RADARSEMARANG.ID, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang tergabung Teater Shankara baru-baru ini sukses menggelar pertunjukan teater di SMA Negeri 1 Mranggen, Demak. Dalam pentas kali ini, mereka membawakan adaptasi novel mahakarya Eka Kurniawan yang bertajuk “Cantik Itu Luka”.
Apresiasi seni yang berlangsung di aula utama sekolah ini dihadiri oleh ratusan siswa, guru, Kepala Sekolah serta perwakilan dosen dari UPGRIS.
Kolaborasi ini digelar tidak hanya sebagai pemenuhan tugas akhir mata kuliah pragelar teater, tetapi juga sebagai upaya mengenalkan sastra kontemporer Indonesia ke lingkungan sekolah formal.
Teater Shankara membawakan ”Cantik Itu Luka” ke atas panggung teater pelajar tentu bukan perkara yang mudah. Karya Eka Kurniawan dikenal memiliki narasi yang kompleks, berani, dan sarat akan satire sejarah.
Namun, mahasiswa PBSI UPGRIS berhasil mengemasnya menjadi pertunjukan yang tak hanya memukau, tapi juga mudah dicerna oleh para siswa SMA Negeri 1 Mranggen.
Melalui tokoh ikonik Dewi Ayu dan anak-anaknya, para aktor mahasiswa berhasil menghidupkan kembali potret kelam masa kolonialisme, pendudukan Jepang, hingga pergolakan pasca-kemerdekaan Indonesia.
Penonton diajak menyelami bagaimana kecantikan dalam cerita tersebut justru menjadi sebuah kutukan dan tragedi akibat keserakahan manusia.
"Kami ingin memberikan suguhan yang berbeda untuk adik-adik di SMAN 1 Mranggen. Cantik Itu Luka bukan sekadar cerita drama biasa, melainkan refleksi sejarah dan kritik sosial yang kuat. Kami berharap pementasan ini memicu minat baca mereka terhadap karya-karya sastra besar Indonesia," ujar Nur Hidayah sekaligus Sutradara.
Pihak SMA Negeri 1 Mranggen menyambut baik dan memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kegiatan ini.
Puji Ningrum, S.Pd., M.Pd, Kepala SMAN 1 Mranggen mengungkapkan bahwa kehadiran pentas drama dari mahasiswa UPGRIS memberikan warna baru dalam pembelajaran seni dan sastra di sekolah.
”Menjadi media pembelajaran apresiasi sastra secara langsung yang interaktif dan menghibur. Mempererat hubungan kemitraan dengan perguruan tinggi, khususnya UPGRIS, dalam pengembangan literasi dan seni budaya,” imbuh Puji.
"Luar biasa sekali akting kakak-kakak Teater Shankara dari UPGRIS. Selama ini kami hanya tahu judul bukunya atau sekadar membaca sinopsis di internet. Begitu melihat visualisasinya dalam bentuk drama teater, ceritanya jadi jauh lebih hidup dan emosional," ungkap Najmi ketua OSIS SMA N 1 Mranggen yang menonton acara tersebut.
*Dr Ahmad Ripai MPd* dosen pengampu mata kuliah drama PBSI UPGRIS menyatakan kebanggaannya atas kerja keras para mahasiswa. Pertunjukan keliling ke sekolah-sekolah seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut. Selain mengasah mental dan skill keaktoran mahasiswa di depan publik yang nyata, kegiatan ini menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa UPGRIS aktif bergerak sebagai agen penggerak literasi dan seni di masyarakat.
Acara pementasan ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara pemain drama, sutradara, dan para siswa mengenai proses kreatif pengalihwahanaan novel ke dalam bentuk naskah teater, diikuti dengan foto bersama. (tri)
Editor : Tasropi