Kartu Pasangan Bilangan, Cara Niken Tingkatkan Numerasi Siswa lewat Permainan

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 05:35 WIB
Guru SD Negeri 1 Tambakrejo Niken Hartanti, S.Pd., M.Si, mengajarkan numerasi melalui permainan kartu bilangan.
Guru SD Negeri 1 Tambakrejo Niken Hartanti, S.Pd., M.Si, mengajarkan numerasi melalui permainan kartu bilangan.

 

RADARSEMARANG.ID, Kendal -  Belajar matematika bagi siswa kelas 1 SD tidak selalu harus dilakukan dengan buku dan hafalan. Guru SD Negeri 1 Tambakrejo, Kabupaten Kendal, Niken Hartanti, S.Pd., M.Si., memilih cara berbeda. Ia mengajak siswanya belajar numerasi melalui permainan Kartu Pasangan Bilangan.

Menurutnya, anak perlu memahami bahwa setiap angka memiliki nilai dan mewakili jumlah tertentu. Karena itu, melalui Kartu Pasangan Bilangan, ia mengajak siswa memahami konsep dasar bilangan dengan cara bermain.

Niken, yang juga menjadi Koordinator Sekolah untuk program Bermain Angka di Rumah dalam Pelatihan Numerasi Tanoto Foundation, membuat media sederhana. Bentuknya terinspirasi oleh kartu domino, tetapi isinya dimodifikasi untuk mengenalkan konsep bilangan. Kartu tersebut memuat angka dan gambar dengan jumlah tertentu. Siswa kemudian diminta mencari dan memasangkan kartu yang memiliki nilai sama.

“Anak-anak nanti mencocokkan gambar dan angka itu,” kata Niken.

Cara sederhana tersebut membantu siswa memahami bahwa angka bukan sekadar simbol yang harus dihafalkan. Ada jumlah yang diwakili oleh setiap angka.

Misalnya, ketika mendapatkan kartu angka 5, siswa harus mencari gambar yang menunjukkan lima benda. Untuk menemukan pasangannya, anak perlu menghitung terlebih dahulu.

Di situlah proses numerasi berlangsung. Anak belajar mengenali angka, membilang benda, mencocokkan jumlah, sekaligus memahami hubungan antara simbol bilangan dan nilai yang diwakilinya.

Menurut Niken, cara tersebut dipilih karena siswa kelas 1 masih berada pada masa peralihan dari TK ke SD. Pada tahap itu, anak lebih mudah memahami pelajaran melalui benda konkret, gambar, permainan, dan aktivitas langsung.

Terlebih, tidak semua siswa yang masuk kelas 1 sudah memiliki kemampuan numerasi yang sama. Ada yang sudah mengenal angka dengan baik, tetapi ada pula yang masih kesulitan menghubungkan lambang bilangan dengan jumlah benda. Oleh sebab itu, menurut Niken, konsep dasar harus diperkuat sebelum anak diarahkan untuk menghafal berbagai operasi hitung.

“Saya meyakini, ketika anak dipermudah untuk mencari atau menemukan sesuatu tanpa dia harus melalui prosesnya, itu nanti hilangnya juga cepat,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkalian. Anak memang bisa menghafal hasil perkalian. Namun, ketika lupa, mereka akan kesulitan jika tidak memahami konsep dasarnya.

“Maka, boleh menghafal ketika konsep dasar mereka sudah kuat,” tegasnya.

Karena itu, Niken berusaha membuat pembelajaran numerasi dekat dengan pengalaman sehari-hari anak. Pembelajaran tidak selalu menggunakan teknologi atau media yang rumit.

“Jadi, saya masih pakai daun, saya masih pakai batu, masih pakai alat-alat yang ada saja, yang dekat dengan siswa, sehingga mereka mudah mengingat,” ujarnya.

Di kelasnya, siswa juga dibiasakan menggunakan benda sederhana, seperti tutup botol, untuk mengenal jumlah. Anak dapat diminta mengambil sejumlah benda sesuai dengan angka yang disebutkan guru.

Menariknya, lingkungan kelas pun ditata agar mendukung pembelajaran numerasi. Berbagai media ditempel dan disiapkan sehingga siswa bisa melihat angka, gambar, maupun bentuk penyajian data dalam aktivitas sehari-hari.

Dengan begitu, numerasi tidak hanya muncul ketika guru mengatakan bahwa sudah saatnya belajar matematika. Anak bisa mengenali konsep bilangan dari benda dan lingkungan di sekitarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam penerapan Kartu Pasangan Bilangan, siswa juga belajar secara berkelompok. Mereka bergiliran mengambil kartu, mengamati, menghitung, kemudian mencari pasangan yang sesuai.

Jika ada yang keliru, siswa tidak langsung diberi jawaban. Mereka diarahkan untuk menghitung kembali. Teman satu kelompok juga dapat membantu.

Cara tersebut membuat pembelajaran numerasi berlangsung lebih aktif. Anak tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi terlibat langsung dalam proses menemukan jawaban. Niken menyebutkan bahwa suasana menyenangkan penting bagi siswa kelas 1 karena mereka masih berada dalam masa peralihan dan perlu beradaptasi.

“Belajar itu perlu bergembira. Belajar itu perlu senang,” katanya.

Hasilnya pun terlihat dari kemampuan numerasi siswa. Sebelum menggunakan Kartu Pasangan Bilangan, sebanyak 12 dari 28 siswa atau 42,9 persen mencapai kriteria ketuntasan. Setelah mengikuti pembelajaran menggunakan media tersebut, jumlah siswa yang mencapai kriteria ketuntasan meningkat menjadi 24 siswa atau 85,7 persen.

Bagi Niken, peningkatan itu menunjukkan bahwa media sederhana dapat membantu anak memahami konsep bilangan. Terlebih, proses belajar dilakukan dengan cara yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas awal.

Namun, ia tidak hanya mengandalkan hasil kerja kelompok. Setelah bermain, siswa tetap diberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahamannya secara mandiri.

“Kalau berkelompok seperti itu, biasanya anak-anak ini bergantung pada anak yang paling pintar. Ada yang tidak aktif. Tidak apa-apa, tidak masalah. Namun, pada akhir pembelajaran, mereka kami tagih secara mandiri. Jadi, kami tahu perkembangan mereka,” bebernya.

Menurutnya, asesmen individual seperti itu penting dilakukan untuk memastikan kemampuan setiap anak. Sebab, perkembangan antara satu siswa dan siswa lainnya tidak selalu sama.

“Seperti dokter itu kan mendiagnosis. Ternyata guru juga harus mendiagnosis supaya apa yang kami ajarkan kepada anak-anak itu tepat,” katanya.

Prinsip tersebut membuat Niken tidak memaksakan satu cara belajar untuk semua siswa. Anak yang masih kesulitan membilang dapat diberikan bantuan melalui benda konkret. Sementara itu, siswa yang sudah memahami konsep dapat diberikan tantangan berikutnya.

Niken mengaku bahwa inovasi Kartu Pasangan Bilangan tersebut terinspirasi oleh teori representasi Jerome Bruner yang ia pelajari saat mengikuti pelatihan dari Tanoto Foundation. Menurut Niken, teori Bruner tersebut dibangun melalui tiga bentuk representasi, yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik.

Ia menjelaskan bahwa pada representasi enaktif, murid belajar melalui tindakan dan pengalaman langsung. Selanjutnya, pada representasi ikonik, murid memahami konsep melalui gambar atau tampilan visual. Adapun pada representasi simbolik, murid mulai menggunakan lambang, angka, dan bahasa matematika yang lebih abstrak.

Ketiga bentuk representasi tersebut diterapkan melalui Kartu Pasangan Bilangan. Murid memegang, mengamati, menghitung, dan memasangkan kartu sebagai bentuk pengalaman enaktif. Gambar sejumlah benda pada kartu menjadi representasi ikonik, sedangkan lambang bilangan menjadi representasi simbolik. Dengan demikian, murid tidak langsung dihadapkan pada angka yang abstrak, tetapi memperoleh pengalaman belajar yang membantu mereka menghubungkan tindakan, gambar, dan simbol bilangan.

Menariknya, selain di sekolah, Niken juga mendorong agar numerasi dikenalkan di rumah. Menurutnya, orang tua tidak harus menyediakan waktu khusus untuk memberikan soal matematika. Numerasi bisa tumbuh dari aktivitas sederhana selama anak diajak mengamati, menghitung, membandingkan, mengelompokkan, dan memahami hubungan antarbilangan.

Kegiatan sehari-hari bisa menjadi sarana belajar. Misalnya, saat bermain LEGO, anak bisa diajak menghitung jumlah benda berdasarkan warna. Lalu, saat merapikan buku, anak dapat diajak mengurutkan buku berdasarkan ukurannya.

“Belajar numerasi itu sederhana dalam kehidupan sehari-hari, bisa sambil bermain. Namun, mereka, para orang tua, tidak menyadari bahwa numerasi itu sebenarnya sederhana,” ujarnya.

Bagi Niken, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak bisa menjawab soal matematika. Lebih dari itu, anak diharapkan memiliki pemahaman konsep sehingga mampu menemukan cara ketika menghadapi persoalan.

Harapannya, melalui permainan sederhana itu, siswa tidak hanya belajar angka. Mereka belajar membilang, mencocokkan, berpikir, bekerja sama, dan berani mencoba. Matematika pun tidak lagi sekadar hafalan, tetapi menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak.

“Jadi, kenyamanan anak dalam belajar merupakan fondasi yang kuat bagi pembelajaran bermakna,” tandasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
kartu pasangan bilangan soal matematika numerasi tanoto foundation