Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Incar 500 Besar Dunia, Rektor Undip Bakal Benahi Publikasi hingga Internasionalisasi Kampus

Ida Fadilah • Rabu, 15 Juli 2026 | 17:28 WIB
Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Prof Suharnomo. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Prof Suharnomo. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Prof Suharnomo mengakui masih ada sejumlah kelemahan yang menghambat kampusnya menembus 500 besar dunia. Meski beberapa indikator reputasi telah membaik, rendahnya sitasi publikasi ilmiah dan minimnya jumlah mahasiswa asing masih menjadi pekerjaan rumah utama.

Saat ini, berdasarkan pemeringkatan dunia, Undip berada di posisi 662. Kampus tersebut menargetkan bisa masuk kelompok 500 besar dunia melalui perbaikan kualitas riset, internasionalisasi kampus, dan reformasi tata kelola.

"Employer reputation dan academic reputation kita sebenarnya sudah masuk 500 besar. Namun untuk sitasi dan publikasi memang kita belum," kata Suharnomo usai kegiatan peningkatan reputasi internasional Undip, Selasa (14/7/2026).

Ia menegaskan, upaya memperbaiki peringkat tidak boleh berhenti pada pengisian instrumen penilaian pemeringkatan internasional.

"Yang lebih penting adalah memperbaiki proses bisnis internal di Undip. Jadi bukan sekadar mengisi borang atau dokumen ranking," ujarnya.

Di bidang publikasi ilmiah, Undip mencatat sekitar 2.558 artikel terindeks Scopus dalam setahun. Jumlah tersebut dinilai sudah cukup baik dan mendekati capaian Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, Suharnomo menilai produktivitas dosen masih harus ditingkatkan agar berdampak pada kenaikan sitasi internasional.

Undip menargetkan menghasilkan 3.000 publikasi Scopus pada tahun depan. Untuk mencapai target tersebut, publikasi akan dimasukkan sebagai salah satu indikator kinerja dosen.

"Dengan sekitar 2.000 dosen, sebenarnya satu dosen sudah menghasilkan satu publikasi Scopus. Tahun depan kita berharap satu dosen bisa menghasilkan satu hingga dua publikasi," katanya.

Selain produktivitas riset, internasionalisasi kampus juga dinilai masih menjadi tantangan besar. Ironisnya, minat mahasiswa asing terhadap Undip cukup tinggi, namun daya tampung dan sistem pendukung belum mampu mengakomodasi permintaan tersebut.

Menurut Suharnomo, tahun ini hampir 3.000 mahasiswa asing mendaftar ke Undip. Namun, kampus baru mampu menerima sekitar 40 mahasiswa, sementara jumlah mahasiswa asing yang sedang menjalani berbagai program di Undip saat ini sekitar 200 orang.

Ia berharap jumlah tersebut dapat meningkat dua kali lipat pada tahun depan. Bahkan, setiap program studi ditargetkan memiliki sedikitnya lima mahasiswa asing. Fakultas Kedokteran juga tengah menjajaki pembukaan kelas internasional khusus mahasiswa asing, terutama dari Malaysia dan China.

Suharnomo menilai hambatan utama bukan hanya berada di tingkat universitas, melainkan juga regulasi pemerintah yang masih berbelit.

"Masih banyak ego sektoral. Mahasiswa asing yang ingin kuliah di Indonesia masih menghadapi birokrasi yang rumit, mulai dari administrasi hingga visa. Ini tidak bisa diselesaikan universitas sendiri. Dukcapil, Imigrasi, Kemendiktisaintek, dan perguruan tinggi harus duduk bersama," tegasnya.

Ia bahkan menyebut Indonesia berpotensi kehilangan peluang besar di sektor pendidikan internasional. Menurutnya, banyak calon mahasiswa asing yang gagal diterima di Malaysia berpotensi melanjutkan studi ke Indonesia, tetapi sistem nasional belum siap menangkap peluang tersebut.

"Padahal ini industri masa depan. Nilainya sangat besar jika dikelola dengan baik," ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Zaini Ujang dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menilai peningkatan peringkat dunia tidak bisa dicapai hanya dengan mengejar angka pemeringkatan. Menurutnya, perguruan tinggi harus membangun budaya akademik yang mendorong seluruh dosen produktif dalam penelitian dan publikasi.

"Kalau budaya akademiknya sudah kuat, produktivitas akan tumbuh secara alami. Jadi jangan hanya mengejar ranking, tetapi membangun kultur akademik yang berkelanjutan," katanya. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
UNDIP