RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dua tahun lalu, Fadia Nur Fatimah masih sibuk mencari informasi beasiswa. Kini, mahasiswi Teknik Komputer Universitas Diponegoro (Undip) itu justru berada di posisi sebaliknya, membantu mahasiswa lain mengenal dan mendaftar Beasiswa TELADAN.
Fadia merupakan penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation sejak 2024. Mahasiswi semester tujuh asal Nganjuk, Jawa Timur, itu pertama kali mengenal program tersebut dari informasi yang ditemukan orang tuanya di internet.
"Informasi tentang Beasiswa TELADAN ini pertama dari orang tua. Orang tua mencari di internet, dan muncul informasi tentang Beasiswa TELADAN," ungkapnya.
Rasa penasaran membuat Fadia mencari informasi lebih jauh. Kesempatannya semakin terbuka saat mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa baru di Undip. Di sana, ia menemukan stan yang memberikan informasi mengenai Beasiswa TELADAN.
Awalnya, Fadia tertarik pada kesempatan memperoleh dukungan pendidikan. Namun setelah menjalani program, ia menyadari bahwa TELADAN memberinya pengalaman yang jauh lebih luas.
Melalui berbagai program kepemimpinan, Fadia mulai belajar mengenali diri, minat, dan potensi yang dimilikinya. Ia mengikuti lead self untuk membangun kemampuan memimpin diri sendiri, kemudian melanjutkan ke lead others yang membawanya belajar mendampingi orang lain.
Pengalaman tersebut semakin berkembang ketika Fadia dipercaya menjadi Asisten Guardian Angel (AsGA) atau fasilitator. Dalam peran itu, ia mendampingi mahasiswa angkatan 2025 untuk mengenali potensi dan arah pengembangan diri.
Fadia juga mendapatkan pembekalan mengenai coaching. Dari sana, ia belajar bahwa mengenali potensi seseorang bukan sekadar memberi saran, tetapi juga membantu orang tersebut memahami dirinya sendiri.
"Sebenarnya bidang saya bukan psikologi, tapi di situ kita diajarin gimana caranya coaching orang, biar orang itu mengenal dirinya, tahu minat bakatnya, dan memimpin dirinya sendiri," ungkapnya.
Pengalaman lain yang cukup mengubah pandangannya tentang dunia kerja datang ketika ia menjalani internship pada 30 Juni hingga 13 September 2025 di salah satu perusahaan di Riau.
Bagi Fadia, pengalaman tersebut sekaligus menjadi salah satu kesempatan pertamanya merantau ke luar Pulau Jawa.
Sebagai mahasiswa Teknik Komputer, ia semula terbiasa dengan dunia teknologi dan informasi. Namun saat magang, Fadia justru ditempatkan pada pekerjaan yang berkaitan dengan pemantauan WebGIS (web-based geographic information system).
Dari sana, ia mulai bersentuhan dengan bidang yang sebelumnya cukup jauh dari kesehariannya, termasuk forest planning.
Fadia mempelajari bagaimana pekerjaan di lapangan dapat dipantau melalui data dan sistem, mulai dari kondisi tanaman, produksi, distribusi, hingga pemantauan cuaca melalui weather station.
"Di situ saya benar-benar banyak belajar. Walaupun saya di bidang IT, saat magang tidak monoton tentang IT, tapi saya belajar untuk forest planning," bebernya.
Pengalaman tersebut membuat Fadia melihat bahwa kemampuan teknologi yang dipelajarinya di kampus dapat digunakan di berbagai bidang. Ia pun mulai memiliki gambaran yang lebih luas tentang pilihan karier setelah lulus.
Tidak hanya mengenal dunia profesional, Fadia juga mendapat kesempatan terjun langsung ke masyarakat. Bersama teman-temannya, ia menjalankan program pencegahan stunting dan edukasi makanan sehat di Bandarharjo, Kota Semarang.
"Jadi di Bandarharjo saya dan teman-teman membuat program untuk pencegahan stunting dan membuat makanan sehat. Sehingga harapannya berdampak pada masyarakat terutama pertumbuhan balita," akunya.
Berbagai pengalaman tersebut membuat Fadia menilai Beasiswa TELADAN bukan sekadar memberikan dukungan finansial. Ia juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, pengalaman profesional, hingga jejaring dengan sesama penerima dan alumni.
"Program Beasiswa TELADAN ini banyak banget benefit-nya, tidak hanya finansial tapi juga program kepemimpinan," tegasnya.
Jejaring tersebut kini menjadi salah satu modal Fadia untuk mempersiapkan langkah setelah menyelesaikan kuliah. Ia melihat para alumni TELADAN sebagai tempat bertukar pengalaman dan mencari pandangan ketika menentukan pilihan masa depan.
Memasuki semester tujuh, Fadia belum menentukan secara pasti apakah setelah lulus akan langsung bekerja atau melanjutkan pendidikan. Ia membuka peluang untuk menjalani keduanya, terutama jika memperoleh kesempatan beasiswa S2.
Baginya, berbagai pengalaman selama menjadi penerima TELADAN telah membantunya mengenali minat, bakat, sekaligus arah karier yang ingin dibangun.
"Lewat Beasiswa TELADAN saya bisa menemukan minat dan bakat saya. Jadi ke depannya bisa menyelaraskan apa yang saya suka, juga pekerjaan yang cocok untuk diri saya," ujarnya.
Setelah merasakan berbagai manfaat tersebut, Fadia kini memilih kembali berkontribusi.
Tahun ini, ia mengikuti rekrutmen ambassador untuk membantu calon penerima Beasiswa TELADAN 2027 mendapatkan informasi mengenai proses pendaftaran.
"Jadi saya ikut ambassadornya. Seumpama ada teman-teman yang mau tanya-tanya tentang pendaftaran Beasiswa TELADAN, saya bisa menjelaskan, baik lewat online maupun langsung," imbuhnya.
Dua tahun setelah pertama kali mengenal TELADAN dari pencarian orang tuanya di internet, Fadia kini berada di sisi yang berbeda. Jika dulu ia menjadi mahasiswa yang mencari informasi beasiswa, sekarang ia justru membantu mahasiswa lain menemukan kesempatan yang sama.
Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejak Fadia dalam mengembangkan potensi diri, pendaftaran Beasiswa TELADAN masih dibuka hingga 7 September 2026 bagi mahasiswa di 10 perguruan tinggi mitra.
Perguruan tinggi tersebut meliputi IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, dan Universitas Sumatera Utara.
Mahasiswa yang ingin mengetahui persyaratan dan tahapan seleksi, sekaligus melakukan pendaftaran, dapat mengunjungi bit.ly/JadiTELADAN2027 atau Instagram @tanotoeducation. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi