RADARSEMARANG.ID, Semarang - Biaya logistik di Indonesia dinilai kurang efektif dan efisien.
Biaya logistik bahkan bisa mencapai 24 - 27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Tak heran jika rantai distribusi yang panjang ini kerap menjadikan barang di pasaran menjadi lebih mahal.
Daya saing industri dalam negeri pun terancam melemah jika tidak segera dilakukan langkah-langkah konkret untuk menciptakan efisiensi.
Kendati demikian permasalahan logistik ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Melainkan sebagian besar berada di bawah kendali pemerintah.
“Terus-terang saja kalau kita melihat problem di negara kita di mana biaya logistiknya bisa mencapai 24 sampai 27 persen dari PDB tentu kita juga terpanggil untuk ikut ambil bagian, bagaimana terjadi efisiensi pasar bagaimana produktivitas ini bisa berubah menjadi lebih baik. Kalau biaya logistik mencapai 24 sampai 27 persen dari PDB. Terus bagaimana ke depannya industri-industri kita apakah masih akan bisa kompetitif?,” ungkap CEO MuatMuat Daniel Budi Setiawan di sela-sela acara Survive and Thrive: Kunci Sukses Transporter di Era Digital' yang berlangsung di Hotel Pandanaran.
Dari enam variabel utama yang memengaruhi efisiensi logistik, empat dikendalikan oleh pemerintah.
Empat variabel tersebut adalah proteksi harga barang modal (terutama kendaraan niaga seperti truk), pembangunan infrastruktur, harga BBM dan nilai tukar rupiah, serta tata kelola birokrasi dan perizinan.
Sementara dari sisi swasta, hanya efisiensi pasar dan kualitas SDM pengemudi yang bisa dikendalikan.
Pihaknya bahkan menyoroti mahalnya harga truk saat ini sebagai contoh konkret hambatan efisiensi.
Bahkan transportasi yang tak layak pakai terpaksa masih beroperasional. Imbasnya terjadi kecelakaan, truk mogok, dan masalah lainnya.
“Tahun 1978 harga Fuso Rp 4,8 juta, sekarang miliaran. Kalau tidak efisien, bagaimana pelaku transportasi bisa bertahan? Akhirnya truk tua tetap dipakai, dan risiko kecelakaan meningkat,” tegasnya.
Sebab itu perlu adanya digitalisasi dalam logistik. Selain dapat memangkas biaya, pengirimannya pun lebih efisien dan tak banyak risiko.
Para transporter atau perusahaan transportasi kata dia perlu menerapkan digitalisasi logistik melalui platform digital. Pasalnya banyak keuntungan yang didapatkan.
“Dengan digital, perusahaan tidak perlu lagi sewa kantor di banyak kota. Cukup laptop, bisa cari muatan ke mana saja, perjalanan bisa ditekan, utilitas truk meningkat, biaya turun, revenue naik,” bebernya. (kap)
Editor : Tasropi