Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Belajar Numerasi Lewat Lingkungan Sekitar, Tri Sugiyono Kenalkan EVI Map di Kombel Tugu Muda

Khafifah Arini Putri • Jumat, 19 Juni 2026 | 05:38 WIB
Fasda Tanoto Foundation Tri Sugiyono sedang melakukan pembelajaran menggunakan Metode EVI Map. (Dok Tanoto Foundation)
Fasda Tanoto Foundation Tri Sugiyono sedang melakukan pembelajaran menggunakan Metode EVI Map. (Dok Tanoto Foundation)

 

RADARSEMARANG.ID - Belajar numerasi kini tak melulu soal menghafal rumus dan mengerjakan soal di dalam kelas. Kepala SDN Pekunden Kota Semarang, Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd., punya cara jitu yang bikin anak-anak semangat belajar sambil menjelajah kampung halaman.

Pria yang akrab disapa Tri ini menyampaikan praktik baiknya dalam Webinar Kombel Tugu Muda seri ke-125 secara daring, baru-baru ini. Melalui kesempatan itu, ia memperkenalkan buku Numerasi Berbasis Ethnoscience Village Map (Evi Map) untuk memahami konsep numerasi.

Menurut Tri rendahnya kemampuan numerasi siswa tidak selalu disebabkan sulitnya materi matematika. Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran yang belum banyak menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan nyata yang ditemui siswa setiap hari.

Karena itulah EVI Map hadir, inovasi pembelajaran numerasi yang memadukan matematika dengan kearifan lokal di lingkungan sekitar sekolah. Program tersebut dikembangkan bersama Tim Fasper Berkelas Tanoto Foundation, dan Dinas Pendidikan Kota Semarang selama 2024-2025.

Tri yang juga sebagai Fasda Tanoto Foundation ini mengungkapkan, hasil analisis tim menunjukkan kemampuan numerasi siswa masih tertinggal dibandingkan literasi. Selain itu, banyak siswa kesulitan menerapkan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari karena pembelajaran masih berpusat pada buku dan latihan soal.

“Murid kesulitan memecahkan masalah numerasi dalam kehidupan sekitar. Melalui observasi dan juga kami wawancara, ternyata pembelajaran itu masih konvensional, masih di dalam kelas, mereka terus diberikan soal-soal dan juga untuk menghafal sehingga untuk bernalar kritisnya belum begitu berkembang,” ujarnya.

Karena itu, EVI Map dirancang untuk membawa siswa bisa keluar kelas dan belajar langsung di lingkungan sekitar. Buku tersebut berisi peta lokasi, bacaan literasi tentang sejarah dan budaya setempat, serta lembar kerja yang memuat persoalan numerasi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Menurut Tri, konsep utama EVI Map adalah memanfaatkan potensi kearifan lokal di setiap kelurahan sebagai sumber belajar. Siswa tidak hanya mempelajari matematika, tetapi juga mengenal sejarah daerah, bangunan bersejarah, tempat ibadah, kampung tematik hingga budaya masyarakat setempat.

Misalnya di Kelurahan Tambakrejo, siswa diajak mempelajari Masjid Terboyo dan makam Sunan Terboyo. Sementara di Pendrikan Lor, siswa belajar melalui Kampung Fotografi dan Mural Wayang. Lokasi-lokasi tersebut kemudian dijadikan sumber persoalan numerasi yang harus dipecahkan peserta didik.

"Buku EVI Map ini merupakan buku pembelajaran numerasi berbasis pemecahan masalah kontekstual dengan memanfaatkan objek nyata di lingkungan sekitar, berkaitan dengan kearifan lokal di kelurahan sekitar murid di sekitar sekolah,” jelasnya.

Penerapan pembelajaran EVI Map ini tidak dimulai dengan rumus. Guru terlebih dahulu mengajak siswa berdiskusi di kelas mengenai materi yang akan dipelajari, seperti geometri, luas bangun datar, atau pengukuran.

Setelah memahami konsep dasar, siswa dibagi ke dalam kelompok dan dibekali buku EVI Map beserta peta lokasi. Mereka kemudian mengikuti rute yang telah ditentukan untuk menyelesaikan berbagai tantangan numerasi di setiap titik.

Tri mengibaratkan kegiatan tersebut seperti berburu harta karun. Siswa harus mencari lokasi tertentu, mengamati objek yang ada, lalu menyelesaikan persoalan matematika yang berkaitan dengan objek tersebut.

Misalnya saat berada di selasar masjid, siswa diminta menghitung luas lantai, jumlah ubin yang diperlukan, hingga biaya yang harus dikeluarkan jika lantai akan direnovasi.

“Kalau di konvensional panjang kali lebar, gitu saja. Tapi kalau dengan buku EVI Map ini, mereka nantinya akan keluar kelas menghitung secara langsung. Jadi tidak hanya satu penyelesaian, tapi ada banyak sekali penyelesaian-penyelesaian yang bisa digali oleh peserta didik,” katanya.

Di lokasi lain, siswa dapat menghitung kebutuhan cat untuk mengecat dinding mural, memperkirakan luas area tertentu, atau menganalisis bentuk-bentuk geometri yang terdapat pada bangunan bersejarah.

"Salah satu praktik baik yang dilakukan ialah Bu Windy (Guru SDN Pedirkan Lor 01), ini luar biasa menerapkan numerasi di Mural Wayang dan Kampung Fotografi," bebernya.

Menurut Tri, pengalaman tersebut membuat siswa benar-benar memahami bagaimana matematika digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menghafal rumus di buku pelajaran.

Selain meningkatkan numerasi, EVI Map juga dirancang untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan dan budaya lokal.

Saat mengunjungi lokasi pembelajaran, siswa diajak berdialog dengan masyarakat, pengurus kampung, tokoh budaya, hingga juru kunci situs sejarah. Interaksi tersebut membantu mereka memahami nilai-nilai budaya yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

"Dengan EVI Map anak-anak aktif mengeksplorasi karena keluar kelas, mereka keluar ke sekolah, ke masyarakat, terus melihat gedung, melihat budaya sehingga bisa mengeksplorasi semakin banyak," ungkapnya.

Program EVI Map melibatkan 30 guru dari Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Selatan, Gayamsari, dan Gajahmungkur. Sebelum menyusun buku, para guru mendapat pelatihan khusus mengenai numerasi kontekstual dan penggalian kearifan lokal.

Mereka ditugaskan untuk masing-masing membuat satu buku berdasarkan potensi lingkungan sekitar. Hasilnya, lahir 30 buku yang mendokumentasikan berbagai kearifan lokal Kota Semarang sekaligus menjadi sumber belajar numerasi.

Tak hanya digunakan dalam pembelajaran, buku-buku tersebut juga dinilai berpotensi menjadi media promosi wisata edukasi karena memuat sejarah dan informasi berbagai lokasi penting di Kota Semarang.

Berdasarkan hasil evaluasi program, rata-rata kemampuan numerasi siswa meningkat hingga 41,4 persen setelah mengikuti pembelajaran menggunakan EVI Map. Selain itu, guru juga mengalami peningkatan pemahaman dalam merancang pembelajaran numerasi yang kontekstual.

"Kita targetkan 20 persen bisa mencapai rata-rata 41,4 persen. Ini juga luar biasa dengan adanya ini (EVI Map) untuk anak-anak juga secara nyata meningkat karena memahami secara nyata permasalahan yang ada di lingkungan sekitar," ujarnya.

Koordinator Kombel Tugu Muda, Galih Suci Pratama, mengatakan praktik baik yang dibagikan para nrasumber, harapannya menjadi referensi penting bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna.

“Praktik-praktik yang dibagikan itu bagus untuk menjadi salah satu referensi ketika guru ataupun kepala sekolah mempraktikkan pola-pola untuk meningkatkan literasi, numerasi ataupun pemahaman coding,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Miftahudin, berharap komunitas belajar seperti Kombel Tugu Muda terus dimanfaatkan guru sebagai sarana pengembangan kompetensi.

“Kompel Tugu Muda ini hadir sebagai salah satu sumber belajar yang dapat digunakan untuk menguatkan hari belajar guru di semua satuan pendidikan,” katanya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#EVI Map #numerasi #Kearifan Lokal #fasilitator daerah #tanoto foundation