RADARSEMARANG.ID – Pelaksanaan hari pertama Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang sekolah dasar (SD) tahun 2026 resmi dimulai pada Senin, 20 April 2026, menandai dimulainya salah satu agenda penting dalam sistem evaluasi pendidikan nasional.
Ribuan siswa SD di berbagai daerah mengikuti asesmen ini dengan mengerjakan dua mata uji utama, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika. Meski tidak bersifat wajib serta tidak menjadi penentu kelulusan,
TKA tetap memiliki peran strategis sebagai alat ukur kemampuan dasar siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi yang kini menjadi fokus utama kebijakan pendidikan di Indonesia.
Pelaksanaan TKA SD tahun ini mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
Regulasi tersebut menegaskan bahwa asesmen dirancang bukan untuk menekan siswa dengan target kelulusan, melainkan untuk memetakan capaian belajar secara lebih komprehensif.
Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap dapat memperoleh gambaran nyata mengenai kualitas pembelajaran di tingkat dasar, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan sistem pendidikan ke depan.
Pada mata uji Bahasa Indonesia, fokus utama terletak pada kemampuan membaca. Hal ini sejalan dengan berbagai hasil studi nasional maupun internasional yang menunjukkan bahwa literasi membaca menjadi fondasi penting dalam keberhasilan belajar siswa di semua bidang.
Dalam konteks perkembangan teknologi yang semakin pesat, kemampuan memahami teks menjadi kunci agar siswa dapat menyaring informasi secara kritis dan tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang tidak terverifikasi.
Soal Bahasa Indonesia dalam TKA SD dirancang untuk menguji pemahaman siswa terhadap dua jenis teks, yaitu teks informasi dan teks fiksi. Teks informasi biasanya berisi fakta-fakta sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, baik dalam lingkup lokal maupun nasional.
Materi ini mencakup berbagai topik, mulai dari lingkungan sekitar, budaya daerah, hingga fenomena sosial yang mudah dipahami oleh anak usia sekolah dasar. Sementara itu, teks fiksi disajikan dalam bentuk cerita rekaan yang sederhana, bisa berupa kisah fantasi maupun cerita yang terinspirasi dari peristiwa nyata seperti sejarah atau biografi tokoh.
Karakteristik teks yang digunakan dalam soal juga disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa SD. Kosakata yang digunakan umumnya berupa kata dasar dan kata berimbuhan dengan makna yang konkret.
Penggunaan makna konotatif tetap ada, namun dalam batas yang terbatas agar tidak menyulitkan pemahaman siswa. Struktur kalimat pun dibuat sederhana, biasanya terdiri dari tiga hingga tujuh kata dengan pola dasar subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK). Selain itu, teks juga memadukan bahasa tulis dengan sedikit unsur lisan untuk menciptakan nuansa yang lebih dekat dengan keseharian siswa.
Panjang teks yang diujikan berkisar antara 150 hingga 200 kata, kecuali untuk bentuk puisi yang memiliki karakteristik tersendiri. Dalam teks tersebut, penggunaan konjungsi antarparagraf difungsikan untuk menambah atau menjelaskan informasi sehingga siswa dapat memahami hubungan antaride dengan lebih baik.
Melalui pendekatan ini, soal tidak hanya menguji kemampuan membaca secara mekanis, tetapi juga menilai sejauh mana siswa mampu menangkap makna, menarik kesimpulan, serta menghubungkan informasi yang disajikan.
Baca Juga: Bansos April 2026 Mulai Cair, Begini Cara Mudah Cek Keluarga Penerima Manfaat
Sementara itu, pada mata uji Matematika, TKA bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap berbagai konsep dasar yang telah dipelajari selama proses pembelajaran. Asesmen ini tidak hanya berfokus pada kemampuan menghitung, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap fakta, konsep, prinsip, serta prosedur matematika.
Lebih dari itu, siswa juga diuji dalam hal kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan masalah, baik dalam konteks matematika murni maupun situasi sehari-hari.
Materi yang diujikan dalam TKA Matematika mengacu pada kurikulum yang berlaku, baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka.
Cakupan materi meliputi tiga aspek utama, yaitu bilangan, geometri dan pengukuran, serta data. Pada aspek bilangan, siswa diuji kemampuan mereka dalam memahami operasi hitung dasar, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, termasuk penerapannya dalam soal cerita
Aspek geometri dan pengukuran mencakup pemahaman bentuk bangun datar dan ruang, serta kemampuan mengukur panjang, luas, volume, dan waktu. Sedangkan pada aspek data, siswa diuji dalam membaca dan menafsirkan informasi yang disajikan dalam bentuk tabel, diagram, atau grafik sederhana.
Pendekatan soal dalam TKA Matematika dirancang kontekstual, artinya banyak soal yang diambil dari situasi kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, soal yang berkaitan dengan aktivitas di rumah, di sekolah, atau di lingkungan sekitar.
Hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga mampu memahami kegunaan matematika dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah menjadi aspek yang sangat diperhatikan dalam asesmen ini.
Sejumlah praktisi pendidikan menilai bahwa kebijakan TKA yang tidak dijadikan penentu kelulusan merupakan langkah yang tepat. Pendekatan ini dinilai lebih humanis dan memberikan ruang bagi siswa untuk belajar tanpa tekanan berlebihan.
Selain itu, hasil TKA dapat dimanfaatkan oleh guru dan sekolah untuk mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan siswa dalam belajar, sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Di sisi lain, orang tua juga diharapkan dapat melihat TKA sebagai sarana untuk memahami perkembangan akademik anak, bukan sebagai ajang kompetisi semata. Dengan demikian, dukungan yang diberikan kepada anak lebih berfokus pada proses belajar daripada hasil akhir.
Hal ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Pelaksanaan TKA tahun 2026 juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat sistem asesmen nasional yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan pendidikan di Indonesia memang mengalami berbagai perubahan, terutama dalam hal evaluasi pembelajaran.
Pemerintah berupaya menggeser paradigma dari sistem yang berorientasi pada nilai menjadi sistem yang lebih menekankan pada kompetensi dan karakter.
Meski demikian, pelaksanaan TKA tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah kesiapan infrastruktur di masing-masing daerah, terutama bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil.
Selain itu, kesiapan guru dalam memahami dan mengimplementasikan konsep asesmen berbasis kompetensi juga menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan program ini.
Namun, dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga orang tua, TKA diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang optimal bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Asesmen ini bukan sekadar ujian, melainkan bagian dari proses panjang dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang kuat, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Ke depan, hasil dari TKA diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Data yang diperoleh dari asesmen ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan pendidikan antarwilayah, serta merancang program intervensi yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bersifat umum, tetapi juga spesifik dan berbasis data.
Dengan dimulainya pelaksanaan hari pertama TKA SD tahun 2026, harapan besar pun disematkan pada generasi muda Indonesia. Mereka tidak hanya diharapkan mampu meraih hasil yang baik dalam asesmen, tetapi juga memiliki semangat belajar yang tinggi, kemampuan berpikir kritis, serta karakter yang kuat.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi