RADARSEMARANG.ID – Di awal tahun 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan pemaparan gaji rata-rata yang diperoleh oleh masyarakat Indonesia mencapai Rp 78,6 juta per tahunnya.
Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan di tahun 2024.
Dalam laporannya, BPS menyebut Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia pada tahun 2024 mencapai USD 4.960,3 atau sekitar Rp78,6 juta per tahun.
Dengan kurs Rp15.850 per USD, pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia per bulan diperkirakan sebesar Rp6,55 juta.
"Pada 2024, PDB per kapita Indonesia tercatat sebesar Rp 78,62 juta atau sekitar USD 4.960,33 per kapita (dengan kurs Rp 15.850)," kata Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam siaran persnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memiliki target untuk peningkatan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita Indonesia hingga tiga kali lipat pada tahun 2035, yaitu sekitar USD 12.000.
Dengan adanya target ini diharapkan bisa tercapai dengan cara optamalisasi bonus demografi yang saat ini tengah berlangsung sampai tahun 2035.
Dari hasil yang diperoleh, jika sebelumnya Indonesia sendiri telah mendapatkan peningkatan pendapatan per kapita.
Pada 2008, pendapatan per kapita Indonesia sekitar USD 2.000, yang kemudian meningkat dua kali lipat menjadi USD 4.140 pada tahun 2021.
"Tahun 2008 income per kapita kita sekitar USD 2.000, dan hari ini USD 4.000 dan itu naik 2 kali lipat. Butuh waktu 16 tahun untuk naik 100 persen," kata dia.
Selain itu, awal pemerintahan Prabowo Subianto telah menetapkan kenaikan Upah Minimum Nasional (UMP) 2025 sebesar 6,5%.
Angka ini lebih tinggi dari usulan awal Menteri Tenaga Kerja, Yassierli, yang hanya mengusulkan kenaikan sebesar 6%.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja di Indonesia.
"Menteri Tenaga Kerja mengusulkan kenaikan upah minimum sebesar 6 persen. Namun, setelah berdiskusi dengan pimpinan buruh, kami sepakat untuk menetapkan rata-rata upah minimum nasional menjadi 6,5%," ungkap Prabowo.
Meski demikian, dalam catatan BPS persentase penduduk miskin pada September 2024 sebesar 8,57%, mengalami penurunan 0,46% dibandingkan Maret 2024 dan turun 0,79% dari Maret 2023.
Merujuk dalam data tersebut, bisa disimpulkan jika dengan jumlah penduduk miskin pada September 2024 mencapai 24,06 juta orang, berkurang 1,16 juta orang dari Maret 2024.
Amalia menjelaskan bahwa angka kemiskinan di perkotaan turun dari 7,09% pada Maret 2024 menjadi 6,66% pada September 2024, sedangkan di perdesaan turun dari 11,79% menjadi 11,34% dalam periode yang sama.
“Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2024 sebesar 6,66 persen, menurun dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 7,09 persen,” kata Amalia
Terlebih, saat ini adanya penurunan jumlah kelas menengan di Indonesia yakni 9,48 juta orang pada periode 2019-2024. Hal ini disebabkan karena dampak pandemi Covid-19 dan terbatasnya akses lowongan pekerjaan.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi