RADARSEMARANG.ID - Menjadi sarjana bukan sekadar menyelesaikan pendidikan. Lulusan juga dituntut mampu menerapkan ilmu dan nilai yang diperoleh selama kuliah untuk memberikan manfaat di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Masrukhi dalam kegiatan Baitul Arqom Purna Studi (BAPS) di GKB II Unimus. Kegiatan tersebut menjadi pembekalan bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi sebelum mengikuti wisuda.
Prof Masrukhi mengatakan, BAPS menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai Al Islam Kemuhammadiyahan dan nilai keagamaan. Nilai tersebut diharapkan tetap dipegang para lulusan ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
“Pertama meneguhkan kembali bagaimana nilai-nilai Al Islam Kemuhammadiyahan bagi yang beragama Islam dan nilai-nilai keagamaan sesuai dengan agamanya masing-masing, bagi yang non Islam untuk dipegang teguh mereka nanti menjalani profesi di pekerjaannya. Termasuk juga dalam kehidupan masyarakat,” kata Prof Masrukhi usai memberikan pembekalan BAPS.
Selain nilai agama, lulusan juga diminta memiliki kepedulian sosial. Mereka diharapkan tidak hanya mampu bekerja secara profesional, tetapi juga memberi solusi ketika berada di tengah masyarakat.
“Sehingga saya pesan kepada para mahasiswa pertama agar agama dipegang teguh. Lalu yang kedua memiliki nilai kepedulian sosial. Lalu ketiga jadilah di masyarakat itu sebagai problem solver. Jangan malah sebagai problem maker,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Para lulusan diminta kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah membentuk keyakinan hanya berdasarkan opini.
“Sederhananya post-truth itu dimaknai keyakinan yang didasarkan atas opini dan sama sekali tidak didasarkan atas data dan fakta,” ujarnya.
Karena itu, lulusan diminta mampu membedakan opini dengan fakta sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi.
“Di mana yang diakui seseorang itu dasarnya adalah opini. Itu sangat berbahaya opini itu. Opini itu kan pendapat. Pendapat itu bisa benar bisa salah. Tetapi yang benar itu adalah data. dan fakta karena itu objektif," jelasnya.
Prof Masrukhi juga mengingatkan lulusan agar tidak terjebak sikap intoleran akibat perbedaan. Menurutnya, lulusan Unimus harus mampu membaur dan menunjukkan kepedulian tanpa membeda-bedakan latar belakang orang lain.
“Makanya di Unimus ini kita ciptakan sikap inklusif membaur tanpa memandang dari daerah mana, tanpa memandang dari agama apa, tanpa memandang budaya apa, termasuk tanpa memandang dari negara apa, dan lainnya," pungkasnya.
Pesan tentang penerapan nilai tersebut juga disampaikan Wakil Rektor II Unimus Hardiwinoto. Ia mengatakan, BAPS kali ini menjadi bagian dari proses pembentukan alumni yang profesional dan berkemajuan.
Menurutnya, latar belakang mahasiswa yang beragam tidak menjadi penghalang untuk memahami nilai-nilai Muhammadiyah selama menempuh pendidikan di Unimus.
“Jadi walaupaun Anda berasal dari berbagai elemen masyarakat yang belum mengenal Muhammadiyah tetapi lulus unimus ini sudah mengenal muhamadiyah," ungkapnya.
Hardiwi menekankan pentingnya implementasi ilmu sekaligus menjaga amanah ketika lulusan terjun ke masyarakat. Ia mencontohkan pentingnya menolak pemberian yang bukan menjadi hak.
“Jadi bagaimana kita mengimplementasikan ilmu kita di masyarakat, yang penting itu. Jadi nanti ketika di masyarakat godaanya banyak sekali, seperti dikasih uang itu masih imajiner, walaupun imajiner harus ditolak, menolak imajiner bahwa saya tidak akan menerima uang yang bukan menjadi haknya," tegasnya.
Sementara Ketua Lembaga Studi Al Islam Kemuhammadiyahan (LSIK) dan Mata Kuliah Umum (MKU) Unimus Rochdi Wasono menjelaskan, pembekalan nilai keagamaan telah diberikan sejak mahasiswa baru.
Pembekalan tersebut kemudian dilanjutkan melalui mata kuliah Al Islam Kemuhammadiyahan hingga BAPS sebagai tahap akhir. Menurut Rochdi, nilai tersebut juga berkaitan dengan pembentukan integritas lulusan ketika memasuki dunia kerja dan masyarakat.
“Jadi hal hal yang terkait dengan korupsi, kolusi dan lain sebagainya dengan dasar dasar yang diberikan di Unimus ini mudah mudahan Anda selalu ingat, Anda ini alumni Unimus," katanya.
BAPS ke-50 tersebut dilaksanakan dalam tiga gelombang. Masing-masing gelombang diikuti sekitar 500 mahasiswa. Kegiatan tersebut menjadi salah satu tahapan pembekalan bagi mahasiswa sebelum resmi menjadi alumni Unimus. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi