RADARSEMARANG.ID, NAMA Robinhood langsung terbayang kerusuhan pasar saham Januari 2021: saham GameStop (GME) yang naik gila-gilaan hingga 2.500%, memaksa ratusan hedge fund dan institusi Wall Street rugi total lebih dari Rp1.000 triliun (sekitar US$70–75 miliar saat itu).
Aplikasi yang jadi “senjata” jutaan investor ritel ini kini resmi membuka babak baru di Indonesia lewat akuisisi dua perusahaan lokal.
Robinhood hari ini (7/12) mengumumkan telah mengakuisisi PT Buana Capital Sekuritas (pialang saham) dan PT Coinvest (pedagang aset kripto berlisensi Bappebti).
Langkah ini menjadi pintu masuk resmi peluncuran aplikasi Robinhood di Indonesia, negara dengan 19 juta investor saham dan 17 juta trader kripto.
“Indonesia adalah salah satu pasar kripto terbesar di Asia Tenggara dengan regulasi yang sangat mendukung. Kami ingin melanjutkan misi mendemokratisasi keuangan di sini,” ujar Patrick Chan, Head of Asia Robinhood.
Akuisisi ini juga menarik karena melibatkan Pieter Tanuri — pemilik Buana Capital dan Coinvest — yang akan menjadi penasihat strategis Robinhood untuk pasar Indonesia.
Nilai transaksi belum diungkap, tapi kesepakatan ditargetkan rampung semester I-2026 setelah mendapat restu OJK.
Dari aplikasi yang pernah dituduh “mematikan” euforia GameStop dan membuat Wall Street kehilangan lebih dari seribu triliun rupiah dalam hitungan hari, Robinhood kini datang ke Indonesia dengan janji trading bebas komisi untuk saham lokal, saham AS, dan ratusan kripto.
Akankah sejarah Rp1.000 triliun terulang di BEI dan pasar kripto Indonesia? Yang pasti, starting pistol sudah ditembakkan.
Fenomena Robinhood dan Ledakan GameStop: Dari Meme ke Manuver Besar
Robinhood lahir sebagai startup fintech di Amerika Serikat pada 2013, dengan misi sederhana: membuat trading saham bebas komisi dan mudah diakses melalui aplikasi mobile.
Namun, popularitasnya meledak pada Januari 2021 berkat fenomena "short squeeze" saham GameStop (GME).
Saat itu, sekelompok investor ritel di forum Reddit r/WallStreetBets, dipimpin oleh tokoh seperti Keith Gill (alias Roaring Kitty), memborong saham GME yang sedang di-short sell oleh hedge fund besar seperti Melvin Capital.
Harga saham yang semula sekitar US$20 melonjak hingga US$500 dalam hitungan hari, menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi para short seller.
Robinhood, yang menjadi pintu masuk utama bagi investor pemula, justru menjadi pusat kontroversi.
Aplikasi ini tiba-tiba membatasi pembelian saham GME, memicu tudingan bahwa ia "melindungi" institusi keuangan.
Insiden ini memicu gelombang protes, tuntutan hukum, dan bahkan sidang di Kongres AS. Meski demikian, Robinhood bertahan dan bahkan IPO di bursa New York pada 2021, dengan valuasi mencapai US$32 miliar.
Kini, setelah bergabung dengan indeks S&P 500 dan sahamnya naik hampir 268% sepanjang 2025, perusahaan ini siap ekspansi global.
Fenomena GameStop bukan hanya soal uang, tapi juga kekuatan komunitas digital.
Investor ritel membuktikan bahwa dengan smartphone dan forum online, mereka bisa menggoyang pasar tradisional.
Robinhood, yang sempat dikecam, kini dilihat sebagai pionir "demokratisasi keuangan" – slogan yang tetap menjadi inti identitasnya.
Akuisisi Strategis: Pintu Masuk Robinhood ke Pasar Indonesia
Berita besar datang pada 7 Desember 2025: Robinhood mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi PT Buana Capital Sekuritas, sebuah perusahaan sekuritas lokal, dan PT Pedagang Aset Kripto (Coinvest), pedagang aset digital berlisensi.
Pengumuman ini disampaikan melalui blog resmi Robinhood, menandai langkah pertama perusahaan asal AS ini ke Asia Tenggara.
Akuisisi ini menjadi jembatan sempurna untuk peluncuran aplikasi Robinhood di Indonesia. Buana Capital akan memastikan kepatuhan regulasi di pasar modal, sementara Coinvest membuka akses cepat ke perdagangan kripto.
"Indonesia adalah salah satu hub utama perdagangan aset kripto di Asia Tenggara," tulis Robinhood dalam pengumuman mereka.
Negara dengan populasi 270 juta jiwa ini memiliki 19 juta investor pasar modal dan 17 juta pedagang kripto – angka yang menjadikannya pasar terbesar keenam dunia untuk adopsi kripto menurut Chainalysis 2025.
Baca Juga: Masih Awal Desember 2025, Pasaran Kripto Melemah
Patrick Chan, Head of Asia di Robinhood, menekankan potensi ini: "Indonesia mewakili pasar yang tumbuh cepat untuk trading, membuatnya sebagai tempat yang menarik untuk melanjutkan misi Robinhood untuk mendemokratisasi finansial untuk semua."
Dengan regulasi yang mendukung dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Indonesia dinilai ideal untuk inovasi fintech.
Media Investor International menyebut akuisisi ini mempermudah masuknya perusahaan ke pasar baru, terutama dalam hal ketaatan regulasi, sementara pembelian pedagang aset digital mempercepat akses ke produk kripto.
Nilai akuisisi tidak diungkapkan, tapi kesepakatan ini diharapkan rampung pada paruh pertama 2026, tergantung persetujuan OJK.
Menariknya, Pieter Tanuri, pemegang saham utama di Buana Capital dan Coinvest, akan bergabung sebagai penasihat strategis Robinhood.
Kehadiran Tanuri, figur kunci di ekosistem fintech Indonesia, diharapkan membantu navigasi pasar lokal.
Baca Juga: Industri Kreatif : Navigasi Era Inovasi dan Persaingan
Dampak bagi Investor Indonesia: Peluang dan Tantangan
Bagi jutaan investor ritel Indonesia yang sudah terbiasa dengan aplikasi seperti Stockbit atau Ajaib, kedatangan Robinhood bisa jadi angin segar.
Bayangkan trading saham AS, kripto seperti Bitcoin, dan aset lokal tanpa biaya komisi – mirip pengalaman yang membuat Robinhood viral di AS.
Pasca-akuisisi, Robinhood berjanji melanjutkan layanan Buana Capital untuk produk keuangan Indonesia, sambil secara bertahap menawarkan akses ke ekuitas AS dan kripto global.
Namun, ada catatan penting. Pengalaman GameStop mengingatkan kita pada risiko volatilitas: euforia ritel bisa berujung kerugian besar jika regulasi ketat atau pasar bergejolak.
Di Indonesia, di mana literasi keuangan masih berkembang, OJK perlu memastikan perlindungan konsumen.
Selain itu, kompetisi akan memanas dengan pemain lokal dan regional seperti Tokocrypto atau Upbit.
Ekspansi ini juga mencerminkan tren global: fintech Barat seperti Robinhood semakin agresif di Asia, di mana 70% populasi usia produktif adalah Gen Z dan milenial yang tech-savvy.
Saham Robinhood sendiri naik 1,2% di after-hours trading pasca-pengumuman, menandakan kepercayaan investor.
Baca Juga: Batal dengan Bos Malut United, Kini Saham PSIS Semarang Diakuisisi Istri Bos Persela Lamongan
Menuju Era Baru Investasi Ritel
Dari kegaduhan GameStop hingga akuisisi di Jakarta, perjalanan Robinhood menunjukkan bagaimana teknologi bisa mengubah lanskap keuangan.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita bisnis, tapi peluang untuk memberdayakan 36 juta investor potensial – dari mahasiswa di kampus hingga pekerja kantoran di ibu kota.
Saat aplikasi Robinhood resmi meluncur, pertanyaannya: Apakah "pemberontakan ritel" ala WallStreetBets akan terulang di Bursa Efek Indonesia?
Satu hal pasti: Demokrasi finansial kini hanya sejengkal dari ujung jari kita. (tas)
Editor : Tasropi