RADARSEMARANG.ID - Andreas Bakara Sitanggang tak pernah memandang beasiswa sekadar sebagai bantuan biaya kuliah. Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) itu, beasiswa justru menjadi titik balik yang mengubah cara berpikirnya. Ia belajar mengenali diri, menyusun tujuan hidup, hingga meyakini bahwa ilmu yang dimiliki harus kembali memberi manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan itu bermula dari mimpi seorang remaja di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa. Andre sapaan akrabnya, sudah sejak SMA rajin menelusuri berbagai informasi tentang beasiswa. Ia ingin menemukan program yang tidak hanya mempertimbangkan latar belakang ekonomi, tetapi juga menghargai prestasi dan potensi diri. Mahasiswa Undip itu pun kini menjadi penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation. Ia tak hanya aktif mengejar prestasi akademis, tapi juga turun langsung untuk ikut serta memberikan manfaat pada masyarakat.“Sejak SMA, aku sudah ingin mencari beasiswa yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi lebih mempertimbankan prestasi dan potensi diri. Saat aku browsing, Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation muncul paling atas,” jelas Andre.
Sejak saat itu, Andre mulai menyusun langkah. Ia sengaja mengarahkan pilihannya ke 10 perguruan tinggi yang menjadi mitra Program Beasiswa TELADAN Undip akhirnya menjadi pilihannya.
Andre mengaku sebelumnya diterima di Universitas Sumatera Utara (USU) dan beberapa perguruan tinggi lain. Namun, hatinya memilih Undip karena ia merasa Jawa Tengah menawarkan lingkungan yang paling sesuai dengan karakternya."Saya merasa environment yang ada di Jawa Tengah itu sangat match dengan energi saya," akunya.
“Saya sangat bersyukur orang tua sangat support. Jadi, ke mana pun saya memilih untuk mencapai cita- cita, orang tua sangat support,” bebernya.
Perjuangan Andre tak berhenti di situ. Ia bercerita bahwa untuk mendaftar Beasiswa TELADAN, dirinya tidak hanya menyiapkan berkas administratif, tetapi juga kesiapan diri.
“Hal yang paling penting untuk dipersiapkan, menurut saya adalah kesiapan diri. Sebenarnya, tujuan kita ini mau mencapai apa sebelum mengambil beasiswa itu,” tegasnya.
Selama dua tahun menjadi Tanoto Scholar, Andre merasakan banyak manfaat. Ia tidak hanya mendapatkan dukungan finansial berupa biaya kuliah penuh dan tunjangan hidup, tetapi juga mengikuti program pengembangan kepemimpinan yang terstruktur.“Saya ingin menjadi seorang researcher. Bagaimana kemudian hasil research yang dilakukan itu benar-benar evidence-based dan bisa menjadi rekomendasi kebijakan,” pungkasnya.
yang dimiliki Andre menjadi salah satu gambaran bagaimana Tanoto Foundation terus mendukung generasi muda Indonesia yang memiliki mimpi besar untuk berkembang, tidak hanya secara akademik, tetapi juga sebagai calon pemimpin yang mampu menghadirkan dampak bagi masyarakat. Melalui Program Beasiswa TELADAN, Tanoto Foundation mendorong mahasiswa untuk mengenali potensi diri, mengasah kepemimpinan, serta membangun kepedulian sosial agar ilmu yang dimiliki dapat kembali memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Komitmen tersebut berlanjut pada pembukaan pendaftaran Program Beasiswa TELADAN Cohort 2027. Program ini merupakan salah satu inisiatif utama Tanoto Foundation dalam menyiapkan generasi muda Indonesia menjadi pemimpin yang memiliki tujuan, karakter, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Program Beasiswa TELADAN dapat diikuti oleh mahasiswa S1 semester pertama di 10 perguruan tinggi mitra, yakni Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Indonesia (UI), Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Riau (Unri), dan Universitas Sumatera Utara (USU). (kap)