RADARSEMARANG.ID - Suasana kelas 6B di SDN Wonotingal siang itu tak lagi sunyi. Tak ada wajah tegang menatap lembar soal. Sebaliknya, ruangan dipenuhi suara riuh diskusi, tawa, dan seruan kecil penuh semangat. Di depan kelas, sebuah papan interaktif
digital (PID) menampilkan tampilan menyerupai permainan. Sementara di dalam kelas, murid-murid duduk berkelompok, saling berdebat menentukan jawaban.
Itulah potret pembelajaran numerasi yang dihidupkan oleh guru SDN Wonotingal, Ayu Kusumadiyastuti. Ia yang juga merupakan fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation ini selalu melakukan inovasi pembelajaran dan menularkan praktik baiknya pada siswa dan guru. Kali ini, ia mengubah materi numerasi menjadi petualangan bertajuk “Rumah Monster". Sebuah konsep gamifikasi berbasis platform Genially yang membuat murid belajar sambil bermain.
Ayu sapaan akrabnya pun bercerita, konsep rumah monster ini berawal dari kegelisahan melihat hasil penilaian try out yang justru menurun. Ia pun tak tinggal diam. Ayu mengidentifikasi lima materi yang paling banyak salah, yakni pecahan, bilangan rasional, bangun datar, volume, dan konversi satuan. Dari situlah ide pembelajaran berbasis permainan muncul.
Di kelas, murid dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari lima hingga enam murid dengan kemampuan beragam. Mereka saling interaksi, komunikasi, berdiskusi, bahkan saling mengoreksi.
"Saya bagi kelompok, setiap kelompoknya ada murid yang unggul di pecahan, ada yang unggul dibangun datar, jadi variatif. Harapannya mereka saling membantu temannya yang kurang memahami materi," ungkap Ayu saat ditemui di kelasnya.
Di layar papan interaktif, petualangan dimulai. Rumah pertama adalah rumah penyihir. Murid harus meracik pecahan agar menjadi senilai. Salah sedikit, mereka harus mengulang. Lanjut ke rumah manusia serigala, tempat bilangan rasional menjadi tantangan berikutnya. Suasana makin ramai saat masuk rumah Frankenstein, murid diminta menebak ciri bangun datar melalui potongan panel yang harus disusun.
Di sudut yang berbeda, kelompok lain terlihat serius menghitung volume di rumah mumi. Mereka mencoba membuka peti misterius dengan menghitung isi ruang secara tepat. Sementara di tahap akhir, ada rumah Dracula yang menantang mereka mengonversi satuan, mulai dari berat, panjang, hingga waktu.
Setiap rumah memiliki misi. Setiap misi punya kode. Dan setiap kode membawa mereka selangkah lebih dekat untuk keluar dari permainan.
“Biasanya kalau pakai cara biasa, anak-anak cepat bosan. Tapi kalau seperti ini, dengan gamifikasi, mereka jadi semangat,” ujar Ayu.
Pendekatan ini bukan sekadar permainan. Ayu mengintegrasikan konsep MIKiR (mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi) dari pelatihan Tanoto Foundation. Murid tidak hanya mengerjakan soal, tetapi mengalami langsung proses belajar, berdiskusi dengan teman, hingga merefleksikan hasilnya.
Menurutnya, dengan konsep MIKiR ini anak-anak tidak hanya mendengar. Mereka mengalami sendiri pemecahan masalah. Murid menyentuh soal-soal itu secara langsung lewat game. Mereka pun berteriak, berdebat, lalu tertawa bersama untuk memecahkan soal.
"Saya mengusung konsep MIKiR. Jadi murid ini mengalami, anak-anak harus memecahkan masalah berdasarkan misi di rumahnya yang berisi tantangan," ungkapnya.
Hasilnya terlihat nyata. Murid yang sebelumnya pasif mulai berani berbicara. Mereka yang biasanya terburu-buru, kini lebih teliti karena ingin menyelesaikan tantangan dengan benar.
Salah satu murid, Kirana mengaku baru pertama kali merasakan pembelajaran menggunakan papan interaktif digital. Menurutnya pelajaran matematika yang awalnya sulit pun menjadi lebih mudah dipahami.
“Senang ya kalau pembelajarannya pakai papan interaktif, jadi lebih mudah dipahami, bisa sambil main juga,” katanya.
Hal serupa juga disampaikan Arjuna. Menurutnya belajar pakai permainan ini lebih menarik. "Jadi murid ngerjain soal rasanya seperti main game memecahkan teka-teki," akunya.
"Belajar numerasinya tentang bilangan pecahan, belajar sambil bermain jadi lebih seneng, lebih mudah nangkap pembelajarannya," tambahnya.
Bagi Ayu, numerasi bukan sekadar angka. Namun juga bekal kehidupan. Mulai dari cara berpikir hingga menyelesaikan masalah. Karena itu, pembelajaran harus dekat dengan pengalaman siswa.
Pandangan itu tak lepas dari inspirasinya terhadap sosok Helen Keller. Ayu pun bercerita tentang awal mulanya ia ingin menjadi guru. Cerita itu bermula saat ia duduk dibangku SMP dan membaca biografi Helen Keller.
"Saya membaca biografi Helen Keller. Helen itu buta, tuli, dan bisu dari lahir. Dia tidak mengerti apa-apa. Dunianya gelap dan sunyi. Tapi gurunya, Anne Sullivan, dengan kesabaran luar biasa mengenalkan Helen pada benda-benda di sekitarnya. Air diperkenalkan dengan cara disentuh. Bunga diperkenalkan dengan aroma. Butuh waktu bertahun-tahun, tapi akhirnya Helen bisa mengerti bahwa setiap benda punya nama dan makna," bebernya.
Dari kisah tersebut, Ayu belajar bahwa pemahaman lahir dari pengalaman langsung dan pendampingan yang sabar. Ketelatenan dan kesabaran sang guru dalam membimbing Helen menjadi titik balik pandangannya tentang pendidikan.
"Dari situ saya belajar bahwa pendidikan sejati adalah pengalaman langsung. Guru tidak hanya bicara di depan kelas. Guru harus turun, merangkul, dan membebaskan murid dari kegelapan ketidaktahuan," ujarnya.
Ia lalu mengaitkan pelajaran itu dengan numerasi. Menurutnya saat belajar numerasi, murid juga harus mengalami secara langsung. Seperti pada pembelajaran pada rumah monster. Murid harus mengalami dahulu baru bisa menjawab soal.
"Helen Keller belajar dari lingkungannya. Begitu juga anak-anak, mereka tidak cukup mendengar rumus. Mereka harus mengalami, menyentuh, memecahkan masalah nyata. Seperti di Rumah Mumi tadi, mereka membayangkan diri di dalam piramid, menghitung volume peti yang terendam. Itu pengalaman," jelasnya.
Ayu pun mencoba melakukan hal yang sama. Bedanya kini ia menggunakan papan interaktif digital dan Genially untuk mendukung proses belajar mengajarnya.
"Jadi, apa yang dilakukan Anne Sullivan dulu, saya coba lakukan di kelas ini. Bedanya, saya punya papan pintar dan Genially," imbuhnya.
Menjelang Hari Kartini, sosok Ayu mencerminkan semangat perempuan masa kini. Ia adalah guru, sekaligus ibu dari satu anak, dan seorang istri. Peran ganda itu ia jalani beriringan dan sesuai porsinya masing-masing. Meskipun menjadi guru yang bertugas mendidik siswa, ia tak melupakan tugasnya sebagai ibu dan istri yang juga harus mengutamakan keluarga.
"Perempuan itu sekarang punya berbagai macam peran dan harus berjalan seimbang. Kadang saya juga merasa, aku tuh siapa ya? Guru atau ibu? Tapi sejatinya saya ini Ayu Kusumadiyastuti, dan akan terus menjadi Ayu," katanya.
Kepala SDN Wonotingal Agus Pramono menilai Ayu sebagai sosok inspiratif di lingkungan sekolah. Ia bahkan menyebutnya sebagai role model bagi guru lain.
"Bu Ayu ini sangat inspiratif. Ia merancang pembelajaran tidak hanya menuntun, tapi penuh inovasi. Ia menjadi role model bagi teman-teman guru di sini," ungkapnya.
Agus juga menyoroti semangat para guru perempuan di sekolahnya sebagai Kartini masa kini. Menurutnya guru perempuan sangat istimewa. Mereka bisa menyeimbangkan tugas sebagai pendidik tapi juga tidak melupakan kewajibannya di rumah.
"Saya sangat salut terhadap teman-teman guru perempuan kami. Mereka masih bisa membagi tugas kedinasan dan tugas keluarga. Alhamdulillah semuanya bisa berjalan beriringan," pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi