RADARSEMARANG.ID - Zuni Rahmawati memiliki rutinitas khusus bersama putrinya, Shaqueena Humaira Rahmadanu, yakni belajar numerasi sambil bermain. Bagi ibu berusia 31 tahun ini, belajar numerasi tidak harus selalu dilakukan dengan duduk serius di depan buku.
Numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan menggunakan konsep matematika dalam berbagai situasi sehari-hari. Menghitung buah, membandingkan jumlah benda, hingga mengelompokkan benda berdasarkan warna dapat menjadi cara sederhana untuk mengenalkan numerasi kepada anak.
Shaqueena saat ini duduk di kelas II SD. Hampir setiap hari, Zuni menyempatkan waktu untuk belajar bersama putrinya. Kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan untuk melatih numerasi. Zuni juga menemani Shaqueena mempelajari berbagai mata pelajaran lainnya.
Namun, numerasi menjadi salah satu kemampuan yang cukup sering dilatih Zuni bersama putrinya di rumah. Ia berusaha menghadirkan kegiatan belajar yang dekat dengan keseharian anak dan tidak hanya mengandalkan buku atau lembar soal.
Menurut Zuni, benda-benda sederhana di rumah dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Buah-buahan, alat tulis, gelas, hingga mobil-mobilan dapat digunakan untuk melatih anak berhitung dan membandingkan jumlah.
“Ternyata, berhitung bisa dilakukan dengan cara sederhana menggunakan benda-benda di sekitar sebagai alat peraga. Jadi, anak belajar matematika dengan senang karena merasa seperti sedang bermain, padahal sebenarnya sedang belajar numerasi,” ungkapnya.
Cara tersebut membuat kegiatan belajar numerasi terasa seperti bermain. Anak tidak hanya berhadapan dengan angka, tetapi juga diajak memahami dan menggunakan konsep matematika melalui benda-benda yang akrab dengannya.
Misalnya, Zuni menggunakan pensil dan buku untuk mengenalkan perbandingan jumlah. Ia juga memanfaatkan apel, jeruk, atau mobil-mobilan untuk membantu anak memahami konsep lebih banyak, lebih sedikit, atau sama banyak.
Bagi Zuni, mendampingi anak belajar di rumah juga membantunya memahami perkembangan dan kebutuhan belajar Shaqueena. Ia dapat mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai maupun bagian yang masih perlu dilatih.
Zuni juga memilih waktu belajar yang menurutnya paling nyaman bagi Shaqueena. Karena aktivitas anak cukup padat sejak pagi hingga malam, ia lebih sering mengajak putrinya belajar setelah salat subuh.
“Kalau habis salat subuh dia sudah bangun, kami belajar dulu. Setelah itu, baru mandi dan bersiap sarapan. Suasana hatinya malah bagus dan dia juga tidak terlambat berangkat sekolah,” ujarnya.
Salah satu materi numerasi yang paling membekas bagi Zuni adalah perbandingan jumlah. Materi tersebut dikenalkan melalui benda-benda sederhana yang mudah ditemukan di rumah.
“Sejauh ini, materi yang paling saya ingat adalah membandingkan jumlah. Misalnya, ada sembilan pensil dan empat buku. Anak kemudian diminta menentukan mana yang jumlahnya lebih banyak,” tuturnya.
Kebiasaan melatih numerasi tidak hanya dilakukan pada waktu belajar. Zuni juga memanfaatkan berbagai aktivitas sehari-hari untuk membiasakan Shaqueena menggunakan kemampuan berhitungnya.
Saat meminta putrinya mengambil buah, misalnya, Zuni mengajak Shaqueena menghitung jumlah buah yang diambil. Ia juga menggunakan peralatan rumah tangga untuk melatih anak mengenali warna, mengelompokkan benda, dan menghitung jumlahnya.
“Kalau meminta bantuan, saya biasanya berkata, ‘Nok, tolong ambilkan anggur, lalu coba hitung jumlahnya. Setelah itu, ambilkan gelas berwarna hijau dan hitung ada berapa gelas.’ Saya biasanya menerapkan hal-hal seperti itu dalam keseharian,” jelasnya.
Menurut Zuni, cara sederhana tersebut penting agar anak terbiasa menggunakan kemampuan numerasi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai numerasi bukan sekadar kemampuan mengerjakan soal, tetapi juga keterampilan untuk memahami informasi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan angka maupun jumlah.
“Matematika itu ilmu yang berguna, mulai dari kita sekolah sampai nanti tua. Semuanya berkaitan dengan matematika,” tegasnya.
Praktik yang dilakukan Zuni sejalan dengan upaya Tanoto Foundation dalam mendorong keterlibatan orang tua untuk mendukung proses belajar anak. Melalui kegiatan sederhana di rumah, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa numerasi tidak hanya digunakan di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Shaqueena, belajar bersama ibunya menjadi kegiatan yang menyenangkan, terlebih ketika numerasi dikenalkan melalui permainan.
“Senang, soalnya seru dan bisa sambil bermain,” kata Shaqueena.
Saat belajar bersama ibunya, Shaqueena juga terbiasa berlatih menggunakan konsep penjumlahan dan pengurangan.
“Biasanya, saya belajar pengurangan dan penjumlahan bersama Ibu,” ujarnya.
Editor : Baskoro Septiadi