RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tak banyak yang menyangka siswa asal Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang ini akan menjadi yang terbaik di Indonesia.
Dengan nilai sempurna 100 untuk Matematika dan 100 untuk Bahasa Indonesia pada Tes Kompetensi Akademik (TKA), M. Arkananta Abdusalam mencatatkan namanya sebagai peraih nilai tertinggi nasional.
Namun bagi Arkananta, prestasi itu bukan semata-mata hasil kecerdasan. Ada disiplin belajar, dukungan keluarga, dan ikhtiar spiritual yang terus dijaga selama masa persiapan.
Baca Juga: Sempurna di Dua Mata Pelajaran, Kiandra Harumkan Salatiga dalam TKA 2026
"Belajar dengan giat dan beribadah itu yang utama," ujar Arkananta di temui di acara Akhirussanah SMP HJ Isriati Baiturrahman, Minggu (31/5/2026).
Selama enam bulan terakhir, siswa kelas VI SD Hj. Isriati Baiturrahman 1 tersebut mempersiapkan diri menghadapi TKA.
Ia mengakui tantangan terbesar justru datang dari soal-soal yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dan belum pernah ditemui dalam materi pelajaran sehari-hari.
Meski demikian, Arkananta tidak menyerah. Di rumah, kedua orang tuanya selalu mendampingi dan menyediakan berbagai kebutuhan belajar, mulai dari buku hingga bimbingan belajar.
"Dukungan ayah dan ibu sangat besar. Mereka membantu saya memahami pelajaran dan memfasilitasi kebutuhan belajar ya seperti les bimbingan belajar," katanya.
Di tengah kesibukan belajar, Arkananta juga konsisten menjalankan puasa Senin dan Kamis. Kebiasaan itu menjadi bagian dari ikhtiar yang diyakininya membantu meraih hasil terbaik.
"Ya rutin puasa sunah. Saya tidak menyangka bisa menjadi yang terbaik se-Indonesia," ungkapnya dengan rendah hati.
Mengingat nilai TKA ini menjadi salah satu syarat pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026/2027, prestasi tersebut kini menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Arkananta berencana mendaftar melalui jalur prestasi ke SMP Negeri 2 Semarang. Sementara cita-cita besarnya adalah menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia melalui Akademi Kepolisian (Akpol).
Di sekolah, proses pembelajaran yang dijalaninya juga berbeda. Metode belajar lebih menekankan eksplorasi dan praktik sehingga siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi memahami penerapannya secara langsung.
Kepala Sekolah SD Hj. Isriati Baiturrahman 1, Dr. Sri Lestari, mengaku bangga atas pencapaian anak didiknya yang berhasil mengharumkan nama sekolah hingga tingkat nasional.
"Atas nama sekolah, kami sangat bangga. Tidak hanya menjadi yang terbaik di tingkat kota atau provinsi, tetapi terbaik di level nasional dengan nilai sempurna pada kedua mata pelajaran," katanya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama yang dipersiapkan sejak awal. Ketika pemerintah menetapkan TKA sebagai instrumen evaluasi pendidikan, sekolah segera melakukan berbagai langkah strategis. Mulai dari sosialisasi kepada guru, penyelenggaraan try out internal, hingga pemantauan perkembangan siswa secara berkala bersama orang tua.
"Kami terus membangun sinergi dengan orang tua. Setiap perkembangan anak dilaporkan sehingga ada kerja sama yang baik antara guru dan keluarga," ujarnya.
Selain aspek akademik, sekolah juga memberikan perhatian pada pembinaan spiritual siswa. Doa dan pembiasaan ibadah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan.
"Bahkan Arkananta yang menjadi juara nasional ini tidak pernah putus menjalankan puasa Senin dan Kamis. Itu menjadi salah satu ikhtiar untuk menjadi yang terbaik," tambahnya.
Apresiasi juga hadir dari Ketua Umum Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji.
Ia menilai prestasi Arkananta tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sekolah, keluarga, yayasan, dan siswa mampu menghasilkan capaian luar biasa.
"Kita harus bersyukur. Prestasi ini bukan lagi tingkat kecamatan, kabupaten, atau provinsi, tetapi sudah tingkat nasional," ujar, Darodji yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah ini.
Darodji menegaskan keberhasilan Arkananta sekaligus menjadi pengingat pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Menurutnya, sekolah dan guru tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga di rumah.
"Perhatian orang tua sangat dibutuhkan. Anak tidak bisa bergerak sendiri. Sekolah dan keluarga harus berjalan bersama-sama," katanya. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi