RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di bawah rindangnya pepohonan Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunung Pati tawa dan percakapan dalam berbagai bahasa terdengar bersahutan.
Mahasiswa asing tampak sibuk melukis caping, menanam padi, menangkap ikan, memanen singkong, mengunjungi sendang, dan peternakan.
Bagi Jayla Jill Mierop, suasana itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan selama berada di Indonesia.
Mahasiswi asal Belanda tersebut menjadi satu dari 134 mahasiswa asing dari 28 negara yang mengikuti Second Summer Course pada 6-7 Mei 2026.
“Saya sangat menyukainya karena kami berada di alam, membuat banyak hal kreatif, bertemu orang-orang baik, dan mendapatkan teman baru. Ini pengalaman pertama saya dan saya benar-benar menyukainya,” ujar Jayla saat ditemui di Desa Wisata Kandri, Kamis (7/5/2026).
Hari itu, tangan Jayla tampak telaten menghias caping dengan cat warna-warni. Sesekali ia tertawa bersama peserta lain saat saling menunjukkan hasil lukisan mereka.
Sehari sebelumnya, ia juga mencoba menari tradisional dan mencicipi makanan khas Indonesia.
“Saya suka kegiatan melukis caping ini, sangat kreatif. Kemarin saya juga suka dengan kegiatan menari dan mencoba makanan tradisional,” katanya.
Bagi perempuan berdarah Indonesia-Belanda tersebut, summer course di Semarang bukan sekadar kegiatan akademik.
Program itu justru memberinya pengalaman yang lebih dekat dengan budaya, dan masyarakat Indonesia yang selama ini hanya ia kenal dari cerita keluarga.
“Saya belum pernah sedekat ini dengan orang Indonesia. Selama ini saya hanya tahu budaya Belanda dan sedikit budaya Indonesia dari keluarga. Tapi ternyata sangat berbeda dan saya sangat menyukainya,” ungkapnya.
Jayla mengaku memiliki darah Indonesia dari sang kakek. Sebelum tiba di Semarang, ia sempat mengunjungi Bogor.
Namun, pengalaman tinggal dan beraktivitas bersama masyarakat di Kandri menjadi kesan tersendiri baginya.
Selain melukis caping dan tari tradisional, peserta juga diajak mengikuti berbagai aktivitas budaya lain seperti membatik hingga menangkap ikan. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi