RADARSEMARANG.ID, KENDAL — Desa Karangmanggis, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tengah menyiapkan langkah menuju Desa Cerdas dengan memperkuat keterampilan masyarakat melalui program berbasis literasi, teknologi, kewirausahaan, dan pengelolaan lingkungan. Program tersebut dikembangkan oleh tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Tax Center Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) melalui pembentukan lima Pojok Literasi dengan pendekatan Experiential Learning atau pembelajaran berbasis pengalaman langsung.
Program yang berlangsung selama empat bulan ini dipimpin oleh Andini Anggun Rahmawati dengan pendampingan Yenny Ernitawati, S.E., M.M., Ak.
Kegiatan tersebut merupakan bagian yang didanai dari Program PPK Ormawa Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2026 dan dukungan Universitas Dian Nuswantoro.
Baca Juga: Sampah Sayur Jadi Biogas, Karang Taruna Desa Manggihan Raih Juara 1 Jateng dan Melaju ke Nasional
Berangkat dari Potensi dan Persoalan Desa
Desa Karangmanggis memiliki potensi sumber daya lokal yang cukup besar. Dengan wilayah yang berada pada ketinggian sekitar 450–600 meter di atas permukaan laut, desa ini memiliki potensi pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat yang dapat dikembangkan.
Salah satunya adalah pemanfaatan singkong sebagai bahan baku pembuatan kerupuk slondok yang menjadi salah satu produk UMKM lokal.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Hasil survei terhadap 25 anak menunjukkan bahwa 75 persen masih mengalami kesulitan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung), sementara sebagian lainnya menghadapi persoalan perundungan.
Pada sektor ekonomi, terdapat sekitar 15 pelaku UMKM aktif yang masih menggunakan kemasan sederhana, belum memiliki identitas merek yang kuat, dan belum optimal memanfaatkan pemasaran digital.
Di sisi lain, sebanyak 10 perangkat desa juga membutuhkan peningkatan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung pelayanan administrasi berbasis digital.
Persoalan lain muncul dari pengelolaan lingkungan. Limbah organik rumah tangga yang tersedia cukup melimpah belum dimanfaatkan secara produktif sehingga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus kehilangan peluang ekonomi.
“Program ini kami rancang bukan hanya untuk memberikan pelatihan, tetapi menghadirkan proses belajar yang langsung dipraktikkan oleh masyarakat. Dengan metode Experiential Learning, masyarakat belajar melalui pengalaman, mencoba, mengevaluasi, kemudian mengembangkan keterampilan yang mereka miliki,” ujar Yenny Ernitawati, S.E., M.M., Ak., selaku dosen pendamping.
Lima Pojok Literasi, Lima Fokus Pemberdayaan
Untuk menjawab berbagai persoalan tersebut, tim PPK Ormawa Tax Center Udinus menghadirkan lima Pojok Literasi yang memiliki fokus pemberdayaan berbeda tetapi saling terhubung.
Pertama, Aksara Gemanka, yang diarahkan untuk memperkuat literasi dasar sekaligus karakter anak. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu anak-anak meningkatkan kemampuan calistung serta membangun lingkungan belajar yang lebih aman dan menyenangkan.
Kedua, Nirdaya Arthawaskita, yang berfokus pada pengembangan kapasitas UMKM. Masyarakat diberikan pengalaman langsung dalam mengembangkan identitas merek, memperbaiki kemasan, hingga memanfaatkan pemasaran digital agar produk lokal memiliki daya saing lebih tinggi.
Ketiga, Swaradesa Tech, yang diarahkan pada digitalisasi pemerintahan desa melalui pengembangan website “SiManggis”. Platform tersebut diharapkan dapat mendukung penyebaran informasi desa sekaligus meningkatkan efektivitas pelayanan administrasi kepada masyarakat.
Keempat, Resikarta Lestari, yang mendorong masyarakat mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, seperti pupuk organik cair. Pendekatan ini tidak hanya menyasar persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkenalkan peluang ekonomi berbasis pengelolaan limbah.
Kelima, Srikandi Nusantara, yang diarahkan untuk memperkuat peran perempuan desa melalui kegiatan produktif berbasis potensi rumah tangga dan sumber daya lokal.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar keterampilan sesaat, tetapi kapasitas masyarakat agar mampu melanjutkan kegiatan secara mandiri setelah program selesai. Karena itu, masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan,” kata Andini Anggun Rahmawati, Ketua Pelaksana PPK Ormawa.
Baca Juga: Tahun 2024 Berakhir, FTIK UIN Salatiga Wisuda Pengurus ORMAWA dan Soroti Tantangan Tahun 2025
Dari Keterampilan Menuju Kemandirian
Program ini menargetkan sejumlah perubahan nyata di masyarakat. Di bidang pendidikan, kemampuan literasi dasar anak diharapkan meningkat. Di bidang ekonomi, UMKM ditargetkan memiliki identitas merek dan kemasan produk yang lebih baik serta mulai memanfaatkan kanal pemasaran digital.
Sementara itu, digitalisasi melalui website “SiManggis” diharapkan membantu desa menyediakan informasi dan pelayanan secara lebih efektif. Pengolahan limbah organik juga ditargetkan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan maupun dikembangkan menjadi sumber nilai ekonomi baru.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, program ini juga diarahkan untuk membangun budaya belajar masyarakat. Pendekatan Experiential Learning memungkinkan warga memperoleh pengetahuan melalui praktik nyata, sehingga keterampilan yang diperoleh lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain luaran berupa peningkatan kapasitas masyarakat, program ini juga menghasilkan luaran akademik dan publikasi, antara lain buku refleksi pemberdayaan masyarakat, publikasi pada media cetak dan media daring, serta poster kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Menjadikan Potensi Lokal sebagai Kekuatan Desa
Dengan memadukan literasi, teknologi, kewirausahaan, pemberdayaan perempuan, dan kepedulian lingkungan, program PPK Ormawa Tax Center Udinus diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun fondasi Desa Cerdas di Karangmanggis.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk menerapkan pengetahuan, mengembangkan potensi lokal, serta melanjutkan praktik baik secara mandiri.
Pada akhirnya, Desa Cerdas bukan semata-mata desa yang menggunakan teknologi, melainkan desa yang memiliki masyarakat berpengetahuan, terampil, adaptif, produktif, dan mampu mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. Dari Karangmanggis, pojok-pojok literasi diharapkan menjadi ruang kecil yang melahirkan perubahan besar bagi kemandirian dan daya saing masyarakat desa. (*)
Editor : Tasropi