RADARSEMARANG.ID, Kendal - Belajar matematika tak selalu harus berhadapan dengan angka dan rumus. Di SD Negeri 4 Banyuringin, Kendal, murid justru diajak belajar melalui sebuah kotak sederhana bernama Kora-Kora.
Media tersebut dikembangkan Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas, S.Pd., M.Pd., guru SD Negeri 4 Banyuringin sekaligus Fasilitator Numerasi Tanoto Foundation. Kora-Kora dirancang untuk membuat murid lebih aktif menemukan konsep matematika melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ide itu muncul dari pengalamannya mengajar matematika di kelas V. Dewi melihat banyak murid mampu mengikuti langkah mencari faktor persekutuan terbesar (FPB), tetapi kesulitan ketika diminta menjelaskan alasan di balik langkah tersebut.
"Dari situ saya mulai menyadari bahwa persoalannya bukan semata-mata murid belum bisa menghitung. Mereka dapat mengikuti prosedur, tetapi belum tentu memahami apa yang sedang mereka kerjakan," ungkapnya.
Dari kondisi itu, Dewi kemudian mengembangkan Perau Kora-Kora, kependekan dari Pembelajaran Mendalam berbantuan Kotak Aktivitas Literasi Numerasi yang Kontekstual dan Ramah Anak.
Kora-Kora berbentuk kotak aktivitas yang berisi kartu cerita, kartu objek, kartu angka dan simbol, kartu nalar, kartu misi, kartu refleksi, papan manipulasi berlubang, serta lembar kerja murid. Menariknya, kotak tersebut dibuat menggunakan kotak sepatu atau bekas minuman kemasan.
"Dari pemikiran itu, saya mengembangkan Perau Kora-Kora, kependekan dari Pembelajaran Mendalam berbantuan Kotak Aktivitas Literasi Numerasi yang Kontekstual dan Ramah Anak," akunya.
Ia menjelaskan dalam penggunaannya, pembelajaran dilakukan melalui enam tahapan. Yakni Baca, Temukan, Manipulasi, Nalar, Ciptakan, dan Representasikan.
Saat mengajarkan FPB, misalnya, Dewi tidak langsung memberikan soal hitungan. Murid terlebih dahulu diberi cerita tentang sejumlah klepon dan onde-onde yang harus dibagi ke beberapa kotak dengan jumlah sama tanpa tersisa.
Dari situ, murid diajak mencari informasi penting dalam cerita. Mereka kemudian menggunakan kartu objek dan papan manipulasi untuk membuat kelompok, memindahkan kartu, hingga mencoba berbagai kemungkinan.
Dewi sengaja tidak langsung mengatakan jawaban murid benar atau salah. Ketika susunan kartu belum tepat, ia justru memberikan pertanyaan yang mendorong murid memeriksa kembali hasil pekerjaannya.
"Apa yang kalian lihat dari susunan ini?," tanya Dewi pada siswa.
"Apakah semua kelompok sudah mendapatkan jumlah yang sama?," imbuhnya.
"Kalau masih ada yang tersisa, apa yang bisa kalian ubah?," bebernya.
"Adakah susunan lain yang mungkin?," imbuhnya.
Cara tersebut kata dia, membuat murid tidak hanya menunggu penjelasan guru. Mereka mulai berdiskusi, mencoba kembali, bahkan mencari bukti dari strategi yang mereka gunakan.
Bagi Dewi, Kora-Kora menjadi semakin kuat ketika dipadukan dengan Pertanyaan Produktif, Imajinatif, dan Terbuka atau PIT. Pertanyaan tersebut membantu murid mengembangkan pengalaman konkret menjadi proses berpikir.
Setelah mencoba dengan benda konkret, murid baru diarahkan mengubah pengalaman tersebut ke dalam angka dan simbol matematika. Dengan begitu, FPB tidak terasa sebagai rumus yang tiba-tiba harus dihafalkan.
"Dari semua susunan yang kalian coba, pola apa yang kalian temukan?," kata Dewi.
"Mana jumlah kelompok terbanyak yang bisa kalian buat tanpa menyisakan benda?," imbuhnya.
"Bagaimana cara menuliskan temuan kalian dengan angka?," ungkapnya.
Hasilnya cukup terlihat. Sebelum menggunakan Perau Kora-Kora, asesmen awal terhadap 16 murid kelas V menunjukkan ketercapaian kriteria pembelajaran hanya 12,5 persen. Setelah penerapan Kora-Kora, angkanya meningkat menjadi sekitar 75 sampai 81 persen.
Kemampuan murid dalam menjelaskan strategi berpikir juga meningkat sebesar 68,75 poin persentase.
Namun, bagi Dewi, perubahan paling penting justru terlihat dari keberanian murid saat belajar. Mereka lebih berani mencoba, tidak takut ketika jawaban belum tepat, serta mulai terbiasa membongkar strategi dan mencoba cara lain.
"Kora-Kora juga membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan anak. Cerita dalam kartu menggunakan konteks sehari-hari dan kekayaan budaya Indonesia, mulai makanan tradisional Jawa hingga kehidupan nelayan," bebernya.
Bahkan, pengalaman belajar itu tidak berhenti di sekolah. Salah satu orang tua bercerita, anaknya mengulang aktivitas tersebut di rumah menggunakan benda seperti kerupuk dan kelereng. Anak itu kemudian mencoba menjelaskan kembali konsep yang dipelajarinya kepada adiknya.
"Bagi saya, ketika sebuah pembelajaran dibawa pulang oleh anak atas kemauannya sendiri, itu merupakan tanda bahwa pengalaman belajar mulai menjadi milik mereka," ujar Dewi.
Dewi mengatakan, Kora-Kora tidak dibuat untuk menggantikan teknologi. Jika jaringan memungkinkan, teknologi dan kecerdasan buatan generatif tetap dapat digunakan untuk mengembangkan ide atau visual karya. Namun, proses berpikir murid tetap menjadi tujuan utama.
Pengalaman tersebut juga mengubah cara Dewi mengajar. Ia kini lebih banyak memberikan pertanyaan daripada langsung menunjukkan cara mengerjakan soal.
"Saya belajar bahwa pertanyaan yang tepat terkadang jauh lebih kuat daripada penjelasan yang panjang," tegasnya.
Bagi Dewi, keterbatasan fasilitas di sekolah yang berada di kawasan hutan bukan alasan untuk membatasi pengalaman belajar murid. Dari sebuah kotak sederhana, anak-anak bisa membaca, mencoba, berdiskusi, menemukan pola, hingga menjelaskan kembali apa yang mereka pahami.
"Pada akhirnya, saya tidak hanya ingin mendengar murid mengatakan, 'Bu, jawaban saya benar', tapi saya ingin mereka mampu mengatakan, 'Bu, saya tahu jawabannya, saya tahu bagaimana menemukannya, dan saya bisa menjelaskan mengapa jawabannya seperti itu', jadi rasanya senang kalau anak memahami materinya," ungkapnya.
Ia mengaku menjadi guru akan terasa menyenangkan apabila murid memahami pembelajaran yang diajarkan. Sebab ilmu yang diberikan menjadi bekal pendidikan mereka ke depan.
"Bagi saya sebagai guru, di situlah pembelajaran benar-benar terjadi," pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi