Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ayu Bagikan Praktik Baik Unplugged Coding, Perkuat Literasi dan Numerasi Tanpa Bergantung Teknologi di Kombel Tugu Muda

Khafifah Arini Putri • Jumat, 19 Juni 2026 | 05:37 WIB
Penerapan pembelajaran unplugged coding pada peserta didik. (Dok Tanoto Foundation)
Penerapan pembelajaran unplugged coding pada peserta didik. (Dok Tanoto Foundation)

 

RADARSEMARANG.ID - Penguatan literasi dan numerasi sisiwa tak harus dilakukan dengan perangkat digital maupun komputer. Melalui pendekatan unplugged coding, siswa juga dapat belajar berpikir logis, memecahkan masalah, mengenali pola, hingga menyampaikan alasan secara runtut. Tentunya dengan menggunakan aktivitas sederhana yang dekat dengan keseharian mereka.

Praktik baik itu dibagikan Guru SDN Wonotingal, Ayu Kusumadiyastuti, S.Pd., dalam Webinar Kombel Tugu Muda Seri ke-124 yang digelar pada 25 Mei 2026 lalu. Ayu yang juga merupakan Anggota Tim Cyber AI Kota Semarang sekaligus Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation ini menyampaikan materi bertajuk Lembar Kerja Unplugged Coding untuk Penguatan Literasi dan Numerasi di Sekolah.

Webinar yang merupakan hasil kolaborasi Kombel Tugu Muda dan Dinas Pendidikan Kota Semarang tersebut diikuti lebih dari 400 guru dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi praktik baik yang telah diterapkan guru di lapangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pada kesempatan itu, Ayu menjelaskan pembelajaran coding saat ini mulai banyak diperkenalkan di sekolah. Namun, penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan karena tidak semua sekolah memiliki akses internet, perangkat komputer, maupun fasilitas teknologi yang memadai.

Karena itu, Tim Cyber AI Kota Semarang mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis unplugged coding yang dapat digunakan tanpa komputer. Metode tersebut menggabungkan aktivitas literasi dengan konsep berpikir komputasional sehingga siswa tetap dapat belajar coding melalui permainan, tantangan, membaca, dan diskusi kelompok.

“Karena terbatas ya, walaupun di Kota Semarang sudah maju tapi tidak semua daerah atau sekolah itu memiliki fasilitas yang sama. Oleh sebab itu kami dari tim Cyber AI mengangkat tentang LKPD yang berbasis kemampuan logika dan juga diintegrasikan dengan literasi,” jelas Ayu.

Menurutnya, inovasi itu lahir dari berbagai persoalan yang ditemui guru di kelas. Banyak siswa mampu membaca teks, tetapi belum sepenuhnya memahami isi bacaan. Sebagian siswa juga dapat menemukan jawaban dari sebuah soal, namun kesulitan menjelaskan alasan atau proses berpikir yang digunakan untuk mendapatkan jawaban tersebut.

Selain itu, data rapor pendidikan menunjukkan masih adanya tantangan dalam peningkatan literasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian para pendidik untuk menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih efektif.

"Tentu sebagai guru kita resah ada penurunan di literasi, nah salah satunya kita mencari cara, tim cyber AI ini menemukan cara bagaimana melatih anak berpikir yang juga tidak terbatas teknologinya," bebernya.

Melalui LKPD unplugged coding, siswa dilatih memahami instruksi, mengenali pola, menganalisis informasi, memecahkan masalah, hingga menyampaikan pendapat secara logis. Aktivitas tersebut sekaligus mengembangkan empat pilar berpikir komputasional, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.

Ayu menjelaskan, metode tersebut dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran seperti Matematika, IPA, IPS, PJOK, Bahasa Indonesia hingga Bahasa Jawa. Guru hanya perlu menyesuaikan tantangan dan aktivitas yang dirancang dalam LKPD dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari siswa.

"Jadi kita melatih anak-anak melalui permainanam tantangan, dan juga aktivitas dan tanpa komputer untuk anak-anaknya," ungkapnya.

Ia menjelaskan, dalam LKPD tersebut siswa tidak hanya membaca teks, tetapi juga belajar memahami instruksi, mengenali pola, memecahkan masalah, menyampaikan ide, hingga menjelaskan alasan secara logis. Konsep tersebut selaras dengan empat pilar berpikir komputasional, yakni dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.

Tim Cyber AI Kota Semarang sendiri juga telah melakukan pelatihan dan pendampingan kepada para guru untuk menyusun LKPD unplugged coding. Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan lembar kerja, proses telaah, praktik di kelas, hingga refleksi hasil pembelajaran.

Dari program tersebut, tercatat 100 persen peserta mengikuti pelatihan secara penuh. Sebanyak 95 persen guru berhasil menghasilkan LKPD unplugged coding yang terintegrasi dengan literasi dengan baik, sedangkan 61 persen guru telah mendokumentasikan praktik baik mereka dalam bentuk video pembelajaran yang bisa diadopsi guru lain. Selain itu, kompetensi guru dalam menyusun LKPD meningkat hingga 98 persen berdasarkan hasil pre-test dan post-test.

Ayu menyebut dampak yang paling terlihat terjadi pada siswa. Mereka menjadi lebih aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat, serta mampu menjelaskan alasan dari jawaban yang diberikan. Siswa juga lebih antusias mengikuti pembelajaran karena aktivitas dikemas dalam bentuk permainan dan tantangan yang menarik.

“Yang semulanya murid itu pasif sekarang anak-anak lebih aktif dalam menyampaikan coding. Anak-anak itu ketika mempraktikkan atau mengikuti kegiatan pembelajaran dengan angka coding ini mereka tidak takut untuk menyampaikan idenya bagaimana sih harus menyelesaikan masalah,” katanya.

Sementara Koordinator Kombel Tugu Muda, Galih Suci Pratama, mengatakan webinar tersebut merupakan bagian dari program berbagi praktik baik yang rutin diselenggarakan setiap minggu. Setiap tema dipilih berdasarkan kebutuhan dan masukan para guru, kemudian dibahas secara bertahap dalam beberapa sesi.

Pada tema kelima ini, Kombel Tugu Muda berkolaborasi dengan Tanoto Foundation dengan menghadirkan para Fasilitator Daerah untuk berbagi pengalaman dan inovasi pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah masing-masing.

“Praktik-praktik yang dibagikan itu bagus ya tentang literasi, tentang numerasi, tentang coding itu bagus untuk menjadi salah satu referensi ketika guru ataupun kepala sekolah mempraktikkan tentang pola-pola untuk meningkatkan literasi numerasi ataupun pemahaman coding,” ujar Galih.

Menurut Galih, Kombel Tugu Muda telah berkembang menjadi ruang belajar kolaboratif yang menjangkau ribuan guru dari berbagai daerah. Melalui forum tersebut, guru dapat saling belajar, bertukar pengalaman, serta memperoleh referensi pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Di sisi lain, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Kota Semarang, Miftahudin, menegaskan perencanaan pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Salah satu bentuk perencanaan tersebut adalah penyusunan LKPD yang mampu mengarahkan aktivitas belajar siswa secara sistematis.

Ia juga menilai digitalisasi sudah menjadi kebutuhan bagi guru di Kota Semarang. Namun, karena kondisi fasilitas sekolah yang beragam, diperlukan alternatif pembelajaran yang tetap mampu mengembangkan keterampilan abad ke-21 tanpa bergantung pada teknologi.

"Digitalisasi kini menjadi kebutuhan bagi guru-guru di Kota Semarang agar dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Namun, karena belum semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai, penggunaan media alternatif tetap diperlukan. Salah satunya adalah lembar kerja yang saat ini sedang dikembangkan oleh kelompok guru Cyber AI,” ungkapnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#kombel tugu muda #unplugged coding #KOTA SEMARANG #tanoto foundation