RADARSEMARANG.ID, Semarang - Niat awal Rafly Perdana Kusumah mencari beasiswa cukup sederhana. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Diponegoro (Undip) itu ingin meringankan beban ekonomi orang tuanya.
Namun, setelah sekitar satu setengah tahun mengikuti Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Rafly memperoleh pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap masa depan. Ia mulai lebih mengenali dirinya, memahami minat yang ingin ditekuni, hingga menentukan arah karier selepas kuliah.
“Sejak awal kuliah, saya memang bertekad mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban ekonomi orang tua,” ujar Rafly.
Rafly mengenal Beasiswa TELADAN melalui seorang kakak tingkat yang mengadakan seminar. Dari sana, ia mulai melihat bahwa beasiswa yang dicarinya dapat menjadi kesempatan untuk berkembang, bukan hanya membantu kebutuhan pendidikan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mengikuti Lead Self. Dalam proses tersebut, Rafly diajak mengenali karakter, kekuatan, kelemahan, serta potensi dirinya.
“Kami belajar mengenali dan memimpin diri sendiri sebelum belajar memimpin orang lain,” jelasnya.
Bagi Rafly, proses tersebut datang pada waktu yang tepat. Sejak awal kuliah, ia termasuk mahasiswa yang senang mencoba banyak hal dan aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk mencari bidang yang paling sesuai dengan dirinya.
“Saya termasuk orang yang suka bereksplorasi dan mencoba banyak hal,” katanya.
Namun, banyaknya aktivitas yang dijalani sempat membuat Rafly kewalahan. Ia pernah berada pada fase kehilangan arah dan mulai mempertanyakan tujuan yang sebenarnya ingin dicapai selama kuliah.
Melalui berbagai kegiatan reflektif, Rafly mulai melihat kembali pengalaman yang telah dijalaninya. Ia mencoba mengenali pola dari berbagai pilihan, kekuatan, dan kelemahan yang dimiliki.
Proses itu membuatnya menyadari bahwa memiliki banyak pengalaman belum tentu membuat seseorang memahami ke mana ia ingin melangkah. Rafly kemudian merumuskan tujuan hidup dan menyusun mission statement sebagai gambaran arah jangka panjang.
“Melalui Lead Self, saya mulai memahami kekuatan, kelemahan, dan tujuan hidup saya. Dari situ, saya bisa menentukan arah yang ingin saya tuju,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut menjadi titik balik bagi Rafly. Meski menempuh pendidikan di bidang teknik industri, ia menemukan bahwa minat terbesarnya justru berkaitan dengan psikologi, pengelolaan sumber daya manusia, dan bisnis.
“Saya menyadari bahwa minat saya lebih dekat dengan psikologi, pengelolaan sumber daya manusia, dan bisnis. Setelah menemukan tujuan hidup, saya mulai memilih kegiatan yang sesuai dengan arah tersebut,” katanya.
Sejak saat itu, Rafly menjadi lebih selektif menentukan aktivitas. Ia tidak lagi mengikuti kegiatan sekadar untuk menambah pengalaman, tetapi mulai mempertimbangkan kaitannya dengan rencana karier.
Salah satu langkah yang ditempuhnya adalah bergabung dengan 180 Degrees Consulting atau 180 DC, jaringan konsultasi yang dijalankan oleh mahasiswa. Organisasi tersebut memberikan layanan konsultasi kepada lembaga nirlaba, organisasi sosial, serta usaha mikro, kecil, dan menengah.
Rafly juga mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sumber daya manusia dan psikologi. Pengalaman tersebut perlahan digunakannya untuk membangun portofolio menuju bidang karier yang ingin ditekuninya.
Banyaknya kegiatan yang dijalani juga membuat Rafly belajar mengelola kesibukan dengan lebih sadar. Menurutnya, produktivitas bukan hanya persoalan membagi waktu, tetapi juga memahami kapan tubuh dan pikirannya dapat bekerja secara optimal.
“Kita tidak bisa mengelola waktu sebelum mampu mengelola energi diri sendiri,” katanya.
Prinsip tersebut diterapkannya melalui metode time blocking. Kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi ditempatkan pada waktu ketika energinya sedang optimal. Sementara itu, aktivitas yang lebih ringan dikerjakan ketika tingkat energinya mulai menurun.
Kesibukan Rafly berjalan beriringan dengan sejumlah prestasi. Pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 tahun 2025, ia bersama tim meraih medali emas kategori poster Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan dan medali perak kategori presentasi.
Rafly menjadi ketua tim dalam pengembangan tisu pembersih riasan ramah lingkungan berbahan dasar jerami padi dan daun sengon. Dalam proyek tersebut, ia berfokus pada pengelolaan bisnis.
“Saya menjadi ketua tim dan berfokus pada manajemen bisnis. Kami memperoleh pendanaan sekitar Rp8 juta dari pemerintah,” ujarnya.
Prestasinya berlanjut pada 2026. Rafly meraih juara ketiga Business Plan Competition di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan juara ketiga kompetisi Business Model Canvas di Undip.
Bagi Rafly, proses mengenali diri kemudian berlanjut pada bagaimana ia bekerja bersama orang lain dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional. Ia mulai melihat kepemimpinan bukan semata soal memimpin sebuah tim, tetapi juga tentang memahami diri dan menentukan kontribusi yang ingin diberikan.
“Setelah mengenali diri dan memahami potensi yang menjadi keunggulan, kami diarahkan untuk mulai berkontribusi kepada masyarakat,” kata Rafly.
Pertemuan dengan sesama penerima beasiswa turut memperkaya perjalanannya. Pada Juli 2026, Rafly mengikuti Tanoto Scholars Gathering di Riau. Setelah sekitar satu setengah tahun lebih banyak berinteraksi secara daring dengan para penerima Beasiswa TELADAN dari berbagai universitas, Rafly akhirnya dapat bertemu langsung dengan mereka.
Pertemuan itu memberinya kesempatan bertukar pengalaman dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Bagi Rafly, jejaring tersebut menjadi bagian lain dari proses menemukan arah yang ingin ditempuh.
Dari semula hanya mencari bantuan untuk meringankan beban ekonomi keluarga, Rafly kini mulai memiliki gambaran tentang langkah yang ingin diambil setelah menyelesaikan kuliah.
Ia berencana mengikuti program management trainee untuk memperoleh pengalaman profesional sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinannya. Setelah memiliki pengalaman di dunia industri, Rafly ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia membidik program Master of Business Administration (MBA) yang berkaitan dengan bisnis atau pengelolaan sumber daya manusia.
“Setelah lulus, saya ingin mengikuti program management trainee untuk memperoleh pengalaman profesional dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Setelah itu, saya berencana melanjutkan studi di bidang bisnis atau pengelolaan sumber daya manusia,” tuturnya.
Perjalanan itu membuat Rafly melihat kembali alasan awalnya mencari beasiswa. Keinginannya untuk meringankan beban orang tua tetap menjadi bagian penting, tetapi proses yang dijalaninya selama kuliah membawanya pada sesuatu yang sebelumnya belum ia miliki, yaitu arah.
Ia juga belajar bahwa tidak semua kesempatan harus diambil dan tidak semua kegiatan harus dijalani. Setiap pilihan perlu memiliki hubungan dengan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai.
“Saya bersyukur karena Beasiswa TELADAN membantu saya memetakan masa depan dan memilih kegiatan yang benar-benar relevan dengan tujuan saya,” pungkasnya.
Bagi mahasiswa yang saat ini juga masih mencari arah seperti yang pernah dialami Rafly, pendaftaran Beasiswa TELADAN Angkatan 2027 masih terbuka hingga 7 September 2026 bagi mahasiswa semester pertama program sarjana di 10 perguruan tinggi mitra, yakni IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, dan Universitas Sumatera Utara. Informasi mengenai persyaratan, tahapan seleksi, dan pendaftaran dapat diakses melalui bit.ly/JadiTELADAN2027 atau akun Instagram @tanotoeducation. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi