat dengan kalian untuk diperbaiki," ungkapnya.
Ia berharap generasi muda mampu menjadi pemimpin yang membawa Indonesia menjadi negara yang bertumpu pada inovasi.
“Indonesia butuh inovasi, dan mimpi saya di 2045, Indonesia besar itu kalau kita menjadi innovation nation, dan spirit ini harus dimiliki seorang leader," imbuhnya.
Senada, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie mengingatkan bahwa di era kecerdasan buatan (AI), kemampuan mencari informasi tidak lagi menjadi pembeda. Mahasiswa justru harus mampu menciptakan, menyebarkan, dan mengolah pengetahuan.
"Saat ini, pengetahuan sudah berlimpah. Semua hal bisa dicari tahu dengan AI. Itulah pentingnya untuk kita, sebagai manusia yang menerima pendidikan tinggi, untuk bisa melakukan tiga hal penting, menciptakan ilmu, menyalurkan ilmu, dan mengkurasi ilmu. Karena kalau kemampuan kita hanya terbatas pada mencari ilmu, kita bisa dengan mudah digantikan oleh AI,” ujar Prof Stella.
Ia menambahkan bahwa manusia tetap memiliki keunggulan dalam mengubah informasi menjadi pengetahuan dan kebijaksanaan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menurutnya AI dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, manusialah yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan.
"Itulah kompetensi yang harus dibangun oleh pemimpin muda: kemampuan mengkurasi pengetahuan untuk menghadirkan keputusan yang berdampak bagi masyarakat dan masa depan bangsa,” tambahnya.
Belajar Langsung dari Dunia Industri
Selama tiga hari, peserta tidak hanya mengikuti seminar kepemimpinan, tetapi juga berbagai kegiatan berbasis pengalaman. Mereka mengikuti industrial visit ke unit bisnis grup RGE untuk melihat secara langsung praktik bisnis yang berkelanjutan serta kaitannya dengan dampak sosial.
Selain itu, peserta mengikuti outbound dan team building guna memperkuat kerja sama tim, kemampuan mengambil keputusan, serta menyelesaikan masalah. Mereka juga memperoleh materi dalam masterclass "From Purpose to Measurable Impact", yang membekali peserta menerjemahkan tujuan pribadi menjadi dampak yang terukur bagi masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk membantu Tanoto Scholar bertransisi dari fase Lead Self menuju Lead Others, yakni tidak hanya mampu memimpin diri sendiri, tetapi juga memimpin orang lain serta menciptakan perubahan di lingkungan sekitarnya.
Program Beasisa TELADAN 2027 Resmi Dibuka
Bersamaan dengan penyelenggaraan TSG 2026, Tanoto Foundation juga membuka pendaftaran TELADAN Cohort 2027 mulai 1 Juli - 7 September 2026. Program tersebut ditujukan bagi mahasiswa semester pertama di 10 perguruan tinggi mitra, yaitu IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, Universitas Hasanuddin, Universitas Mulawarman, dan Universitas Riau.
Selain memperoleh beasiswa, peserta akan mendapatkan berbagai fasilitas pengembangan diri, seperti dukungan pendanaan untuk mengikuti kompetisi, konferensi, sertifikasi, program summer course, student exchange, volunteering, kesempatan magang di jaringan industri Tanoto Foundation, hingga dukungan pendanaan riset kolaboratif.
Calon peserta dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai persyaratan dan proses pendaftaran TELADAN melalui https://bit.ly/JadiTELADAN2027.
Sejak 2006, Tanoto Foundation telah memberikan dukungan kepada 8.803 penerima beasiswa. Melalui program TELADAN, para penerima beasiswa dipersiapkan menjadi pemimpin muda yang adaptif, berintegritas, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun dunia kerja. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi