Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) menyatakan, ada sejumlah faktor yang menjadi tantangan besar bagi industri elektronik Indonesia tahun ini. Pertama, biaya kontainer yang masih mahal dan belum normal. Kedua, bahan baku yang melonjak hingga 50 persen, salah satunya komponen bahan baku LED panel. Faktor ketiga, kurs valuta asing yang dirasakan produsen elektronik dalam negeri.
Praktisi bisnis ritel elektronik Gouw Andy Siswanto mengatakan, saat ini rata-rata komponen yang diimpor masih di kisaran 60 persen sampai 70 persen, hampir merata di semua kategori produk. Dengan kondisi seperti ini kalau ada perusahaan yang bisa bertahan dengan komposisi bahan baku impor yang tinggi, tentu luar biasa.
“Menyadari hal itu, beberapa perusahaan industri elektronik telah mengantisipasi dengan melakukan penyesuaian harga, efisiensi atau pengurangan biaya, dan menjaga produktivitas,” jelas Managing Director Global Elektronik Semarang itu.
Kendati banyak tantangan yang harus dihadapi pelaku industri elektronik, Andy Gouw melihat masih ada prospek pertumbuhan pada produk televisi. Hal tersebut dipengaruhi oleh program pemerintah yang menggalakan migrasi ke TV Digital.
"Program migrasi tersebut diharapkan bisa memicu kenaikan penjualan set top box dan mendorong penggantian TV analog dengan TV Digital tahun ini. Diharapkan pasar kembali normal seperti kondisi di 2019,” harapnya.
Melihat potensi tersebut, manajemen Global Elektronik kembali menggelar pameran tematik elektornik HomeTech yang ke-55 kalinya. Pamerang yang sedang berlangsung saat ini akan berakhir hingga 8 November mendatang.
Sementara itu, Ketua Harian Penyelenggara Pameran HomeTech 2021 ke-55 Harwiyono mengatakan, pelanggan dapat menikmati harga langsung dari pabrik, cashback, clearance sale up to 80 persen dan promo harga bundling. “Selain itu pelanggan berkesempatan mendapatkan hadiah undian berupa lemari es Sharp, microwave Samsung, water dispenser Sharp dan Rice Cooker Beko dan hadiah langsung menarik,” ujarnya. (*/zal/ida)
Editor : Ida Nor Layla