RADARSEMARANG.ID - Pintu ruang daycare milik Pemerintah Kota Semarang baru saja terbuka. Seorang pria berpakaian batik berwarna hijau melangkah masuk. Belum sempat menyapa, belasan anak berusia 2 hingga 5 tahun langsung berseru kompak, “Bapak...!”
Mereka berlari kecil, lalu memeluk kaki Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, Dr. dr. Eko Krisnarto, Sp.KK. Satu per satu anak berebut menyalami dan mencium tangannya. Eko pun membalas dengan senyum lebar sambil mengusap kepala mereka bergantian.
Tak lama kemudian, ia duduk di kursi bersama anak-anak. Sebuah buku berjudul Misi untuk Raka dibuka. Dengan intonasi yang hangat, ia membacakan cerita. Belasan pasang mata kecil itu mendengarkan dengan serius. Sesekali mereka tertawa, ada pula yang datang ke arah Eko sambil bergelayut meminta dipangku, dan ada pula yang mengangkat tangan ketika diajak berinteraksi.
Pemandangan itu bukan sekadar aktivitas mendongeng. Bagi Eko, membaca buku, mengajak bermain, dan mendengarkan anak merupakan bagian dari responsive caregiving atau pengasuhan responsif yang kini terus digaungkan DP3A Kota Semarang.
Bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh pada Senin, 29 Juni 2026, dengan tema “Ayah Wajib Hadir”, semangat kehadiran ayah dalam pengasuhan terus digalakkan Pemerintah Kota Semarang. Terutama pola pengasuhan yang tidak digantikan layar gawai, tetapi dipenuhi sentuhan, tatapan mata, cerita, dan komunikasi.
Eko menilai, saat ini masih banyak keluarga yang memandang tugas ayah sebatas mencari nafkah. Padahal, anak membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan ekonomi. Semakin hilangnya kehadiran ayah dalam pengasuhan, atau fenomena fatherless, menjadi tantangan besar bagi keluarga saat ini.
“Salah satu persoalan yang kami identifikasi adalah fatherless. Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless yang tinggi. Di Semarang memang belum ada data pasti, tetapi kami melihat peran ayah dalam pengasuhan sangat penting,” katanya saat ditemui di Daycare Kota Semarang.
Menurut Eko, pola asuh positif hanya bisa terwujud ketika ayah dan ibu berjalan bersama. Anak memerlukan kasih sayang, perhatian, rasa aman, hingga kepercayaan diri yang dibangun dari kehadiran kedua orang tuanya, bukan hanya materi.
“Ayah tidak cukup hanya hadir secara ekonomi. Pemenuhan hak anak bukan hanya soal materi, tetapi juga kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan kepercayaan diri. Itu semua merupakan kebutuhan dasar anak,” ujarnya.
Karena itu, DP3A mendorong lahirnya pengasuhan setara, yakni ketika ayah dan ibu sama-sama terlibat dalam membesarkan anak. Menurut Eko, pengasuhan positif bukan berarti membagi tugas secara kaku, melainkan membangun kemitraan dalam keluarga sehingga anak tumbuh dengan perhatian dari kedua orang tuanya.
Ia mencontohkan kebiasaan sederhana yang kini mulai hilang, yakni makan bersama. Dulu, meski lauk sederhana, seluruh anggota keluarga berkumpul, saling bercerita, dan mendengarkan satu sama lain. Kini, meja makan justru sering dipenuhi gawai sehingga komunikasi perlahan menghilang.
Fenomena itulah yang menjadi perhatian serius DP3A Kota Semarang. Menurut Eko, gawai tidak boleh menjadi pengganti orang tua.
“Jangan sampai gadget menggantikan peran orang tua. Dampaknya bisa sangat besar bagi tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, anak yang terlalu lama menggunakan gawai berisiko mengalami hambatan perkembangan motorik, kemampuan sosial, hingga keterlambatan berbicara. Anak juga kehilangan kesempatan untuk berlari, bermain, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan.
Karena itu, DP3A rutin melakukan sosialisasi kepada keluarga mengenai penggunaan gawai secara bijak. Salah satu yang terus didorong adalah menyediakan waktu khusus selama satu jam tanpa gawai bagi seluruh anggota keluarga.
Saat waktu itu dimulai, telepon genggam milik ayah, ibu, maupun anak disimpan terlebih dahulu. Seluruh anggota keluarga diajak berbicara, bermain, atau sekadar makan bersama tanpa gangguan layar digital.
“Gadget itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ada manfaatnya, tetapi di sisi lain ada dampak negatif, terutama jika diberikan kepada anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Pria yang menjadi aparatur sipil negara (ASN) sejak 2006 itu memahami pentingnya membangun kedekatan dengan anak. Sebelum dipercaya memimpin DP3A Kota Semarang, ia pernah menjabat Direktur RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang. Di tengah kesibukannya sebagai birokrat, ia mengaku selalu menyempatkan quality time bersama keluarga.
Ia menceritakan, saat kedua anaknya masih kecil, belum ada daycare pemerintah seperti sekarang. Bersama istrinya yang juga bekerja, pengasuhan dibantu asisten rumah tangga. Namun, akhir pekan menjadi waktu khusus untuk mendampingi anak.
“Ya, biasanya dulu pasti ada quality time, setiap Sabtu dan Minggu bersama anak dan istri,” bebernya.
Eko bahkan memiliki cara tersendiri untuk membangun kedekatan dengan anak. Jika istrinya lebih banyak mendampingi pelajaran sekolah, ia memilih mengajak anak membaca buku hingga berdiskusi tentang berbagai hal.
Semangat pengasuhan tanpa gawai itulah yang kini coba ditularkan kepada masyarakat melalui berbagai program DP3A, termasuk daycare gratis milik Pemerintah Kota Semarang.
Saat ini, daycare tersebut menampung 12 anak dari keluarga pekerja pra-sejahtera. Seluruh layanan diberikan tanpa biaya. Anak-anak diasuh oleh pengasuh bersertifikat dengan rasio ideal, yakni satu pengasuh untuk tiga hingga lima anak.
Yang paling penting, di daycare tidak ada ruang untuk gawai. Eko menilai penggunaan gawai yang berlebihan membuat anak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Di daycare ini, anak-anak tidak diperbolehkan bermain handphone. Kami ingin mereka lebih banyak berinteraksi, bermain, membaca, dan bersosialisasi langsung dengan teman maupun pengasuh,” bebernya.
Sebaliknya, anak-anak diajak bermain balok, membaca buku, mendengarkan storytelling, bermain musik menggunakan keyboard, menyusun balok, hingga melatih kemampuan sosial bersama teman sebaya. Mereka juga diajarkan mengucapkan tiga kata ajaib, yakni “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”.
Menurut Eko, aktivitas tersebut jauh lebih efektif merangsang imajinasi, kemampuan bahasa, motorik, serta kecerdasan emosional anak dibandingkan menghabiskan waktu di depan layar.
Upaya itu juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai mitra pembangunan. Belum lama ini, DP3A bersama Tanoto Foundation menggelar kegiatan membaca buku Misi untuk Raka di daycare sebagai bagian dari stimulasi dini bagi anak.
Menurut Eko, kegiatan membaca bukan sekadar mengenalkan buku, tetapi juga mengajak anak kembali menikmati interaksi langsung bersama orang tua maupun pengasuh.
“Buku Misi untuk Raka ini bagus karena mengajak anak-anak berhenti sejenak dari handphone dan dunia digital. Di sisi lain, buku ini juga merangsang anak agar senang membaca sejak dini,” jelasnya.
Ia menilai kolaborasi dengan mitra pembangunan menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas pengasuhan keluarga.
“Kami terbuka bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Tanoto Foundation. Selama ini, Tanoto Foundation memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anak, termasuk pengasuhan dan stimulasi dini. Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi katalisator strategis dalam memperkuat program DP3A,” tegasnya.
Menurut Eko, tugas DP3A tidak berhenti pada penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Yang jauh lebih penting adalah membangun keluarga sejak awal melalui pola asuh yang sehat.
Karena itu, Harganas tahun ini dijadikan momentum untuk mengingatkan kembali bahwa investasi terbaik bagi anak bukanlah memberikan gawai atau fasilitas mahal, melainkan menghadirkan ayah dan ibu secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.
Kini, DP3A terus mengampanyekan pengasuhan responsif. Salah satunya dengan mengajak keluarga memiliki waktu tanpa gawai, makan bersama, saling mendengarkan cerita anak, hingga menghadirkan ayah dalam keseharian mereka. Bagi Eko, investasi terbesar sebuah keluarga bukanlah harta, melainkan kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.
“Kami berharap setiap keluarga memiliki pola asuh yang positif. Anak adalah tanggung jawab ayah dan ibu, bukan hanya salah satunya. Dengan kehadiran keduanya, anak tidak kehilangan figur ayah dalam proses tumbuh kembangnya,” pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi