RADARSEMARANG.ID- Menjalani fase usia 20-an hingga 40-an sering kali menjadi tantangan finansial yang berat bagi banyak orang.
Kesalahan dalam menetapkan prioritas di usia muda kerap berujung pada jeratan beban ekonomi yang tak berkesudahan di masa tua.
Pakar perencana keuangan, Prita Gozi, menekankan pentingnya memahami fase living, saving, dan playing agar terhindar dari jebakan gaya hidup.
Baca Juga: Siap-siap! Indonesia Sudah Mulai Masuk Fase Puncak Musim Hujan, Apakah Jawa Tengah Termasuk?
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Suara Berkelas, Prita mengungkapkan bahwa setiap dekade usia memiliki fokus keuangan yang berbeda.
Usia 20-an disebut sebagai masa surviving atau bertahan hidup, di mana porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok (living) harus dikendalikan agar tidak membengkak.
"Di usia 20-an, fokusnya adalah kerja untuk bertahan hidup. Namun, jangan berhenti di situ. Pengendalian diri di usia ini akan memudahkan kita saat memasuki usia 30-an," ujar Prita.
Menurutnya, kesalahan fatal yang sering dilakukan anak muda usia 20-an adalah memaksakan diri membeli aset yang mengalami depresiasi harga, seperti kendaraan, dengan cicilan jangka panjang.
Hal ini dinilai berbahaya karena dapat menurunkan kemampuan menabung (saving) secara drastis.
Memasuki fase usia 30-an, beban hidup biasanya akan meningkat seiring dengan keputusan untuk menikah atau memiliki tanggungan keluarga.
Pada tahap ini, masyarakat diingatkan untuk mulai membangun triangle of income, yakni sumber penghasilan yang tidak hanya mengandalkan kerja aktif, tetapi juga pendapatan dari portofolio investasi dan penghasilan produktif lainnya.
Prita juga menyoroti fenomena financial unmeshment, di mana orang tua memberikan tekanan finansial kepada anak sebagai bentuk "balas budi" atas biaya pendidikan.
Hal ini menurutnya harus diputus dengan menyiapkan dana pendidikan anak sedini mungkin tanpa mengorbankan dana pensiun pribadi.
"Anak adalah amanah, bukan investasi masa depan untuk membiayai hari tua orang tua. Orang tua yang berkelas harus mampu mandiri secara finansial di masa pensiunnya nanti," tegasnya.
Untuk menjaga kesehatan finansial, masyarakat disarankan mengikuti rumus alokasi anggaran 50-30-20.
Yakni 50 persen untuk kebutuhan hidup (living), 30 persen untuk tabungan dan investasi (saving), serta 20 persen untuk hiburan atau keinginan (playing).
Selain itu, terdapat empat ceklis prioritas keuangan yang wajib dimiliki secara berurutan: dana darurat, tempat tinggal, dana membesarkan anak, dan dana pensiun.
Dana darurat idealnya tersedia dalam bentuk tunai minimal tiga kali jumlah pengeluaran bulanan.
"Angka tidak pernah berbohong. Mulailah melakukan budgeting agar setiap rupiah yang kita hasilkan memiliki tujuan yang jelas. Jangan sampai rezeki yang turun habis begitu saja hanya untuk gaya hidup sesaat," pungkasnya. (mg11)
Editor : Baskoro Septiadi