RADARSEMARANG.ID, Semarang - Bunda PAUD Jawa Tengah, Nawal Nur Arafah Yasin, mendorong pembelajaran coding dan robotik menjadi bagian dari penguatan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Jawa Tengah. Hal itu disampaikan saat kegiatan pelatihan coding dan robotik bagi guru PAUD yang diikuti lebih dari 400 peserta dari 30 kabupaten/kota.
Menurut Nawal, pembelajaran coding dan robotik tidak hanya melatih kemampuan berpikir logis dan sistematis anak, tetapi juga membangun karakter seperti kerja sama, kolaborasi, serta kemampuan berkomunikasi secara kreatif.
Baca Juga: Disdik Jateng Segera Data Anak Putus Sekolah dan Blank Spot Pendidikan di Lereng Sumbing-Merapi
“Untuk komunikasi yang lebih sistematis, komunikasi yang lebih kreatif, dan anak-anak juga bisa belajar kerja sama. Karena pola permainan robotik dan coding ini membutuhkan kebersamaan tim. Di situlah anak-anak dilatih,” ujar Nawal di Gedung Wisma Perdamaian, Selasa (3/6/2026).
Ia mengaku terkejut dengan tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan perdana tersebut. Kuota yang disediakan sebanyak 400 peserta bahkan tidak mampu menampung seluruh pendaftar.
“Animonya sangat luar biasa. Saya memohon maaf kepada para pendaftar yang belum bisa terakomodir hari ini. Harapannya kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan kembali pada kesempatan berikutnya,” kata istri Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maemon ini.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak mengampanyekan tiga nilai utama, yakni kerja sama tanpa ketergantungan pada telepon genggam, anti-perundungan, dan bijak digital.
Nawal berharap setelah para kepala sekolah dan guru mendapatkan pelatihan, materi coding dan robotik dapat diimplementasikan di satuan pendidikan masing-masing sebagai bagian dari pembelajaran sehari-hari.
“Kita hidup di era teknologi dan digital. Anak-anak harus adaptif dan mampu menjadikan teknologi sebagai sesuatu yang positif. Karena itu, harapannya materi ini bisa menjadi bagian dari pembelajaran di PAUD,” ujarnya.
Ia menambahkan, Jawa Tengah memiliki sekitar 27 ribu satuan PAUD dan menjadi salah satu daerah dengan jumlah lembaga PAUD terbesar di Indonesia. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen mendukung program wajib belajar 13 tahun, termasuk melalui penguatan pendidikan anak usia dini.
Selain itu, Pemprov Jateng juga tengah mengembangkan program PAUD Emas melalui sejumlah proyek percontohan serta penguatan layanan pendidikan yang terintegrasi dengan posyandu.
Sementara itu, Direktur Rumah Edukasi, Mulia Anton, menjelaskan bahwa pembelajaran coding dan robotik pada anak usia dini bertujuan menanamkan dasar-dasar berpikir logis, sistematis, dan kemampuan menyelesaikan masalah sederhana.
“Semakin dini belajar coding sebenarnya semakin baik untuk melatih keterampilan berpikir logis. Yang diajarkan adalah pola berpikir, logika sederhana, dan penyelesaian masalah sederhana melalui permainan,” jelasnya.
Menurut Anton, metode pembelajaran untuk anak usia dini harus dikemas melalui aktivitas bermain sehingga anak merasa tertarik dan tidak terbebani.
“Belajar melalui bermain. Mereka sebenarnya sedang bermain, tetapi pada saat yang sama juga belajar berpikir logis dan sistematis,” katanya.
Selain kemampuan kognitif, pembelajaran robotik juga dinilai mampu membangun karakter anak seperti ketekunan, ketelitian, kemampuan berkolaborasi, dan menghargai teman.
Anton menyebut antusiasme peserta sangat tinggi. Dari kuota 400 orang, jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 450 orang.
“Selama pelatihan mereka terlibat langsung karena semuanya berbasis praktik. Saya lihat sampai selesai tidak ada yang beranjak karena mereka mengalami langsung proses pembelajarannya,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Salfitri dari TK Pertiwi Kota Magelang, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru dari pelatihan tersebut.
“Di Kota Magelang belum pernah ada pelatihan seperti ini. Untuk alat robotik dan coding yang dikenalkan hari ini benar-benar baru bagi kami,” katanya.
Meski menilai manfaat pembelajaran robotik sangat baik untuk anak-anak, ia mengaku harga perangkat yang mencapai jutaan rupiah masih menjadi tantangan bagi banyak PAUD swasta.
“Kalau untuk manfaatnya sangat bagus karena anak bisa belajar teknologi dengan cara yang menyenangkan dan sederhana. Hanya saja untuk sekolah swasta seperti kami, harga alatnya masih cukup berat,” ujarnya.
Salfitri berharap ke depan ada pelatihan yang mengajarkan guru membuat perangkat robotik sederhana dengan biaya lebih terjangkau sehingga dapat diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah.
“Kalau guru bisa diajari membuat robot sederhana sendiri, mungkin akan lebih mudah diterapkan. Yang penting anak-anak bisa mengenal teknologi sejak dini, belajar bekerja sama, dan berkomunikasi dengan teman-temannya,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan Atiek dari sekolah inklusif "Fun and Play" Semarang yang mengimplementasikan pelatihan coding dan robotik. Sekolah tersebut telah menerapkan konsep coding tanpa komputer, yang menarik bagi siswa-siswa berkebutuhan khusus. Ia menyebutkan bahwa ada tantangan dalam memilih media pembelajaran, terutama terkait ukuran yang sesuai untuk anak-anak, agar tidak berisiko tertelan.
"Saya berharap ada modifikasi pada media agar sesuai dengan berbagai kelompok usia, mulai dari 2 hingga 5 tahun," tambahnya.
Ia juga menyampaikan pentingnya melihat katalog produk yang relevan untuk mendukung pembelajaran. Diskusi ini menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih inklusif dan aman bagi siswa. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi