Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Siswa dari 16 Sekolah Dasar di Kota Semarang Ramaikan Festival Dolanan Anak

Ida Fadilah • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:18 WIB

Siswa dari 16 Sekolah Dasar di Kota Semarang mengikuti Festival Dolanan Anak di Ungaran Negeri Semarang, Selasa (19/5/2026).
Siswa dari 16 Sekolah Dasar di Kota Semarang mengikuti Festival Dolanan Anak di Ungaran Negeri Semarang, Selasa (19/5/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG) 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kampung Budaya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) dipenuhi anak-anak.

Mereka sibuk bermain dengan aneka macam dolanan tradisional.

Ada egrang, dakon, lompat tali, engklek, bakiak, dan lainnya.

Lebih dari itu, mereka juga lomba permainan tradisional seperti ketapel dan folklor.

Selain aneka ragam tampilan tradisional, mereka juga mengenakan baju adat Jawa Tengah kebaya maupun lurik.

Di sini mereka juga berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu.

Baca Juga: Sejak Desember, Sungai Plumbon Jebol 18 Kali Mendesak Dilakukan Normalisasi

Kasubdit Konservasi UNNES sekaligus Ketua Panitia Festival Dolanan Anak 2026, Prof. Dr. Nana Kariada Tri Martuti menyatakan festival dan lomba dolanan anak menjadi kegiatan rutin tahunan.

Festival tersebut digelar sebagai bagian dari upaya kampus mengenalkan kembali permainan tradisional dan budaya lokal kepada generasi muda.

Sebanyak 16 sekolah dasar di Kota Semarang memeriahkan festival ini. Selain itu, juga digelar folklor yang melibatkan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

Ia menyebut giat tersebut selaras dengan visi konservasi Unnes, khususnya pada pilar seni dan budaya.

“Melalui kegiatan ini kami ingin anak-anak kembali mengenal seni budaya, permainan tradisional, sekaligus belajar nilai karakter seperti sportivitas, kreativitas, dan gotong royong,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Ia menerangkan, festival ini juga menjadi ruang interaksi sosial bagi anak-anak di tengah perkembangan era digital.

Baca Juga: Bus Study Tour SMPN 2 Brangsong Kendal Ringsek di Tol Cipali

Penyelenggara berharap peserta tidak hanya bergantung pada gawai, tetapi lebih aktif berkomunikasi dan bekerja sama dengan teman sebaya melalui permainan tradisional.

Selain permainan tradisional, penggunaan bahasa Jawa turut menjadi perhatian dalam festival tersebut.

Selama kegiatan berlangsung, peserta didorong menggunakan bahasa Jawa, termasuk bahasa ngoko, sebagai bagian dari penguatan budaya lokal.

“Bahasa Jawa ini kan bahasa ibu di Semarang dan Jawa Tengah, jadi anak-anak perlu dikenalkan kembali. Selama di sini tidak ada yang memakai Bahasa Indonesia, semuanya Bahasa Jawa,” katanya.

Adapun penyelenggaraan Festival Dolanan Anak ini berbeda dari tahun sebelumnya yang lebih banyak menampilkan olahraga tradisional.

Sedangkan tahun ini konsep festival diperluas ke pertunjukan budaya dan folklor. Peserta diberikan waktu maksimal 15 menit untuk menampilkan kreativitas masing-masing, mulai dari dolanan tradisional, tembang, hingga pertunjukan budaya lainnya.

Baca Juga: Habis Tabrak Truk Dump, Tronton Nabrak Pagar Rumah Warga Batu Karangtengah

Dalam penilaian lomba, panitia menggandeng akademisi dan praktisi seni, di antaranya Prof. Subiyantoro, Bintang Hanggoro, dan Ucik.

Aspek yang dinilai meliputi kekompakan, ekspresi dan penghayatan, kreativitas, serta orisinalitas penampilan.

Panitia juga menyiapkan penghargaan berupa uang pembinaan, sertifikat, dan piala bagi juara 1 hingga 3 dalam beberapa kategori, baik putra, putri, maupun ganda.

Salah satu peserta yang menjadi juara 1 lomba ketapel, Ghania Rizqi Amira dari SDN Petompon 2 mengaku baru pertama mengikuti kejuaraan semacam ini.

Meski kesulitan dan tangan gemetar karena grogi, namun ia senang karena dari pelurunya bisa mengenai target.

"Sudah latihan, lumayan susah tangan gemeter tapi ada yang kena target satu," ujar siswa kelas 4 ini.

Dia berharap ke depan dapat mengikuti kompetisi seperti ini lagi.

Keseruan serupa juga dialami Aqila, siswa dari SDN Sadeng 2. Ia mengaku senang bisa bergabung dalam festival ini.

"Seru sekali. Tadi mainin cublak-cublak suweng, ular naga, sluku-sluku batok," jelasnya.

Ia menyebut permainan tradisional ini dikenalkan oleh gurunya di sekolah. Menurutnya, dengan permainan tradisional ini bisa melatih kekompakan dan kebersamaan.

"Karena mainnya bareng terus tidak individu,melatih kekompakan, biar berteman sama semua orang," tambahnya. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#UNNES #Kampung Budaya