Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

3 Crazy Rich Asal Semarang Zaman Hindia Belanda, Kekayan Mencapai Puluhan Triliun Rupiah

Tasropi • Kamis, 6 Juni 2024 | 23:19 WIB

RADARSEMARANG.ID - Istilah crazy rich memang baru muncul belakangan ini, menjadi populer belakangan ini di media sosial melalui novel karya Kevin Kwan yang berjudul Crazy Rich Asians.

Setelah diangkat ke layar lebar, istilah ini pun menjadi perbincangan di mana-mana sehingga istilah ini makin banyak dikenal.

Crazy rich bukanlah orang-orang kaya yang memamerkan gaya hidup mewah, melainkan para konglomerat dengan kekayaan yang sangat besar.

Para konglomerat ini biasanya memiliki bisnis yang stabil dan menguasai pasar.

Uniknya orang-orang yang menyandang arti crazy rich yang sebenarnya ini malah namanya kurang populer di Indonesia.

Di zaman Hindia Belanda atau era kolonial, sudah ada orang Indonesia yang punya uang setara triliunan rupiah di masa kini, hingga layak disebut crazy rich.

Berikut adalah 3 crazy rich asal Semarang zaman Hindia Belanda :

Sampul Buku Oei Tiong Ham, Bangunan dan Wilayah Peninggalannya.
Sampul Buku Oei Tiong Ham, Bangunan dan Wilayah Peninggalannya.

Oei Tiong Ham

Oei Tiong Ham adalah pria kelahiran Semarang dan pemilik salah satu perusahaan gula terbesar di dunia, Oei Tiong Ham Concern (OTHC).

Lewat OTHC, Oei Tiong Ham sukses menguasai 60% pasar gula di Hindia Belanda. Dengan besarnya penguasaan ini, praktis Oei untung besar.

Dari keuntungan itu, dia melebarkan sayap bisnis OTHC. Tidak hanya di Hindia Belanda, tetapi juga sudah sampai India, Singapura hingga London.

Lini bisnisnya pun tak hanya industri gula, tetapi juga pergudangan, pelayaran, dan perbankan.

Tak heran, berkat besarnya bisnis itu, Oei disebut memiliki kekayaan 200 juta gulden. Sebagai catatan, uang 1 gulden pada 1925 bisa membeli 20 kg beras.

Jika harga beras Rp 10.850/kg, diperkirakan harta kekayaannya senilai Rp 43,4 triliun.

Sayang, di masa-masa kejayaan itu, Oei terpaksa angkat kaki dari Indonesia untuk pergi ke Singapura.

Dia pergi lantaran jadi objek permainan petugas pajak masa kolonial. Di Singapura dia turut serta membangun negeri bentukan Inggris itu.

Dia banyak membeli tanah dan rumah. Lalu juga rutin melakukan donasi di Singapura.

Kini, atas besarnya jawa Oei Tiong Ham pemerintah Singapura menjadikan namanya sebagai nama jalan dan bangunan.

Tasripin dan Rumah di Kampung Kulitan, kampung tempat Tasripin tinggal.
Tasripin dan Rumah di Kampung Kulitan, kampung tempat Tasripin tinggal.

Tasripin

Tasripin adalah pria asal Semarang dan salah satu crazy rich zaman Hindia Belanda. Dia berbisnis kulit hewan, penjagalan, dan es batu.

Ketiga bisnis tersebut membuat Tasripin kaya raya. Setiap bulannya dia bisa mendapat 30-40 ribu gulden.

Alhasil, dia dan keluarganya punya banyak rumah dan tanah di beberapa wilayah Semarang. Dia tercatat juga pernah memiliki emas dan banyak surat berharga lain.

Koran De Nieuwe Vorstenlanden (8/9/1919) melaporkan harta Tasripin mencapai 45 juta gulden.

Sebagai perbandingan, di zaman itu harga satu liter beras hanya 6 sen. Jadi dengan uang 45 juta gulden, Tasripin bisa membeli 750 juta liter beras.

Jika hari ini satu liter beras harganya Rp 10 ribu, maka nilai harta Tasripin kala itu setara Rp 7 triliun di masa kini.

Tentu saja, tak semua orang di masa kolonial bisa seperti itu. Orang Belanda atau Eropa pun jarang yang bergelimang harta.

Apalagi masyarakat pribumi yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan.

Atas dasar inilah, Tasripin dianggap orang terpandang dan jadi salah satu crazy rich di masa kolonial.

Kwa Wan Hong, pendiri Pabrik Es balok pertama di Semarang.
Kwa Wan Hong, pendiri Pabrik Es balok pertama di Semarang.

Kwa Wan Hong 

Kwa Wan Hong adalah seorang Tionghoa Indonesia kelahiran 1862 di kota Semarang. Pada tahun 1985, beliau mendirikan pabrik es balok pertama di Indonesia dengan nama N.V. Ijs Fabriek Hoo Hien di kota kelahirannya tersebut.

Beliau memulai bisnisnya dari usaha kayu sampai usaha kapur, sebelum memulai pabrik es pada tahun 1985.

Keberhasilan pabrik es balok tersebut, membuat beliau dijuluki sebagai “Raja Es” sampai akhirnya pada tahun 1910, beliau membesarkan pabriknya dengan mendirikan pabrik limun dan tiga cabang pabrik es lainnya di Semarang, Tegal dan Pekalongan pada tahun berikutnya.

Tidak berhenti sampai di sana, karena peminat es semakin banyak, beliau membangun 2 cabang pabrik di Surabaya pada tahun 1924 dan 1926.

Seiring berjalannya waktu, bisnis es tersebut kian meningkat sampai Kwa Wan Hong memutuskan untuk pindah ke Jakarta pada tahun 1928 untuk membangun pabrik es balok lagi tepatnya di Jalan Prinsenlaan (sekarang Mangga Besar) dan di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).

Keberhasilannya menambah semangat beliau untuk melakukan ekspansi dengan mengakuisisi pabrik es bernama Soen Sing Hien tahun 1930 di Sumedang, Jawa Barat untuk didirikan pabrik minyak kelapa di Kutoardjo.

Adanya pabrik es balok tersebut memudahkan Indonesia sehingga tidak perlu mengimpor es dari luar.

Selain itu, membukakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dengan menjual lagi es tersebut secara eceran.

Depot es juga dibentuk dan masih digunakan sampai sekarang sebagai tempat penyimpanan es berbentuk kubus berukuran 8m3 berbahan papan dan dilapisi seng.

Teknologi yang semakin maju menurunkan kejayaan pabrik es karena masyarakat sudah mampu membeli kulkas di rumah masing-masing sehingga tidak perlu lagi membeli es.

Itulah 3 crazy rich asal Semarang yang hidup masa kolonial Hindia Belanda, yang jika di hitung kekayaannya dengan nilai sekarang mencapai puluhan triliun rupiah.

Editor : Tasropi
#masa kolonial #hindia belanda #crazy rich #Pabrik Es #pabrik gula #TASRIPIN #Oei Tiong Ham