RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pernah membayangkan sekolah dengan halaman becek setiap hujan, MCK tak terawat, dan semangat belajar yang loyo? Itulah potret SD Negeri Gumalar 02, Adiwerna, Tegal, beberapa tahun lalu. Namun kini, sekolah di pedesaan itu berubah 180 derajat. Bersih, hijau, dan penuh semangat. Semua berkat "Lentera Hati".
Sosok di balik perubahan itu ialah Nur Aripiyah, Kepala SDN Gumalar 02. Nur, sapaan akrabnya, bukan sekadar kepala sekolah biasa. Ia juga menjadi Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation yang berani membawa angin segar dengan pendekatan berbeda, yakni manajemen berbasis hati.
"Saat pertama kali saya hadir di sekolah ini, suasananya begitu memprihatinkan. Terlihat kondisi sekolah yang hampir tak layak digunakan sebagai tempat belajar. Halaman sekolah yang tergenang air saat musim hujan menghalangi kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik. Kondisi bangunan fisik, terutama MCK, jauh dari kata bersih dan sehat," kata Nur Aripiyah.
Ia pun menjelaskan, rapor pendidikan saat itu merah. Literasi dan numerasi jeblok. Suasana sekolah makin tak tertata. Dari kejauhan, SD yang terletak strategis di jantung desa itu tampak makin meredup.
Dari kegelisahan itu, lahirlah strategi yang ia sebut Lentera Hati. Sebuah akronim dari Leadership, Empati, Niat, Tanggung Jawab, Relasi, dan Amanah. Semua bermuara dari hati.
"Saya belajar bahwa perubahan sejati tidak lahir dari kebijakan atau instruksi, melainkan dari hati yang tergerak oleh ketulusan. Penerapan strategi Lentera Hati membawa perubahan nyata dalam semangat belajar dan prestasi peserta didik di SD Negeri Gumalar 02," ujarnya.
Ia pun mulai membangun tim. Para guru diajak bicara dari hati ke hati. Mereka tak lagi diposisikan sebagai bawahan, tetapi mitra. Semangat itu menular. Kolaborasi pun dimulai.
Langkah pertama, Nur mengajak komite sekolah dan orang tua ikut terlibat. Ia tak ingin perubahan cuma terjadi di dalam kelas. Karena itu, kolaborasi dengan orang tua menjadi kunci kesuksesan Lentera Hati.
"Mereka (orang tua) adalah mitra yang siap berkolaborasi kapan pun demi terwujudnya visi dan misi sekolah," ungkapnya.
Hasilnya pun luar biasa. Orang tua bergotong royong menjadikan sekolah lebih hidup. Mereka bekerja sama membuat pojok baca di tiap kelas. Ada yang membawa buku bekas, ada yang menyumbang rak kayu, bahkan ikut mengecat.
Tak berhenti di situ. Lewat Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), guru, siswa, dan wali murid bahu-membahu menata taman kelas. Taman ini dibuat dari barang bekas seperti botol plastik dan ban. Selain mempercantik sekolah, kegiatan ini juga menanamkan nilai kepedulian lingkungan kepada siswa.
Keterlibatan orang tua diperkuat lewat program parenting "Permata Rezeki". Forum ini menjadi ruang bertemu antara guru dan wali murid dalam suasana spiritual dan motivatif. Melalui program ini, orang tua diajak memahami peran penting mereka dalam membentuk karakter dan mendampingi anak, menata hati, serta memperkuat nilai-nilai religius dalam keluarga.
"Program ini menjadi permata berharga yang menumbuhkan hubungan harmonis antara sekolah dan rumah," tegasnya.
Kolaborasi juga dilakukan dengan komite sekolah dan pemerintah desa. Hasilnya, pembangunan pagar sekolah untuk meningkatkan keamanan, pengurugan halaman agar tak lagi tergenang, hingga hadirnya panggung literasi sebagai ruang ekspresi siswa.
Perlahan, wajah sekolah berubah. Lingkungan lebih bersih, nyaman, dan hidup. Semangat belajar siswa meningkat, diikuti capaian literasi dan numerasi yang kini naik dari kategori cukup menjadi baik.
"Penerapan strategi Lentera Hati memberi pengalaman berharga bagi seluruh warga sekolah. Saya belajar bahwa perubahan sejati tidak lahir dari kebijakan atau instruksi, melainkan dari hati yang tergerak oleh ketulusan," tegasnya.
Tak butuh waktu lama, perubahan positif mulai terlihat. Rapor pendidikan SDN Gumalar 02 meningkat. Literasi dan numerasi yang sempat "di bawah" kini naik menjadi kategori baik.
"Penerapan strategi Lentera Hati membawa perubahan nyata dalam semangat belajar dan prestasi peserta didik di SD Negeri Gumalar 02. Untuk literasi dan numerasi, meningkat dari kategori cukup menjadi baik," akunya.
Semangat guru juga bangkit. Suasana kelas yang semula pasif menjadi aktif. Anak-anak antusias ke sekolah. Keamanan sekolah yang dulu perlu diwaspadai, kini lebih kondusif.
Kini, SD Negeri Gumalar 02 kembali menjadi kebanggaan masyarakat. Dari sebuah sekolah di pedesaan yang sempat redup, cahaya Lentera Hati berhasil menyalakan harapan baru.
"Ketika hati menjadi lentera, setiap langkah kecil akan menerangi jalan perubahan. Dari SD Gumalar 02, cahaya itu telah menyala dan semoga terus menebar keberkahan bagi dunia pendidikan," pungkas Nur. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi