RADARSEMARANG.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah kembali menggelar Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di PO Hotel Semarang, Senin (11/5). Forum investasi yang telah berlangsung sejak 2016 ini terselenggara berkat kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Forum ini menjadi ajang mempertemukan investor, pemerintah, hingga pelaku usaha untuk memperkuat investasi dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. CJIBF 2026 mengangkat tema "Central Java Thriving: Strengthening Investment and Empowering SMEs for Green and Sustainable Growth". CJIBF 2026 dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, dan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, didampingi oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho.
Selain CJIBF, BI Jateng juga menggelar pameran UMKM Grande 2026 di Atrium Mal Paragon pada 7-11 Mei 2026. Pameran tersebut menghadirkan sekitar 90 UMKM unggulan dari sektor fesyen, kriya, furnitur, makanan dan minuman, hingga kopi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho menyebut penyelenggaraan CJIBF dan UMKM Grande merupakan langkah strategis untuk memperluas pasar UMKM Jawa Tengah hingga level global, mempercepat investasi sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,89 persen secara tahunan (year on year/yoy), atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,61 persen.
Selain itu, realisasi investasi Jawa Tengah yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh hingga 9,61 persen secara tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan Jawa Tengah masih menjadi daerah dengan iklim investasi kompetitif serta didukung fondasi UMKM yang kuat.
"Kami di Bank Indonesia pada dasarnya sangat mendukung program pemerintah, termasuk untuk mendorong pertumbuhan melalui investasi dan perdagangan. Oleh karena itu, acara CJIBF dan UMKM Grande di Atrium Mal Paragon pada hari ini kita selenggarakan," kata Noor.
Menariknya, pada CJIBF 2026 terdapat 17 proyek investasi unggulan atau Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang ditawarkan kepada calon investor. Proyek itu mencakup sektor renewable energy, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata, hingga pertambangan.
Beberapa proyek yang dipromosikan di antaranya Candi Umbul Telomoyo Geothermal Power Plant milik Geo Dipa Energy, Logawa Minihydro Power Plant di Banyumas, Agricultural Waste Utilization for Biomass Energy di Grobogan, hingga proyek Waste to Refuse Derived Fuel di Demak dan Pati.
Sementara di sektor pangan dan pertanian, terdapat proyek Integrated Coconut Industry, Integrated Shrimp Industry, Integrated Fisheries Special Zone di Cilacap, hingga industri garam di Jepara dan Brebes. Adapun sektor pariwisata menawarkan pengembangan Taman Kyai Langgeng Ecopark Kota Magelang, Pulau Panjang Jepara, hingga Deyangan Resort di kawasan Borobudur.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan pentingnya sinergi antara investasi dan penguatan UMKM dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi global.
"Sehingga tidak salah sekali kita pada hari ini duduk bersama, memikirkan bagaimana kita harus menjalankan investasi dan kemudian memilih sektor-sektor yang penting untuk perekonomian kita supaya bisa terus berkembang," ungkapnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan tren investasi di Jawa Tengah terus meningkat. Sehingga bisa menyerap tenaga kerja yang tinggi.
"Pada triwulan I 2026, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 92 ribu orang di 35 kabupaten dan kota," kata Ahmad Luthfi.
Ia menambahkan, capaian tersebut meningkat 5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Menurutnya, investasi juga diharapkan mampu mendorong UMKM Jawa Tengah naik kelas hingga level nasional maupun internasional.
Sementara Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI Todotua Pasaribu menyoroti pentingnya konsolidasi investasi di Indonesia untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia secara bertahap hingga 8 persen.
Oleh karena itu, investasi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi, begitu pula di Jawa Tengah. Pemerintah pun terus mendorong pengembangan investasi berbasis hilirisasi dan energi hijau.
"Provinsi Jawa Tengah ini adalah provinsi atau daerah yang sangat penting bagi kami. Pada kesempatan ini kami hadir langsung atas penugasan dari Pak Menteri untuk menghadiri acara Central Java Investment Business Forum," jelasnya.
Sedangkan UMKM Grande yang berlangsung di Mal Paragon mengusung tema "Tumbuh, Tangguh, dan Mendunia". UMKM Grande menghadirkan business matching internasional yang mempertemukan sekitar 30 UMKM potensial ekspor dengan buyer dan aggregator dari negara ASEAN dan Timur Tengah, serta jaringan ritel nasional pada hari pertama penyelenggaraan.
Rangkaian kegiatan juga diisi workshop pengelolaan limbah plastik untuk ekonomi sirkular, edukasi keuangan digital, kompetisi keluarga “Jejak Wisata Sejarah”, hingga live selling produk UMKM bersama afiliator untuk memperkuat digitalisasi pelaku usaha.
Dalam agenda tersebut juga dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) investasi di sektor peternakan sapi terpadu dan industri tekstil, kesepakatan kemitraan industri minyak atsiri, serta nota kesepahaman proyek Waste to Refuse Derived Fuel. Penyelenggaraan CJIBF dan UMKM Grande 2026, Jawa Tengah mencatatkan potensi transaksi produk UMKM ekspor sekitar USD2,48 juta atau setara Rp43 miliar. (kap/web)