14 Sekolah di Semarang Disiapkan Jadi Champion Pembelajaran Mendalam

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:05 WIB
Pelatihan Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM), Koding, dan Kecerdasan Artifisial (KKA) oleh Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Disdik Kota Semarang
Pelatihan Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM), Koding, dan Kecerdasan Artifisial (KKA) oleh Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Disdik Kota Semarang

 

RADARSEMARANG.ID - Suasana pelatihan Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM), Koding, dan Kecerdasan Artifisial (KKA) berlangsung interaktif. Para guru duduk melingkar dalam kelompok kecil yang terdiri atas lima hingga enam orang. Mereka berdiskusi, menyusun aktivitas belajar aktif, hingga memilah peratanyaan produktif, imajinatif dan terbuka sebagai bagian dari latihan merancang pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.

Diskusi tersebut menjadi bagian dari Pelatihan Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial yang digelar Dinas Pendidikan Kota Semarang bersama Tanoto Foundation di Aula B Dinas Pendidikan Kota Semarang, Senin (10/8).

Sebanyak 14 sekolah dasar di Kota Semarang terlibat dalam program tersebut. Enam sekolah berada di Kecamatan Tembalang dan delapan sekolah di Kecamatan Mijen. Dari masing-masing sekolah itu satu kepala sekolah dan satu guru mengikuti pelatihan. Mereka disiapkan menjadi fasilitator sekaligus motor perubahan di sekolah masing-masing.

Menariknya dalam kelompok, guru tidak sekadar menerima materi dari fasilitator. Mereka diajak mempraktekkan langsung konsep pembelajaran mendalam dengan merumuskan pertanyaan dan tugas yang mendorong siswa aktif melakukan pengamatan, percobaan atau penyelidikan dalam proses pembelajaran. Pertanyaan tersebut kemudian dikelompokkan menjadi pertanyaan produktif dan tidak produktif.

Para peserta juga belajar membedakan pertanyaan yang bersifat faktual dan imajinatif. Melalui diskusi tersebut, guru didorong memahami bagaimana sebuah pertanyaan dapat memancing siswa berpikir lebih kritis, aktif berkomunikasi, serta mampu menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman mereka.

Peserta juga belajar merumuskan pertanyaan yang bersifat terbuka. Mereka berlatih merumuskan pertanyaan terbuka yang berkaitan dengan bilangan 2, 3, 5, 8. Misalnya, bilangan dua angka mana saja yang bisa dibentuk? Penjumlahan dua bilangan mana saja yang hasilnya genap? Dengan pertanyaan terbuka siswa dilatih untuk berpikir kreatih menemukan banyak alternatif jawaban yang benar.

Regional Lead Tanoto Foundation Anang Ainur Roziqin mengatakan melalui program ini, para peserta juga disiapkan menjadi fasilitator yang nantinya dapat mendampingi guru lain di komunitas belajar. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat ditularkan kepada guru lain.

"Program ini menjadi bagian dari dukungan Tanoto Foundation sebagai mitra pembangunan terhadap Program Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah," ujar Anang.

Konsep Pembelajaran Mendalam dalam pelatihan juga diperkuat dengan pendekatan MIKiR yang terdiri dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi. Pendekatan tersebut mendorong siswa terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga materi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga dialami dan direfleksikan.

Anang menyebut peserta ini nantinya diharapkan menjadi motor penggerak perubahan di sekolah masing-masing. Nantinya mereka juga bertugas menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada guru lainnya.

"Berdasarkan materi pelatihan, para peserta juga dibekali cara menyusun pertanyaan dan lembar kerja siswa yang mendukung pembelajaran mendalam. Peserta kemudian diberi kesempatan mempraktikkan materi tersebut melalui pembelajaran nyata di kelas," imbuhnya.

Sementara melalui penguatan Koding dan Kecerdasan Artifisial, sekolah diarahkan membangun literasi digital sekaligus kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis. Teknologi juga diharapkan diterapkan secara kontekstual dan bertanggung jawab dalam pembelajaran.

Menariknya pelatihan tidak berhenti di ruang pertemuan. Setelah memperoleh materi, guru diberi waktu untuk mempraktikkannya di sekolah. Hasil praktik tersebut kemudian dibahas dan direfleksikan bersama pada pertemuan berikutnya. Karena itu kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai 10-14 Agustus 2026. 

Pada hari pertama, para guru mendapatkan materi pembelajaran aktif dan mengembangkan pertanyaan serta lembar kerja dalam kerangka pembelajaran mendalam. Hari kedua hingga ke-empat, guru bertugas menerapkan praktik baik itu langsung kepada peserta didik. Baru di hari kelima, mereka akan berkumpul lagi di Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk berdiskusi dan melakukan evaluasi.

Peserta pelatihan kali ini dipersiapkan untuk menjadi fasilitator atau pelatih bagi guru lain. Sehingga selain materi pembelajaran mendalam, peserta juga diberi materi tetang pendampingan yang baik dan umpan balik yang efektif. Kedua materi ini akan dipraktekkan pada saat pelatihan pengimbasan di tingkat gugus dan sekolah.

Program Sekolah Model hadir untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, serta literasi digital dan teknologi. Kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, fasilitator, komunitas belajar, dan mitra pembangunan diperlukan agar hasil pelatihan dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

Setelah pelatihan, program dilanjutkan dengan implementasi dan pendampingan di sekolah model hingga Oktober 2026. Selanjutnya dilakukan monitoring dan evaluasi sebelum laporan diserahkan kepada Kemendikdasmen dan program diadopsi pemerintah daerah.

Salah satu peserta, Kepala SDN Sendangmulyo 02 Semarang Darsimah, mengatakan pelatihan tersebut memberikan kesempatan bagi sekolah untuk langsung memikirkan bentuk implementasi Pembelajaran Mendalam di kelas.

Menurutnya, konsep MIKiR menjadi salah satu hal yang menarik karena dapat melengkapi penerapan Pembelajaran Mendalam. Guru tidak hanya mempersiapkan materi, tetapi juga merancang aktivitas yang membuat siswa lebih aktif dan pembelajaran terasa lebih bermakna.

"Jadi, kita saling melengkapi agar pembelajaran mendalam ini implementasinya lebih masuk lagi ke dalam pembelajaran murid agar lebih bermakna, lebih menggembirakan, lebih berkesadaran itu terutama untuk murid-murid," ujarnya.

Darsimah mencontohkan, salah satu materi yang akan dipraktikkan di sekolahnya adalah sistem pernapasan manusia. Siswa nantinya tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi membuat alat peraga dan mempraktikkan bagaimana proses manusia bernapas secara berkelompok.

Pembelajaran tersebut diharapkan membuat siswa memahami materi melalui pengalaman langsung. Dari proses itu, siswa kemudian diajak melakukan refleksi terhadap apa yang telah dipelajari.

"Saat ini kan baru teori dan simulasi, lalu di sekolah kita akan menerapkan, terus dilakukan refleksi, nanti akan dapat informasi lagi, dari sini (pembelajaran yang diterapkan) hasilnya seperti ini," katanya.

Sementara Pengembang Teknologi Pembelajaran Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jateng Wiwik Akhirul Aeni mengatakan, secara keseluruhan terdapat 26 sekolah model di Kota Semarang. Sebanyak 14 sekolah di antaranya mendapat pendampingan Tanoto Foundation. Sekolah tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sekolah yang menerima pelatihan, tetapi menjadi contoh atau champion dalam penerapan Pembelajaran Mendalam.

"Harapannya 14 sekolah ini bisa jadi champion (sekolah model)," ungkapnya.

Menurut Wiwik, sekolah model ini bukan sekadar pilot project, melainkan menjadi laboratorium inovasi. Dari sekolah model itu, satuan pendidikan lain dapat melihat dan memetik praktik baik yang telah diterapkan.

"(Sekolah model) Sebagai laboratorium inovasi istilah kita itu, bagaimana mengimplementasikan pembelajaran mendalam yang baik dan maksimal di 14 sekolah model ini. Nah, sekolah-sekolah lain nanti bisa memetik praktik baik atau pembelajaran dari sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah model ini," bebernya.

Pelatihan tersebut juga membekali peserta dengan kemampuan membuat perangkat pembelajaran, lembar kerja siswa, hingga strategi fasilitasi dan pendampingan. Para guru dan kepala sekolah yang mengikuti pelatihan nantinya diharapkan mampu menjadi penggerak di komunitas belajar masing-masing.

Dengan pola tersebut, implementasi Pembelajaran Mendalam diharapkan tidak berhenti di 14 sekolah. Praktik yang dinilai berhasil dapat dibagikan dan diterapkan oleh guru lain, sehingga perubahan pembelajaran dapat meluas ke sekolah-sekolah lainnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Muhammad Ahsan mengatakan, peserta pelatihan diharapkan tidak menyimpan pengetahuan yang diperoleh untuk diri sendiri. Mereka diminta membagikan praktik baik kepada rekan sejawat dan komunitas belajar.

"Kami berharap kepala sekolah dan guru yang mengikuti pelatihan ini tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi dapat membagikan pengetahuan dan praktik baik yang diperoleh kepada rekan sejawat serta komunitas belajar di sekolah maupun wilayahnya,” ujar Ahsan. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
sekolah model Pembelajaran Mendalam Dinas Pendidikan KOTA SEMARANG tanoto foundation