Andreas, Mahasiswa Undip yang Mengubah Beasiswa Menjadi Jalan Mengabdi kepada Masyarakat

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 16:18 WIB
Andreas Bakara Sitanggang Penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.
Andreas Bakara Sitanggang Penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.

 

RADARSEMARANG.ID -  Andreas Bakara Sitanggang tak pernah memandang beasiswa sekadar sebagai bantuan biaya kuliah. Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) itu, beasiswa justru menjadi titik balik yang mengubah cara berpikirnya. Ia belajar mengenali diri, menyusun tujuan hidup, hingga meyakini bahwa ilmu yang dimiliki harus kembali memberi manfaat bagi masyarakat. 

Perjalanan itu bermula dari mimpi seorang remaja di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa. Andre sapaan akrabnya, sudah sejak SMA rajin menelusuri berbagai informasi tentang beasiswa. Ia ingin menemukan program yang tidak hanya mempertimbangkan latar belakang ekonomi, tetapi juga menghargai prestasi dan potensi diri. Mahasiswa Undip itu pun kini menjadi penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation. Ia tak hanya aktif mengejar prestasi akademis, tapi juga turun langsung untuk ikut serta memberikan manfaat pada masyarakat.

“Sejak SMA, aku sudah ingin mencari beasiswa yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi lebih mempertimbankan prestasi dan potensi diri.  Saat aku browsing, Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation muncul paling atas,” jelas Andre. 

Sejak saat itu, Andre mulai menyusun langkah. Ia sengaja mengarahkan pilihannya ke 10 perguruan tinggi yang menjadi mitra Program Beasiswa TELADAN Undip akhirnya menjadi pilihannya. 

Andre mengaku sebelumnya diterima di Universitas Sumatera Utara (USU) dan beberapa perguruan tinggi lain. Namun, hatinya memilih Undip karena ia merasa Jawa Tengah menawarkan lingkungan yang paling sesuai dengan karakternya.

"Saya merasa environment yang ada di Jawa Tengah itu sangat match dengan energi saya," akunya. 

Keputusan untuk merantau pun penuh tantangan. Andre merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dalam tradisi Batak, anak bungsu biasanya diharapkan tetap dekat dengan orang tua dan tinggal di daerah asal. Namun, Andre bersyukur karena keluarganya sangat suportif. Orang tuanya mendukung keputusannya untuk merantau ke Kota Semarang demi menggapai cita-cita.

“Saya sangat bersyukur orang tua sangat support. Jadi, ke mana pun saya memilih untuk mencapai cita- cita, orang tua sangat support,” bebernya.

Perjuangan Andre tak berhenti di situ. Ia bercerita bahwa untuk mendaftar Beasiswa TELADAN, dirinya tidak hanya menyiapkan berkas administratif, tetapi juga kesiapan diri. 

“Hal yang paling penting untuk dipersiapkan, menurut saya adalah kesiapan diri. Sebenarnya, tujuan kita ini mau mencapai apa sebelum mengambil beasiswa itu,” tegasnya. 

Selama dua tahun menjadi Tanoto Scholar, Andre merasakan banyak manfaat. Ia tidak hanya mendapatkan dukungan finansial berupa biaya kuliah penuh dan tunjangan hidup, tetapi juga mengikuti program pengembangan kepemimpinan yang terstruktur.
 
Ia menjelaskan bahwa Program TELADAN memiliki tiga tahap pengembangan, yakni lead self, lead others, dan professional preparation. Dalam program tersebut, para penerima beasiswa tidak langsung diajak memimpin orang lain. Mereka terlebih dahulu diminta memahami diri sendiri melalui tahap lead self.
 
Pada tahap inilah Andre merasa hidupnya berubah. Ia belajar mengenali kelebihan dan kekurangan diri, memahami emosi, menemukan minat, hingga menyusun tujuan hidup secara lebih terarah.
 
"Sebelum kita memimpin orang lain, kita harus tahu dahulu diri kita seperti apa, kapasitas kita apa, serta kelebihan dan kelemahan kita apa,” ujarnya.
 
Dari proses itu pula lahir kebiasaan baru yang hingga kini masih ia lakukan setiap hari, yaitu menulis jurnal. Bagi sebagian orang, journaling mungkin hanya rutinitas kecil. Namun, bagi Andre, kebiasaan tersebut menjadi ruang untuk berdialog dengan dirinya sendiri.
 
Kebiasaan itu sangat membantunya ketika mulai kewalahan membagi waktu. Kuliah, organisasi, riset, lomba, kegiatan Program TELADAN, hingga pengabdian kepada masyarakat datang secara bersamaan. Ia pernah merasa lelah dan kehilangan arah.
 
“Andre pernah banget merasa capek. Banyak banget kegiatan, banyak banget deadline. Setelah refleksi, ternyata Andre salah. Andre harus berfokus pada apa yang ingin Andre capai saja,” ungkapnya.
 
Sejak saat itu, ia mulai menerapkan skala prioritas menggunakan Matriks Eisenhower. Akademik menjadi prioritas utama. Setelah itu, ia mengatur berbagai aktivitas lain berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya.
 
Academic is number one,” katanya.
 
Saat ini, Andre berada pada tahap lead others, yaitu tahap ketika ia belajar memimpin orang lain dan menginisiasi proyek yang bermanfaat bagi masyarakat. Bersama rekan-rekannya, Andre mendirikan Bank Sampah Eco Lestari di Bandarharjo. Ide tersebut berawal dari persoalan sampah yang menumpuk dan keberadaan bank sampah yang mati suri di wilayah Semarang Utara. Mereka kemudian membangun sistem pengelolaan baru yang mampu mengolah sekitar 100 kilogram sampah setiap bulan.
 
Program itu selanjutnya berkembang. Mereka tidak hanya mengelola sampah anorganik, tetapi juga mengolah sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) menjadi pupuk dan produk bernilai ekonomi bagi warga.
 
Bagi Andre, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memimpin tim, melainkan juga keberanian menghadirkan solusi bagi masyarakat.
 
“Apa yang saya  dapatkan saat ini harus kembali kepada masyarakat juga. Kita harus pay it forward,” tegasnya.
 
Perubahan cara berpikir untuk memberikan manfaat kepada orang lain itulah yang mengantarkan Andre untuk terus berjuang menggapai cita-citanya. Salah satunya dilakukan dengan memperbanyak prestasi. Tahun ini, Andre dipercaya menjadi mahasiswa berprestasi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip. Ia juga telah mengumpulkan lebih dari 16 prestasi tingkat nasional dan internasional.
 
Bersama timnya, ia meraih Juara I Pertamina Eco Innovation Competition 2026. Belum lama ini, ia juga menjadi satu - satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak final Asian Hackathon for Green Future di Vietnam. Tanoto Foundation turut mendukung keberangkatannya ke Vietnam untuk mengikuti kompetisi tersebut.
 
Kini, Andre tidak lagi memaknai beasiswa sebagai tujuan akhir. Baginya, Beasiswa TELADAN telah menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. Dari seorang siswa yang awalnya hanya ingin mendapatkan bantuan biaya kuliah, ia tumbuh menjadi mahasiswa yang ingin menghasilkan ribet untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

“Saya  ingin menjadi seorang researcher. Bagaimana kemudian hasil research yang dilakukan itu benar-benar evidence-based  dan bisa menjadi rekomendasi kebijakan,” pungkasnya.

 yang dimiliki Andre menjadi salah satu gambaran bagaimana Tanoto Foundation terus mendukung generasi muda Indonesia yang memiliki mimpi besar untuk berkembang, tidak hanya secara akademik, tetapi juga sebagai calon pemimpin yang mampu menghadirkan dampak bagi masyarakat. Melalui Program Beasiswa TELADAN, Tanoto Foundation mendorong mahasiswa untuk mengenali potensi diri, mengasah kepemimpinan, serta membangun kepedulian sosial agar ilmu yang dimiliki dapat kembali memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. 

Komitmen tersebut berlanjut pada pembukaan pendaftaran Program Beasiswa TELADAN Cohort 2027. Program ini merupakan salah satu inisiatif utama Tanoto Foundation dalam menyiapkan generasi muda Indonesia menjadi pemimpin yang memiliki tujuan, karakter, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Program Beasiswa TELADAN dapat diikuti oleh mahasiswa S1 semester pertama di 10 perguruan tinggi mitra, yakni Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Indonesia (UI), Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Riau (Unri), dan Universitas Sumatera Utara (USU). (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
lead self Beasiswa Teladan Universitas Diponegoro Potensi Diri tanoto foundation