RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Mimpi seorang siswi asal Kudus untuk bersekolah di SMA negeri kandas hanya karena persoalan verifikasi yang tak tuntas.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam ke Semarang demi mencari solusi, keluarga calon murid baru (CMB) itu harus menerima kenyataan pahit bahwa kesempatan mendaftar ke sekolah negeri telah tertutup.
Kisah tersebut menjadi salah satu potret persoalan yang masih muncul di hari-hari terakhir pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK Negeri Jawa Tengah. Kamis (18/6), suasana Posko SPMB Disdik Jateng memang mulai lengang. Namun, sejumlah warga masih berdatangan dengan berbagai keluhan yang belum terselesaikan.
Di antara mereka terdapat seorang siswi berusia 14 tahun asal Kabupaten Kudus yang datang bersama kakaknya, Ahdan Husain.
Keluarga berharap masih ada jalan keluar agar sang adik dapat melanjutkan proses pendaftaran ke sekolah negeri yang diincarnya, yakni SMAN 1 Gebog Kudus.
Menurut Husain, seluruh tahapan pendaftaran sebenarnya telah dijalani. Masalah muncul ketika titik koordinat rumah yang tercantum di sistem dinyatakan tidak sesuai sehingga harus diperbaiki. Perubahan koordinat berhasil dilakukan dan keluarga bahkan telah menerima kode verifikasi.
Namun tanpa disadari, setelah perubahan data tersebut akun calon peserta didik ternyata belum diverifikasi ulang. Akibatnya, akun tidak bisa digunakan untuk melanjutkan proses pendaftaran.
"Waktu registrasi ada pembatalan untuk titik koordinat. Setelah diperbaiki ternyata belum diverifikasi ulang," ujar Husain saat ditemui di Posko SPMB Disdik Jateng.
Keluarga mengaku sempat menanyakan status akun kepada operator sekolah dan mendapat jawaban bahwa proses verifikasi telah selesai. Belakangan mereka baru mengetahui akun masih belum aktif sehingga akses pendaftaran tidak bisa dilakukan.
Saat berupaya menyelesaikan masalah tersebut, kendala lain muncul. Sistem SPMB sempat mengalami gangguan karena tingginya akses pengguna sehingga operator tidak dapat masuk ke sistem untuk melakukan verifikasi ulang.
Berbagai upaya kemudian ditempuh, mulai dari mendatangi sekolah, Korwil, Cabang Dinas Pendidikan, hingga akhirnya datang langsung ke Kantor Disdik Jateng di Semarang. Namun hingga batas akhir pendaftaran, solusi yang diharapkan tak kunjung diperoleh.
"Saya dari Kudus jam 09.00 langsung ke sini. Tapi akhirnya disampaikan sudah tidak bisa lagi," katanya.
Akibat persoalan tersebut, peluang sang adik untuk mendaftar ke SMA negeri otomatis tertutup. Kini keluarga mulai mempertimbangkan sekolah swasta sebagai alternatif pendidikan.
Baca Juga: Niat Baik Berujung Petaka! Sena Difitnah Celakai Papa Novan di Terikat Janji Malam Ini Episode 76
Di sisi lain, Ketua SPMB 2026 Disdik Jateng Sunarto mengungkapkan selama proses penerimaan murid baru terdapat 11.381 aduan dan konsultasi yang masuk melalui berbagai kanal layanan.
Selain persoalan teknis sistem, keluhan terbanyak juga terkait penggunaan nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang tahun ini menjadi salah satu komponen penilaian jalur prestasi.
Sementara itu, sejumlah posko SPMB di sekolah mulai sepi menjelang berakhirnya masa pendaftaran.
Ketua Pelaksana SPMB SMKN 10 Semarang Helmi Yuhdana mengatakan warga yang datang saat ini umumnya hanya meminta bantuan memastikan proses pendaftaran atau berkonsultasi terkait kendala yang dihadapi. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi