RADARSEMARANG.ID - Perjalanan karier Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si. di dunia pendidikan merupakan cerminan dedikasi dan konsistensi. Ia mengawali pengabdian sebagai guru matematika di SMP Negeri 10 Semarang pada 2003. Ia kemudian menjadi Kepala SMP Negeri 28 Semarang pada 2019 hingga 2022, lalu Kepala SMP Negeri 3 Semarang pada 2022 hingga 2023.
Kini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Kota Semarang sejak akhir 2023.
Selama tiga tahun bertugas di struktur dinas, Miftah, sapaan akrabnya, terus melahirkan berbagai gagasan inovatif. Tujuannya tidak lain untuk memperkuat ruang berbagi serta meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Ada empat inovasi yang telah ia jalankan.
Pertama, Komunitas Belajar (Kombel) Tugu Muda. Program yang digagas pada 2024 ini menjadi panggung bagi guru dan kepala sekolah berprestasi untuk berbagi praktik baik.
"Saya awalnya berpikir agar guru-guru ini dikenal. Kemudian, saya mengumpulkan guru dan kepala sekolah yang berprestasi. Ayo, kita berbagi dengan teman-teman untuk memotivasi yang lain. Tercetuslah ide Kombel Tugu Muda," ujarnya.
Kombel Tugu Muda awalnya digelar seminggu sekali, lalu berkembang menjadi dua kali sepekan. Kini, berbagai narasumber terlibat, mulai dari guru berprestasi, fasilitator daerah (fasda) Tanoto Foundation, alumni program mikrokredensial, hingga guru lain yang memiliki praktik baik untuk ditularkan.
Kedua, program Sang Pendidik, yakni wadah apresiasi terhadap kreasi pendidik dalam mendokumentasikan praktik pembelajaran terbaik melalui media video. Program ini sekaligus menggerakkan dan menghidupkan ekosistem konten digital resmi Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Ketiga, lomba pembelajaran di luar ruang berbasis Math City Map (MCM). Program ini mengangkat inovasi pembelajaran matematika berbasis proyek di luar ruang ke tingkat Kota Semarang dengan melibatkan murid dan guru.
Keempat, Miftah menggagas program Guru Bersamamu, yakni gerakan pendampingan personal dengan satu guru mendampingi satu anak. Program ini bertujuan memotivasi anak tidak sekolah (ATS) agar mau kembali menempuh pendidikan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Melalui program tersebut, ia menemukan sekitar 335 ATS. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 37 anak yang bersedia melanjutkan pendidikan.
"Jadi, saya libatkan teman-teman guru. Satu anak, satu guru pendamping. Tugas mereka adalah mengecek kondisi anak didiknya secara rutin," bebernya.
Perjalanan karier Miftah juga diwarnai berbagai prestasi secara berjenjang. Pada 2013, ia meraih Juara I Guru Berprestasi Tingkat Kota Semarang. Meski sempat gagal di tingkat provinsi karena minim persiapan, momen tersebut justru memberinya pelajaran berharga.
"Dari situ saya tahu, kalau ingin menjadi juara, harus membuat banyak karya dan terus berinovasi. Inilah pelajaran yang saya dapatkan," bebernya.
Kesempatan belajar ke luar negeri juga menghampirinya pada 2015 melalui program Overseas Training yang diselenggarakan Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri (BPKLN) Kemendikbud. Ia mengikuti pelatihan di Australia selama 40 hari. Dari seluruh peserta se-Jawa Tengah, ia menjadi satu-satunya guru matematika yang lolos.
Pengalaman internasional tersebut menjadi bekal berharga saat Miftah kembali mengikuti lomba Guru Berprestasi pada 2016. Melalui karya pembelajaran berbasis proyek tentang jajanan murid bertajuk Jamu Sehat, ia berhasil meraih Juara I Guru Berprestasi Jenjang SMP Tingkat Nasional.
Capaian nasional itu membawanya menerima penghargaan Satyalancana Pendidikan pada 2018. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo di Bogor.
Kariernya berlanjut ketika ia diangkat menjadi Kepala SMP Negeri 28 Semarang pada 2019. Di sekolah tersebut, ia menginisiasi inovasi digital Sawah Savi, singkatan dari Satu Warga Sekolah, Satu Video. Program itu turut mengantarkannya meraih Juara I Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Kota Semarang pada 2022.
Kini, sebagai Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Miftah selalu mengedepankan prinsip kolaborasi terbuka dengan berbagai mitra pembangunan dalam menjalankan program pengembangan kompetensi pendidik. Salah satunya melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi di Kota Semarang.
"Saya sangat mengapresiasi Tanoto Foundation karena sangat membantu kami dalam memberikan arahan, menyajikan data yang valid, hingga mengawal berbagai kebijakan literasi dan numerasi," ungkapnya.
Ia menilai dukungan Tanoto Foundation murni ditujukan untuk perbaikan dan kemajuan pendidikan. Menurutnya, kemitraan tersebut sangat membantu Dinas Pendidikan Kota Semarang, khususnya dalam upaya meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi